Hyunjin, 21 tahun, memiliki dua dunia yang berbeda. Di kampus, ia adalah mahasiswi biasa, tekun belajar meski jadwalnya padat karena ia juga seorang penari profesional.
Nama Hyunjin cukup dikenal di kalangan pencinta tari tradisional di desanya, prestasinya membanggakan meski usianya masih muda. Namun, di kota besar tempat ia kuliah, ia hanyalah satu dari sekian banyak mahasiswa.
Suatu malam, setelah lelah berlatih tari hingga larut, Hyunjin berjalan pulang kampus. Jalanan masih ramai, tapi suasana mulai terasa sunyi di sudut-sudut gelap. Di sebuah gang sempit, ia melihatnya—sebuah peristiwa mengerikan. Seorang pria terkapar bersimbah darah, sementara seorang lainnya, wajahnya tertutup bayangan, sedang melarikan diri.
Hyunjin membeku sejenak, jantungnya berdebar kencang. Ia mengamati sebentar, memastikan bahwa pelaku sudah benar-benar pergi sebelum akhirnya berlari menjauh, takut dan gemetar.
Ia sampai di apartemennya, tubuhnya masih gemetar. Bayangan kejadian itu terus menghantuinya. Ia mencoba menenangkan diri, fokus pada latihan tari untuk mengalihkan pikirannya. Namun, ia tak menyadari bahwa bayangan lain telah mengikutinya.
Pelaku pembunuhan itu, seorang pria berbadan tegap dengan mata tajam, diam-diam telah mengikuti Hyunjin. Ia menyaksikan Hyunjin masuk ke apartemennya, dan dengan rasa penasaran yang membuncah, ia mengamati Hyunjin dari balik jendela apartemen di seberang.
Ia melihat Hyunjin yang sedang berlatih tari, gerak tubuhnya yang anggun dan kuat, ekspresi wajahnya yang begitu fokus. Bukan rasa bersalah atau penyesalan yang ia rasakan, melainkan ketertarikan yang aneh dan mendalam.
Keanggunan Hyunjin di tengah kepanikannya tadi, kontras yang memikat. Setelah beberapa saat mengamati, ia pergi, tetapi bukan dengan niat jahat. Ia meninggalkan Hyunjin dengan rasa ingin tahu yang membara, tertarik pada sosok gadis muda yang telah secara tak sengaja menjadi saksi bisu kejahatannya.
Kehidupan Hyunjin, yang tadinya hanya tentang tari dan kuliah, kini telah terusik oleh bayangan gelap dan sebuah misteri yang tak terduga. Misteri yang melibatkan seorang pembunuh yang terpesona olehnya.
||Keesokan harinya||
Hari berikutnya di kampus terasa normal, setidaknya di permukaan. Hyunjin masih sibuk dengan latihan tari dan kuliahnya, mencoba melupakan kejadian mengerikan malam sebelumnya. Ia mendengar kabar akan ada mahasiswa baru, tapi jujur saja, ia tidak terlalu tertarik. Dunianya saat ini dipenuhi dengan gerakan-gerakan tari, not-not musik, dan buku-buku teks.
Namun, takdir punya rencana lain. Saat ia berjalan menuju perpustakaan, ia melihatnya. Seorang pria tinggi, berpenampilan rapi, dengan mata yang—Hyunjin yakin—sama dengan mata yang dilihatnya di gang sempit tadi malam. Pria itu tampak mengamati Hyunjin dengan intens, tatapannya begitu tajam dan—mengerikan. Hyunjin mencoba mengabaikannya, mempercepat langkahnya.
Tapi pria itu menghentikannya. "Permisi," katanya, suaranya lembut dan dalam,
"Namaku Mingi. Aku mahasiswa baru di sini. Kau… aku rasa kita pernah bertemu?"
Hyunjin ragu-ragu. Ia mencoba mengingat wajah pria ini, dan ya, itu dia. Pelaku pembunuhan tadi malam. Ia merasakan bulu kuduknya merinding. Namun, ia memaksa dirinya untuk tenang.
"Hyunjin," jawabnya, suaranya sedikit gemetar. "Aku… aku merasa kita belum pernah bertemu."
Mingi tersenyum tipis, sebuah senyum yang terasa dingin di mata Hyunjin. Ia mengulurkan tangannya. "Senang bertemu denganmu, Hyunjin."
KAMU SEDANG MEMBACA
hyunjin harem
Fanfictiontentang hyunjin dan para haremnya VOTE WOIIII😋😋😋😋🙏🙏🙏🙏🙏🏻😀😀😀🫣🫣🍑🍑🥰😍😍😭😭😭😭 Maaf weeee sering ilang hehe Random ae Malas ngetik Update kalo udh ada 35 mata Dan klo udh 10 vote Update klo ide lancar Ak ngetik pakai AI Udh tau kan g...
