Sam or Hyunjin??

407 15 1
                                        

Satu menit yang lalu, Sam masih asyik merancang strategi pemasaran baru untuk aplikasi terbarunya, "SmartHome,"  di kantornya yang mewah.  Aplikasi yang ia ciptakan sendiri itu telah membuatnya sukses besar,  membuatnya hidup mapan di usia 25 tahun. 

Anak yatim piatu yang berjuang keras sejak kecil, Sam telah membuktikan bahwa kerja keras dan kegigihan bisa mengubah segalanya.  Lalu, dunia berputar, dan ia terbangun di kamar yang sempit dan sederhana.  Di cermin, wajah asing menatapnya:  wajah Hyunjin, pemuda 20 tahun yang kini menjadi dirinya.

"Apa ini?" gumam Sam, suara yang terdengar lebih tinggi dan lebih muda dari biasanya. 

Ia merasakan tubuh yang lebih kecil dan lebih lemah.  Ingatan Hyunjin, pemilik tubuh ini, perlahan mengalir kembali. 

Hyunjin,  juga anak yatim piatu,  hidup sendiri setelah orang tuanya meninggal dalam kecelakaan tragis.  Ia kuliah sambil bekerja paruh waktu di sebuah kafe kecil untuk membiayai hidupnya.

Sam mencoba mengingat detail kehidupan Hyunjin.  Ia menemukan jadwal kuliah yang padat,  beban tugas yang menumpuk, dan pekerjaan di kafe yang menuntut ketahanan fisik. 

"Ini... jauh berbeda dari kehidupanku," batin Sam.  Kehidupan yang dulu ia jalani,  dengan asisten pribadi,  mobil mewah, dan rumah yang nyaman,  terasa seperti mimpi.

Keesokan harinya, Sam—dalam tubuh Hyunjin—harus kuliah.  Ia mengikuti kelas dengan canggung.  Mata kuliahnya,  meski mudah baginya,  membutuhkan adaptasi dengan gaya belajar Hyunjin yang lebih pasif.  Setelah kuliah,  ia bergegas ke kafe tempat Hyunjin bekerja.

"Hyunjin, kau terlambat lagi!"  teriak seorang wanita paruh baya, pemilik kafe.  Namanya Bu Hana.

"Maaf, Bu Hana," jawab Sam,  suaranya masih terdengar sedikit aneh baginya sendiri.  "Ada sedikit masalah tadi pagi."

Bu Hana menatapnya curiga. "Kau terlihat berbeda, Hyunjin.  Ada apa?"

"Tidak apa-apa, Bu.  Hanya sedikit lelah," jawab Sam,  mencoba bersikap sebisa mungkin seperti Hyunjin.

Sepanjang hari, Sam berjuang untuk menyesuaikan diri.  Tubuhnya lelah,  tetapi ia berhasil menyelesaikan pekerjaannya.  Di malam hari,  ia duduk di meja belajar Hyunjin,  melihat tumpukan buku dan catatan. 

Ia membuka laptop Hyunjin dan menemukan beberapa kode program yang sederhana.  "Hyunjin punya bakat di bidang ini," pikir Sam.

"Aku harus membantu Hyunjin," gumamnya.  Ia memutuskan untuk menggunakan keahliannya untuk meningkatkan kehidupan Hyunjin. 

Ia mulai merancang aplikasi sederhana untuk membantu manajemen kafe Bu Hana,  dan juga membuat sistem belajar online untuk dirinya sendiri.

Beberapa hari kemudian,  Sam memperlihatkan aplikasi buatannya kepada Bu Hana.  "Bu, ini aplikasi untuk membantu mengelola pesanan dan stok di kafe," kata Sam.

Bu Hana tercengang.  "Hyunjin, kau… kau membuatnya sendiri?"

"Ya, Bu," jawab Sam,  tersenyum.

Bu Hana memeluknya.  "Terima kasih, Hyunjin.  Kau menyelamatkan kafeku!"

Kehidupan Sam sebagai Hyunjin masih panjang.  Tantangan masih banyak,  tetapi ia tak sendiri.  Ia punya Bu Hana,  dan mungkin,  teman-teman Hyunjin yang akan ia temui. 

Ia akan menjalani hidup ini,  bukan sebagai Sam yang kaya raya,  tetapi sebagai Hyunjin yang berusaha keras untuk meraih kebahagiaan,  dengan cara yang berbeda.






|| Sebuah Kehidupan yang Berbeda||

Dunia berputar, lalu berhenti.  Satu menit Sam masih bergelut dengan laporan keuangan perusahaan rintisannya, "Samudra Teknologi," yang sukses—buah dari jerih payah lima tahun terakhirnya—dan menit berikutnya ia terbangun di sebuah kamar yang asing. 

Kamarnya sederhana, rapi, tapi terasa… muda.  Cermin menunjukkan wajah yang bukan miliknya: rambut hitam sedikit berantakan, kulit pucat, dan mata yang lebih gelap dari yang biasa ia miliki.  Ia, Sam, berusia 25 tahun,  berada di tubuh Hyunjin, pemuda 20 tahun yang hidupnya berbanding terbalik dengannya.

Sebelum transmigrasi, Sam adalah seorang yang luar biasa.  Anak yatim piatu sejak usia 10 tahun, ia hidup mandiri dengan gigih.  Setelah lulus SMA dengan beasiswa penuh, ia langsung bekerja paruh waktu sambil kuliah di jurusan Teknik Informatika.  Kemampuannya dalam pemrograman dan analisis data membuatnya cepat dilirik perusahaan-perusahaan teknologi besar.  Namun, Sam memilih jalannya sendiri.  Ia lebih tertarik untuk menciptakan sesuatu yang baru, sesuatu yang berdampak besar.

Dengan modal tabungannya yang sedikit dan pinjaman dari koperasi kampus, ia mendirikan "Samudra Teknologi."  Perusahaan rintisan ini bergerak di bidang pengembangan aplikasi mobile.  Ide-idenya yang inovatif dan kemampuannya dalam memimpin tim membuat perusahaannya berkembang pesat. 

Dalam waktu singkat, "Samudra Teknologi" berhasil menciptakan beberapa aplikasi yang populer dan menghasilkan keuntungan yang signifikan.  Sam, yang dulu hidup serba kekurangan, kini menjadi seorang CEO muda yang sukses dan mapan.  Ia memiliki apartemen mewah di pusat kota, mobil sport, dan rekening bank yang berisi angka fantastis.  Namun, kesuksesan itu tak lantas membuatnya melupakan masa lalunya yang sulit.  Ia selalu menyisihkan sebagian keuntungannya untuk membantu anak-anak yatim piatu lainnya.

Berbeda dengan Sam, Hyunjin, dari apa yang Sam ketahui dari ingatan yang perlahan kembali, adalah pemuda yang hidup sendiri setelah orang tuanya meninggal dalam kecelakaan.  Hyunjin bekerja paruh waktu di sebuah kafe untuk membiayai kuliahnya.  Hidupnya serba kekurangan, jauh dari kemudahan yang Sam nikmati sebelumnya.

Perbedaan usia lima tahun terasa signifikan.  Tubuh Hyunjin lebih kecil dan lebih lemah daripada tubuh Sam.  Ia merasa aneh dengan rutinitas Hyunjin yang padat: kuliah di pagi hari, bekerja di kafe siang hingga sore, dan kemudian belajar lagi di malam hari.  Sam, yang terbiasa mengatur waktu dengan efisien dan memiliki asisten pribadi, merasa terbebani.  Namun, ia menyadari bahwa ia harus beradaptasi.  Ia tidak bisa hanya berdiam diri dan berharap kembali ke dunianya sendiri.

Ingatan Hyunjin tentang keluarganya masih samar, tetapi rasa kehilangan yang mendalam terpatri jelas.  Sam mencoba memahami kesedihan Hyunjin,  merasa empati dengan beban hidup yang dipikul pemuda itu.  Ia tidak bisa menghapus rasa kehilangan Hyunjin, tetapi ia bisa mencoba untuk mengisi kekosongan itu dengan cara yang berbeda.  Kehidupan Sam sebagai Hyunjin,  sebuah kehidupan yang berbanding terbalik dengan kehidupan sebelumnya,  baru saja dimulai.








Lanjut ap ngk ni??

hyunjin haremTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang