---
Tahun 2025, musim semi. Hyunjin berdiri mematung di bandara Heathrow, matanya mengikuti langkah-langkah lelaki tinggi berjaket hitam yang baru saja turun dari pesawat. Jeno. Kakak tirinya. Baru pertama kali bertemu, tapi tatapan Jeno sudah membuatnya tak nyaman—terlalu lama, terlalu dalam.
Mereka bertemu saat pernikahan ibu Hyunjin dan ayah Jeno di London. Suasana seharusnya hangat, tapi entah mengapa Hyunjin merasa ada kabut dingin yang menggantung tiap kali Jeno muncul.
"Hyunjin, kan?"
Suara itu berat, nyaris seperti gumaman. Jeno berdiri dekat, terlalu dekat. Hyunjin mengangguk kaku.
"Lucu juga. Kau lebih mirip anak Inggris daripada aku."
Candaan ringan, tapi senyum Jeno tidak sampai ke matanya.
Setelah pesta pernikahan usai, keluarga kecil itu pindah ke Seoul. Ayah Jeno punya proyek besar di sana. Mereka tinggal serumah, sebuah rumah modern di kawasan Gangnam yang sunyi di malam hari.
Beberapa minggu pertama terasa biasa saja, tapi Hyunjin mulai memperhatikan hal-hal aneh. Jeno sering muncul tanpa suara di kamarnya. Kadang saat Hyunjin tertidur, ia bangun dan mendapati kursi di sudut kamarnya berpindah tempat. Sekali, ia bahkan merasa Jeno menyentuh rambutnya saat ia pura-pura tidur.
"Kenapa kau terus melihatku begitu?" tanya Hyunjin suatu malam saat mereka makan malam berdua. Orang tua mereka sedang di luar kota.
Jeno tersenyum kecil. "Karena kau... menarik. Tenang. Seperti sesuatu yang harus kujaga."
Hyunjin menggenggam sendoknya erat. Ada nada milik dalam suara Jeno. Sesuatu yang melampaui sekadar kekaguman kakak pada adik.
Waktu berlalu, dan obsesi Jeno semakin tak terbendung. Ia mulai membatasi Hyunjin, menanyakan dengan siapa ia pergi, kapan ia pulang, bahkan pernah muncul di depan kampus hanya untuk "menjemput."
"Aku cuma khawatir," katanya. "Korea kota yang besar, Hyunjin. Kau bisa hilang begitu saja."
"Aku bukan anak kecil, Jeno."
"Tapi kau milikku."
Perkataan itu keluar begitu saja, lirih tapi tajam. Hening yang mengikuti terasa memekakkan telinga.
Malam itu, Hyunjin mengunci pintunya. Ia mulai menjauh. Tapi semakin ia menjauh, semakin keras Jeno menariknya. Satu malam, Hyunjin memutuskan untuk kabur. Ia menginap di rumah temannya, tidak memberi kabar.
Pagi harinya, ia mendapat pesan.
"Jangan buat aku jadi orang jahat, Hyunjin. Aku cuma ingin kau tetap di sisiku."
Rasa dingin merambat dari ujung jemari sampai ke dada. Hyunjin tahu, ini bukan cinta. Ini obsesi yang tumbuh dari kesepian, dari luka yang tak sempat sembuh.
Cerita mereka bukan tentang persaudaraan atau pertemuan kembali. Ini tentang bayang-bayang yang terlalu lekat hingga sulit dibedakan mana perhatian, mana penguasaan.
Dan di balik senyuman lembut Jeno, tersembunyi rahasia yang bahkan Hyunjin belum siap untuk tahu.
---
---
Bayang-Bayang Hyunjin (Bagian 2)
Hyunjin tidak tidur malam itu. Ia berbaring di atas sofa rumah temannya, menatap langit-langit, sementara pesan dari Jeno terus muncul di pikirannya—kata-kata itu seperti racun perlahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
hyunjin harem
Fanfictiontentang hyunjin dan para haremnya Konsumsi pribadi Klo ngak suka ya udh terserah Vote aja klo mau Maaf weeee sering ilang hehe Random ae Malas ngetik Update kalo udh ada 35 mata Dan klo udh 10 vote Update klo ide lancar Ak ngetik pakai AI Udh tau...
