Heeseung

195 6 0
                                        

Tempat itu jauh dari kota.
Hanya ada hutan pinus tinggi, udara dingin, dan sebuah rumah kayu tua yang seperti menahan napas. Malam turun perlahan, menyisakan suara jangkrik dan desir angin menusuk telinga.

Hyunjin berdiri di beranda rumah itu, hoodie hitamnya tertiup angin. Tatapannya kosong, seperti selalu—tenang, cuek, tidak menunjukkan satu pun perasaan yang tepat.

Ia datang ke tempat ini untuk menghilang sejenak.
Atau mungkin… melarikan diri.

Tapi ia tidak sendirian.

Di belakangnya, pintu kayu berderit pelan.
Seseorang keluar.

Langkah kaki itu terlalu pelan, terlalu terukur…
dan terlalu tenang untuk disebut manusia biasa.

“Heeseung.” Hyunjin tidak menoleh.

Laki-laki itu tersenyum kecil dan menutup pintu di belakangnya. Sorot matanya tajam, berbahaya, seperti binatang yang sedang mengamati mangsanya.

“Kamu selalu tahu kalau aku datang,” katanya, suaranya rendah dan lembut—terlalu lembut untuk sosok semengerikan dirinya.

Hyunjin mengangkat bahu. “Kamu berisik.”

Heeseung tertawa pelan. “Padahal aku bahkan tidak membuat suara.”

Ia mendekat… perlahan.
Setiap langkah seperti dihitung, seperti ia sedang menahan sesuatu di dalam dirinya.

Hyunjin tidak bergerak, membiarkan Heeseung berdiri di belakangnya.
Hembusan napas hangat terasa di lehernya.

“Kau kabur tanpa pamit,” gumam Heeseung, suaranya berubah lebih gelap.

“Bukan kabur.”

“Aku tidak suka ditinggalkan, Jinnie.”

Hening merangkak naik di antara mereka.

Hyunjin akhirnya bicara, tanpa menoleh, suaranya datar seperti biasa.
“Kita tidak punya hubungan. Kau cuma… mengikuti aku.”

Heeseung tersenyum.
Senyum itu tidak manusiawi.

“Kalau begitu,” katanya, jemari dingin menyentuh sisi leher Hyunjin, “aku akan membuat hubungan itu ada.”

Hyunjin menggenggam pagar beranda lebih erat.
Bukan karena takut—Hyunjin jarang sekali merasa takut—tapi karena aura gelap Heeseung selalu berhasil menembus ketenangannya.

“Kenapa kamu ke sini?” Hyunjin bertanya.

“Untuk menjemputmu pulang.”
Nada Heeseung lembut… tapi kata-katanya seperti ancaman.

“Aku nggak butuh dijemput.”

“Tapi aku butuh kamu.”

Hyunjin memutar mata. “Aku cuma mau tenang sebentar.”

Heeseung mendekat lebih jauh, suaranya pelan tepat di telinga Hyunjin.

“Hyunjin… kamu itu tenang hanya kalau aku ada. Kamu belum sadar saja.”

Hyunjin akhirnya menoleh sedikit—dan Heeseung menangkap gerakan kecil itu seperti kemenangan.

Mata mereka bertemu.

Dan seketika… udara berubah.

Heeseung menatap Hyunjin seolah ia satu-satunya hal berharga di dunia. Ada obsesi gelap di balik ekspresi itu. Bukan cinta. Bukan sayang.

Lebih dalam.
Lebih gelap.
Lebih berbahaya.

Hyunjin tahu Heeseung berbahaya. Tapi entah kenapa, ia tidak pernah benar-benar menolak kedekatan itu.

hyunjin haremTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang