Malam itu, setelah jadwal selesai, Hyunjin berbaring di ranjang dengan ponsel di tangan. Lampu kamar sengaja diredupkan. Tangannya ragu menekan layar, tapi pikirannya tak bisa berhenti memikirkan pria itu.
Samuel Rothschild.
CEO muda, pewaris perusahaan besar, dikenal dingin dan karismatik di dunia bisnis.
Hyunjin membuka browser, mengetik nama itu di kolom pencarian.
Deretan artikel segera muncul: berita ekonomi, foto di konferensi, wawancara majalah internasional. Semuanya menampilkan sosok Samuel yang berwibawa, berkelas, dan nyaris sempurna.
Tapi… ada juga foto candid: Samuel tersenyum tipis di sebuah acara amal, atau menatap sesuatu dengan penuh fokus. Hyunjin mendapati dirinya menatap layar lebih lama dari seharusnya.
> “Kenapa aku ingin tahu lebih banyak… tentangnya?”
---
Dua hari kemudian, Hyunjin menghadiri gala dinner eksklusif yang diadakan salah satu brand internasional. Ia datang sebagai tamu kehormatan sekaligus model. Gedung hotel mewah itu dipenuhi cahaya kristal, musik lembut mengalun, para tamu berpakaian formal saling berbincang dengan anggur di tangan.
Hyunjin berdiri di sudut ruangan, mengenakan setelan hitam elegan dengan dasi tipis. Aura idol sekaligus model membuat banyak orang menoleh padanya. Namun matanya justru mencari… seseorang.
Dan benar saja—Samuel ada di sana.
Dengan jas abu-abu gelap, berdiri di tengah lingkaran pebisnis. Tatapannya tajam, tubuhnya menjulang tinggi, auranya begitu berbeda.
Seakan merasakan tatapan Hyunjin, Samuel menoleh. Mata mereka bertemu di antara keramaian. Samuel tersenyum samar, lalu perlahan melangkah ke arahnya.
---
“Hyunjin-ssi.” Samuel menyapanya, suara rendahnya tenggelam di antara musik klasik.
Hyunjin menunduk sopan. “CEO-nim. Tidak menyangka Anda ada di sini.”
Samuel menatapnya sejenak, lalu tersenyum kecil. “Aku juga tidak menyangka… tapi rupanya takdir selalu memberi kita kesempatan untuk bertemu.”
Hyunjin menahan napas. Kata-kata itu diucapkan ringan, tapi rasanya terlalu pribadi.
Seorang pelayan datang, menawarkan minuman. Samuel mengambil dua gelas wine, lalu menyodorkan satu kepada Hyunjin.
“Untuk malam yang indah,” katanya, suaranya dalam.
Hyunjin menerima gelas itu, ujung jari mereka bersentuhan sebentar. Lagi-lagi, jantungnya berdegup lebih cepat.
---
Tak lama kemudian, mereka dipersilakan duduk di meja yang sama dengan beberapa tamu penting. Namun entah bagaimana, percakapan mengalir hanya di antara mereka berdua.
Samuel mencondongkan tubuh sedikit. “Aku dengar kau lebih suka wine putih daripada merah. Benarkah?”
Hyunjin menoleh cepat. “Anda tahu…?”
Samuel mengangguk tenang. “Aku pernah membaca wawancaramu dua tahun lalu. Kau menyebutkan itu sambil bercanda.”
Hyunjin terdiam. Ia bahkan hampir lupa pernah mengatakan hal itu.
Samuel, sebaliknya, mengingat detail kecil seperti itu.
“Dan,” lanjut Samuel, “kau punya kebiasaan menggulir ponsel sebelum tidur, meski jadwalmu padat. Itu tidak baik untuk matamu.”
Hyunjin membeku. Tidak ada di wawancara, tidak ada di media, hanya orang-orang terdekat yang tahu.
Bagaimana bisa Samuel mengetahuinya?
---
Hyunjin tersenyum samar, mencoba menutupi kegelisahannya. “CEO-nim… sepertinya Anda terlalu sering memperhatikanku.”
KAMU SEDANG MEMBACA
hyunjin harem
Fanfictiontentang hyunjin dan para haremnya Random ae Malas ngetik Update kalo udh ada 35 mata Dan klo udh 10 vote Update klo ide lancar Ak ngetik pakai AI Udh tau kan gimana hasilnya nnti Klo ngk nyambung salah AI nya hehe🤭🤭😋🙏🙏🙏
