Nojimin

212 8 0
                                        

Suasana ruang tamu keluarga Hwang sore itu terasa tegang. Udara dari pendingin ruangan terasa dingin, tapi bukan itu yang membuat suasananya kaku—melainkan dua sosok yang duduk berhadapan dengan wajah sama-sama keras: Lee Jeno dan Lee Demian.

Mereka saudara kembar, tapi sama sekali tidak terlihat identik.
Jeno berambut hitam pekat, gaya formal, rapi, dan selalu bicara dengan nada terukur.
Sementara Demian — rambutnya agak panjang dan dicat coklat muda, tampil lebih santai tapi sorot matanya tajam, seolah siap menantang siapa pun.

Di antara mereka, duduk Ayah dan Ibu Lee, mencoba menjaga ekspresi netral.

“Aku nggak setuju, appa,” suara Demian akhirnya memecah keheningan.

“Aku tahu awalnya kalian menjodohkan Hyunjin dengan Jeno, tapi aku juga punya hak yang sama. Kenapa cuma dia yang dapat kesempatan?”

Jeno menatap saudaranya dingin. “Karena perjodohan ini urusan keluarga, bukan ajang rebutan, Demian.”

“Oh iya?” Demian mencondongkan tubuh ke depan. “Lucu, ya. Soalnya seingatku, Hyunjin itu bukan barang keluarga. Dia manusia. Dan aku punya perasaan juga.”

Wajah Jeno menegang. “Kau—”

“Cukup!” seru Ayah mereka tiba-tiba, menatap keduanya tajam.
Kedua anak itu langsung diam.

Sang Ayah menarik napas berat, lalu berkata dengan nada yang tak bisa dibantah.

“Kalau kalian berdua mau bersaing, silakan. Tapi bukan dengan cara saling menjatuhkan. Kami tidak akan pilih salah satu. Mulai sekarang, kalian berdua resmi dijodohkan dengan Hwang Hyunjin.”

Suasana langsung membeku.
Jeno dan Demian menatap ayah mereka hampir bersamaan.

“Dua-duanya?”
“Sekaligus?” tanya mereka berbarengan.

Ibu mereka tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana.
“Ya. Anggap saja ini… kesempatan adil. Hyunjin yang akan menentukan sendiri siapa yang ia inginkan nanti.”

Demian tersenyum miring, tatapannya langsung berpindah ke Jeno.
“Berarti ini pertandingan terbuka, ya?”

Jeno menatap balik dengan tatapan tenang tapi berbahaya. “Selama kau siap kalah.”

Ketegangan itu nyaris bisa dirasakan di udara.
Tapi sebelum mereka lanjut saling sindir, Ibu mereka berdeham pelan.

“Kalian akan ke rumah keluarga Hwang besok. Bicarakan ini baik-baik dengan orang tuanya, ya? Dan tolong… jangan bikin masalah di sana.”

Kedua kembar itu hanya diam, tapi sama-sama tahu — pertempuran mereka baru saja dimulai.



---


Keesokan harinya, rumah keluarga Hwang tampak ramai.
Keluarga Lee datang dengan mobil hitam mengilap, membawa suasana formal dan elegan.
Hyunjin masih di LA, jadi hanya orang tuanya yang menerima tamu.

Ayah Hyunjin menatap bingung ketika mendengar penjelasan mereka.
“Maaf, maksud kalian… Hyunjin dijodohkan dengan dua orang sekaligus?”

Ayah Lee mengangguk pelan. “Kami tahu ini tidak biasa, tapi… kedua anak kami sama-sama ingin serius dengan Hyunjin. Kami pikir, biarkan waktu dan hati yang menentukan.”

Ibu Hyunjin menatap antara Jeno dan Demian bergantian — keduanya memang tampan, berwibawa, dan sama-sama menatap penuh keyakinan.

“Hyunjin masih di LA,” ujar sang ibu lembut. “Dia bahkan belum tahu soal ini. Tapi… kami akan mempertimbangkan, asalkan kalian tidak membuatnya tertekan.”

hyunjin haremTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang