Rumah besar itu berdiri sunyi di balik gerbang besi hitam, dikelilingi pohon-pohon tinggi yang membuatnya tampak seperti tempat yang tak ingin ditemukan siapa pun.
Di balik jendela kaca besar lantai dua, Na Jaemin berdiri sambil memegang secangkir kopi dingin yang sudah lama tak disentuh. Matanya kosong… sampai sesuatu—atau seseorang—mencuri perhatiannya.
Di sisi jalan, seorang remaja berhenti untuk mengikat tali sepatunya.
Rambutnya coklat lembut, kulitnya cerah, gerakannya ringan dan lugu.
Dia terlihat seperti seseorang yang tidak seharusnya berada di dunia sekeras ini.
Jaemin menatap lama, terlalu lama.
> “Cantik...”
Satu kata itu keluar begitu saja.
Bukan dengan nada kekaguman normal.
Ada sesuatu yang… menakutkan di balik cara dia mengucapkannya.
Jaemin adalah dokter bedah plastik terkenal—jenius… sekaligus obsesif.
Baginya, kecantikan bukan sekedar anugerah, tapi sesuatu yang harus dimiliki, dipelajari, dikendalikan.
Dan Hyunjin—remaja ceria yang bahkan tidak tahu sedang diperhatikan—adalah definisi sempurna dari apa yang selalu Jaemin kejar: keindahan yang belum tersentuh dunia.
---
Malam itu, ketika hujan turun pelan, Jaemin duduk di kursinya dan memutar pulpen di antara jarinya.
Tatapannya gelap, bernapas pelan, seolah sedang menahan sesuatu.
> “Aku tidak bisa berhenti memikirkan dia.”
Satu dari asistennya—pria tinggi dengan wajah datar—berdiri di depannya menunggu perintah.
Jaemin akhirnya meletakkan pena.
> “Bawa dia ke sini.”
Asisten itu menatap, memastikan ia mendengar benar.
> “Maksud Anda… pemuda yang tadi lewat?”
Jaemin tersenyum kecil.
Senyuman yang tidak hangat—tapi tenang, dingin, dan berbahaya.
> “Ya. Yang itu.”
“Aku ingin melihat wajahnya dari dekat.”
Tak ada yang berani membantah.
Perintah Jaemin selalu dilakukan, tidak peduli seaneh apa pun alasannya.
---
Beberapa jam kemudian—
Di dalam ruang besar bernuansa putih dan kaca, lampu operasi menyala remang.
Dan di tengah ruangan…
Hyunjin terbaring di ranjang stainless, masih tidak sadar.
Tubuhnya tidak terluka, hanya terbius—namun pemandangan itu cukup membuat siapa pun yang melihatnya merasa tidak nyaman.
Jaemin melangkah mendekat perlahan.
Tatapannya tidak penuh kekerasan, tidak marah, tidak kejam.
Justru sebaliknya:
Ia menatap Hyunjin seperti menatap lukisan paling indah yang akhirnya ditemukan setelah bertahun-tahun mencari.
Perlahan, Jaemin menyentuh ujung rambut Hyunjin.
> “Tenang… Kau aman di sini.”
Ia menyeringai kecil.
> “Mulai sekarang… kau milikku.”
---
Hening.
KAMU SEDANG MEMBACA
hyunjin harem
Fanfictiontentang hyunjin dan para haremnya Random ae Malas ngetik Update kalo udh ada 35 mata Dan klo udh 10 vote Update klo ide lancar Ak ngetik pakai AI Udh tau kan gimana hasilnya nnti Klo ngk nyambung salah AI nya hehe🤭🤭😋🙏🙏🙏
