Suara musik memantul di ruang latihan lantai tiga gedung agensi. Para trainee lain mulai pulang, satu per satu, sampai akhirnya hanya Hyunjin yang tersisa. Ia berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya—mata lelah, pipi memerah karena latihan keras.
Ia menarik napas panjang.
“Sekali lagi,” gumamnya.
Hyunjin menekan play. Musik mengalun, dan ia mulai bergerak. Putaran cepat, footwork yang rumit—semua ia lakukan dengan tekad yang hampir obsesif. Ia ingin debut. Ia ingin membuktikan diri.
Tapi di tengah gerakan, kakinya terkilir.
“Agh—!”
Hyunjin jatuh terduduk, menahan pergelangan kaki kirinya. Sakitnya menusuk. Tangannya bergetar.
Pintu ruang latihan terbuka.
Han Seojun berdiri di sana, napas sedikit tersengal karena berlari naik tangga. Matanya langsung membulat melihat Hyunjin di lantai.
“Hyunjin!”
Seojun bergegas mendekat, lalu berlutut. “Kamu kenapa?!”
Hyunjin memaksakan senyum. “Nggak apa-apa… cuma kepleset.”
“Jangan bohong lagi,” suara Seojun terdengar lebih keras dari biasanya, tapi goyah di ujungnya. “Tadi aku lihat dari jendela. Kamu jatuh.”
Hyunjin terdiam.
Seojun mengambil pergelangan kaki Hyunjin perlahan, memeriksa bengkaknya. “Kamu ini kenapa sih… Latihan sendiri, lembur terus, sekarang malah cedera.”
“Aku cuma… pengen lebih baik,” gumam Hyunjin.
“Hyun.” Seojun menatapnya dalam. “Kamu sudah bagus. Kamu nggak perlu nyiksa diri kayak gini.”
Hyunjin menunduk. “Aku takut ketinggalan. Semua trainee di batch kita hebat-hebat…”
“Dan kamu salah satunya.” Seojun menghela napas berat. “Kalau kamu sampai cedera parah, kamu nggak akan debut sama sekali.”
Hening.
Seojun nekat mengangkat Hyunjin, satu tangan menopang punggungnya, satu lagi di bawah lutut. Hyunjin langsung memeluk bahunya karena kaget.
“S-Seojun! Aku bisa jalan sendiri!”
“Diam,” kata Seojun pendek. “Kamu istirahat. Aku antar ke ruang medis.”
Hyunjin menyembunyikan wajahnya di dada Seojun, bukan karena malu… tapi karena ia tidak ingin Seojun melihat matanya berkaca-kaca.
Langkah Seojun mantap, hangat. Setiap gerakan terasa hati-hati—seolah Hyunjin adalah sesuatu yang rapuh tapi berharga.
“Seojun,” bisik Hyunjin pelan.
“Hm?”
“Kenapa kamu begitu… peduli sama aku?”
Seojun berhenti berjalan. Menatap Hyunjin lama. Nafasnya terdengar jelas di ruang kosong itu.
“Karena…” Seojun menelan ludah, suaranya melemah untuk pertama kalinya.
“…kalau sesuatu terjadi sama kamu… aku nggak tahu harus gimana.”
Jantung Hyunjin berdetak cepat.
Setahun setelah masa trainee yang penuh luka, tawa, dan rahasia, hidup mereka berubah drastis.
Han Seojun debut lebih dulu — bukan sebagai idol seperti rencana awal, tetapi sebagai aktor dalam drama remaja yang langsung meledak. Jadwalnya padat, syuting setiap hari sampai pagi, wawancara, variety show, pemotretan majalah. Senyum setengah malasnya kini menghiasi billboard di jalanan kota.
KAMU SEDANG MEMBACA
hyunjin harem
Fiksi Penggemartentang hyunjin dan para haremnya Random ae Malas ngetik Update kalo udh ada 35 mata Dan klo udh 10 vote Update klo ide lancar Ak ngetik pakai AI Udh tau kan gimana hasilnya nnti Klo ngk nyambung salah AI nya hehe🤭🤭😋🙏🙏🙏
