jenjin

206 9 0
                                        

Hyunjin terus berlari tanpa arah. Koridor sekolah yang biasanya ramai kini terasa panjang dan sunyi. Suara langkah kakinya bergema, berpadu dengan degup jantungnya yang tak mau tenang.

Begitu sampai di taman belakang sekolah, ia berhenti. Nafasnya memburu, tangan meremas dada sendiri.
“Kenapa… kenapa jantung gue kayak gini sih?” gumamnya pelan, wajahnya masih merah.

Dia mencoba menenangkan diri. Tapi setiap kali memejamkan mata, bayangan Jeno kembali muncul — tatapan matanya, suaranya yang berat, dan… ciuman singkat itu.

Hyunjin menepuk pipinya pelan, frustasi. “Bodoh. Kenapa gue malah mikirin dia lagi!”

Namun sebelum ia bisa menenangkan pikirannya, suara langkah kaki terdengar dari arah belakang. Langkah itu pelan tapi jelas. Hyunjin refleks menoleh.

Jeno berdiri di sana. Dengan seragam yang sedikit kusut dan rambut berantakan, ia terlihat jauh lebih lembut daripada di kelas tadi.

“Ngapain lo ngikutin gue?” tanya Hyunjin cepat, berusaha tegas meski suaranya terdengar goyah.

Jeno berjalan mendekat, tak menjawab.
“Jeno…” Hyunjin melangkah mundur, tapi dinding taman membatasi langkahnya.

“Gue nggak mau bikin lo takut,” kata Jeno akhirnya. “Tapi gue juga nggak mau pura-pura nggak peduli.”

Hyunjin menelan ludah. Ada sesuatu di nada Jeno kali ini — bukan paksaan, tapi ketulusan.
“Lo tadi udah… nyium gue,” ujar Hyunjin pelan, menunduk. “Lo pikir gue nggak kaget? Gue—”

“Gue tahu,” potong Jeno. Ia berhenti hanya sejengkal di depannya. “Dan gue nyesel kalau itu bikin lo panik. Tapi gue nggak nyesel karena jujur.”

Hyunjin menatapnya lama. “Kenapa lo segitunya sama gue, No? Kita bahkan bukan siapa-siapa.”

Jeno menatap balik, matanya lembut tapi tegas. “Karena setiap kali lo ada di depan gue, semuanya berisik di kepala gue tiba-tiba diem. Karena cuma lo yang bisa bikin gue ngerasa tenang kayak gini.”

Hening. Hanya angin sore yang bergerak pelan di antara mereka.

Hyunjin mengalihkan pandangan, tapi senyum tipis tanpa sadar muncul di ujung bibirnya.
“Gue benci lo…” ucapnya pelan.

Jeno tertawa kecil, melangkah lebih dekat lagi. “Iya, tapi lo juga nggak bisa bener-bener jauhin gue, kan?”

Hyunjin tidak menjawab, hanya menunduk sambil menggigit bibirnya sendiri — berusaha keras menahan senyum yang hampir pecah.

Jeno memandangi wajah itu lama, lalu dengan suara lembut ia berkata,
“Gue janji, kali ini gue nggak bakal maksa. Tapi jangan jauhin gue, Hyunjin. Gue cuma mau lo tahu… perasaan gue nyata.”

Hyunjin menatapnya sebentar, kemudian berbalik pelan. “Lo bikin hidup gue ribet, No.”

Jeno nyengir. “Kalau gitu, gue bakal tanggung jawab buat ngeribetin lo tiap hari.”

Hyunjin hanya mendengus, tapi langkahnya melambat, memberi tanda kecil bahwa mungkin… ia tidak benar-benar ingin Jeno pergi.




Nyambung ngk siblacksitrus

Ngk tau beb tolong dong

hyunjin haremTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang