Hyunjin benci tempat ramai.
Tapi malam ini dia berdiri di depan gedung latihan SM, lampu merah-neon menyala seperti tanda bahaya. Tangannya masuk ke dalam hoodie hitamnya, wajahnya tertutup masker, dan mata cokelat gelapnya terlihat gelisah.
"Renjun idiot... kenapa aku harus ikut?"
Pintu otomatis terbuka.
Dan di sana—Renjun muncul dengan senyum santai seolah tidak menyadari bahwa hidup Hyunjin sedang dilempar masuk ke sarang serigala.
“Hyunjin-ah! Masuk sini.”
Renjun menepuk pundaknya.
Hyunjin menghela napas.
“Kenapa aku harus ikut? Aku cuma mau pulang.”
Renjun mendekat, menundukkan wajah dan berbisik,
“Karena mereka mau ketemu kamu.”
Hyunjin berhenti.
“Mereka?”
Renjun mengangguk, ekspresinya berubah serius.
“Nct....”
Nama itu kencang seperti alarm di kepala Hyunjin.
Semua idol seangkatannya tahu:
00-line SM bukan sekedar grup pertemanan.
Mereka punya reputasi—kekuasaan, koneksi, dan… permainan yang tidak semua orang boleh tahu.
Rumor bilang:
Jika mereka tertarik pada seseorang…
orang itu tidak bisa lari.
---
Saat pintu studio dibuka, musik berhenti.
Lima pria menoleh.
Dan ruangan langsung terasa kecil.
Jaehyun duduk bersandar di sofa, memutar cincin di jarinya—terlihat seperti seseorang yang sudah tahu apa yang akan terjadi.
Jeno berdiri dengan hoodie hitam, tatapan dingin—membaca Hyunjin seperti mangsa.
Mark tersenyum samar—seolah menyembunyikan sesuatu.
Haechan bersandar di kaca, memainkan lidah di balik senyuman isengnya.
Taeyong tidak bicara, tapi mata merah delima itu menilai… dan menghakimi.
Keheningan terlalu panjang.
Hyunjin menegakkan punggung, menatap balik tanpa tunduk.
Renjun menepuk bahunya pelan—semacam peringatan.
Jaehyun akhirnya berbicara duluan.
“Hyunjin,” suaranya tenang… terlalu tenang.
“Akhirnya kamu datang.”
Hyunjin tetap diam.
“Duduk,” perintah Jeno.
Nada itu bukan undangan.
Itu perintah.
Haechan tertawa pendek.
“Dia kayak kucing liar. Kadang nutup diri, kadang nyakar.”
Mark menyenggol bahu Hyunjin saat lewat.
“Kita lihat nanti.”
Renjun membisikkan,
“Jangan bikin mereka kesal.”
Hyunjin mendesis pelan,
“Aku nggak takut.”
Tapi lututnya terasa lemah saat Jaehyun berdiri dan berjalan mendekat.
Ia berhenti sangat dekat—cukup sampai Hyunjin bisa mencium parfum kayu gelapnya.
“Seharusnya takut,” Jaehyun berbisik, nada rendah dan tajam.
“Karena begitu kamu masuk ruangan ini…”
Jeno menyelesaikan kalimat itu dari belakang:
“Tidak ada jalan keluar.”
Hyunjin menatap mereka satu per satu—
KAMU SEDANG MEMBACA
hyunjin harem
Fiksi Penggemartentang hyunjin dan para haremnya Random ae Malas ngetik Update kalo udh ada 35 mata Dan klo udh 10 vote Update klo ide lancar Ak ngetik pakai AI Udh tau kan gimana hasilnya nnti Klo ngk nyambung salah AI nya hehe🤭🤭😋🙏🙏🙏
