Hujan turun lembut sore itu, memukul jendela kafe kecil di sudut kota. Aroma kopi, kayu basah, dan musik jazz yang pelan memenuhi udara.
Hyunjin duduk sendirian di meja dekat jendela, buku puisi terbuka di depannya. Rambutnya jatuh sedikit menutupi mata. Ia mengusap kaca jendela yang berembun—kebiasaannya ketika ia sedang gelisah.
Kafe itu sepi.
Kecuali satu orang.
Pintu berbunyi cling saat seseorang masuk.
Jaket kulit hitam.
Rambut gelap sedikit berantakan.
Tatapan tajam tapi hangat.
Seojun.
Bukan aktor.
Bukan trainee.
Bukan public figure.
Di kehidupan ini, dia hanya… seseorang yang selalu muncul saat hujan turun.
Seojun melihat Hyunjin.
Dan untuk alasan yang bahkan Hyunjin sendiri tidak mengerti, dadanya bergetar.
“Tempat biasa?” barista bertanya pada Seojun.
“Yap,” jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari Hyunjin.
“Sama… tambahin satu hot chocolate. Buat dia.”
Hyunjin menoleh cepat.
“M–maksudnya apa?” tanya Hyunjin begitu Seojun duduk di hadapannya.
Seojun tersenyum kecil—senyum yang terasa seperti déjà vu.
“Kamu selalu kelihatan dingin kalau hujan,” katanya sambil mendorong gelas ke arah Hyunjin. “Walau kamu pura-pura nggak.”
Hyunjin terdiam, jantungnya berdetak keras tanpa alasan jelas.
“Kenapa kamu… perhatian?”
Ia menatap gelas panas itu.
“Padahal kita bahkan belum saling kenal.”
Seojun menatapnya lama.
Penuh rasa yang tidak bisa dijelaskan.
“Lucu ya,” jawab Seojun perlahan.
“Rasanya seperti aku sudah kenal kamu di hidup yang lain.”
Hyunjin menggigit bibirnya.
Ada sesuatu di suara Seojun—sesuatu yang seolah membangunkan memori yang tidak pernah ia punya.
“Hyunjin,” panggil Seojun pelan.
“Huh?”
Seojun mengulurkan tangan, menyentuh jari Hyunjin yang dingin.
Sentuhannya hangat.
Terlalu familiar.
“Aku nggak tahu kenapa…” Seojun berbisik, “Tapi setiap kali lihat kamu, hatiku selalu bilang: ‘Jangan biarin dia pergi lagi.’”
Hyunjin mengerjap.
“…lagi?”
Seojun tersenyum sedih.
Seolah ia sendiri tidak mengerti jawaban yang ia rasakan.
“Mungkin di hidup sebelumnya,” lanjutnya, “aku gagal untuk jagain kamu.”
Hyunjin membuka mulut, ingin menyangkal—tapi ketika mata mereka bertemu, dunia terasa berhenti.
Musik jazz memudar.
Hujan terdengar jauh.
Kafe seakan hilang.
Yang tersisa hanya mereka.
Tanpa sadar, Hyunjin menggenggam tangan Seojun lebih erat.
“Aneh… tapi aku merasa…”
Hyunjin menelan ludah.
“…kita pernah berpisah. Dan itu sakit.”
Seojun mengangguk pelan, menahan napas.
“Sama.”
Hening mengalir.
Lalu Seojun condong sedikit ke depan.
“Hari ini,” bisik Seojun, “kalau kamu nggak lari dari aku…”
Hyunjin menahan napas.
“…boleh aku cium kamu?”
Hyunjin tidak menjawab.
Tapi ia juga tidak mundur.
Dan itu cukup bagi Seojun.
Seojun menangkup wajah Hyunjin dengan kedua tangannya—selambat seseorang yang tidak ingin menghancurkan sesuatu yang rapuh.
Kening mereka bersentuhan.
Hyunjin memejamkan mata.
Ciuman itu lembut.
Hangat.
Perlahan.
Seperti reuni dua jiwa yang lama hilang.
Ketika mereka akhirnya berpisah, Hyunjin membuka mata perlahan.
Dan untuk sesaat… Hyunjin merasa ia mengingat sesuatu.
Seseorang yang melindunginya.
Seseorang yang hilang darinya.
Seseorang yang… mirip Seojun.
“Kalau ini benar hidup yang baru,” kata Seojun, menyentuh pipi Hyunjin dengan ibu jarinya,
“Aku bakal pastiin kita nggak berpisah lagi.”
Hyunjin tersenyum kecil—senyum yang terasa seperti takdir yang kembali.
“Di hidup ini,” jawab Hyunjin lembut,
“Aku milih kamu duluan.”
Dan untuk pertama kalinya, mereka kembali menemukan satu sama lain…
…meski butuh dunia berbeda untuk bertemu lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
hyunjin harem
Fanfictiontentang hyunjin dan para haremnya Random ae Malas ngetik Update kalo udh ada 35 mata Dan klo udh 10 vote Update klo ide lancar Ak ngetik pakai AI Udh tau kan gimana hasilnya nnti Klo ngk nyambung salah AI nya hehe🤭🤭😋🙏🙏🙏
