saudara tiri?!!

747 16 2
                                        

Hyunjin, yang kini berusia tujuh belas tahun, merasakan dunia seakan runtuh ketika ibunya mengumumkan pernikahannya dengan seorang duda beranak satu.

Minho, saudara tirinya yang baru, delapan belas tahun,  membangun tembok tak terlihat di antara mereka.  Rumah yang tadinya terasa nyaman kini dipenuhi ketegangan.

Kehidupan mereka berdampingan, namun terasa seperti dunia terpisah.  Hyunjin merindukan kehangatan keluarga, namun yang ia dapatkan hanyalah tatapan dingin Minho.  Ia mencoba mendekat, namun selalu dibalas dengan jarak.

Suatu sore, rasa penasaran mengalahkan Hyunjin.  Ia mengintip kamar Minho.  Bukannya barang-barang berantakan atau poster band kesukaan anak remaja, yang ia temukan adalah sebuah pemandangan yang tak terduga: dinding kamar Minho dipenuhi foto-foto dirinya sendiri, dari bayi mungil hingga remaja tampan berusia tujuh belas tahun.  Koleksi foto yang tertata rapi, menunjukkan betapa Minho menyayangi dirinya sendiri.

Bukannya takut, Hyunjin justru tersenyum.  Ia merasa lega, ternyata bukan hanya dirinya yang menyimpan perasaan terpendam.  Ia pun menyadari,  bahwa cintanya, seperti cinta Minho pada dirinya sendiri, mungkin terbatas—hanya pada dirinya.

Kamar Hyunjin sendiri menyimpan rahasia serupa.  Foto-foto Minho, dari berbagai sudut dan ekspresi, menghiasi dindingnya.  Bukti nyata dari rasa kagum dan ketertarikan yang tak pernah ia ungkapkan.

Dengan hati berdebar, Hyunjin menghampiri Minho.  Sebuah senyum menggoda terukir di bibirnya. 

Minho terkejut, matanya membulat.  Ia terpaku, membiarkan Hyunjin mendekat, membiarkan apa pun yang akan Hyunjin lakukan padanya. 

Udara di antara mereka tiba-tiba terasa hangat, penuh dengan janji-janji yang belum terucap.  Mungkin, tembok yang selama ini mereka bangun akan segera runtuh.  Mungkin, cinta yang mereka pendam akan segera mekar.

 






||¥¥¥¥¥|||₩₩₩₩₩|||











Hyunjin berdiri di ambang pintu kamar Minho, senyum jahil terukir di bibirnya.  Mata Minho masih melebar, terkejut oleh kehadiran Hyunjin yang tiba-tiba. 

Koleksi foto dirinya yang memenuhi dinding kamarnya seakan menjadi bukti bisu dari rasa malu yang tiba-tiba menyergapnya.

Hyunjin: "Kau tahu, aku punya koleksi fotomu juga. Lebih banyak dari fotomu sendiri, mungkin." Ia menyeringai, matanya berbinar.  "Mau lihat?"

Minho masih terdiam, terpaku di tempatnya.  Ia tak menyangka Hyunjin akan bereaksi seperti ini.  Selama ini ia selalu menjaga jarak, membangun tembok antara dirinya dan Hyunjin.  Tapi sekarang, tembok itu terasa rapuh,  goyah oleh senyum dan kata-kata Hyunjin yang tak terduga.

Hyunjin melangkah masuk, mendekati Minho dengan langkah pelan.  Ia berhenti beberapa langkah di depan Minho,  memberikan ruang bagi Minho untuk bereaksi.  Detik-detik terasa begitu panjang,  dipenuhi ketegangan yang tak terkatakan.

Minho masih terdiam,  matanya menatap Hyunjin dengan campuran rasa terkejut,  bingung, dan mungkin sedikit... ketertarikan?

Ia tak bisa menyembunyikan debaran jantungnya yang semakin cepat.  Hyunjin, dengan senyumnya yang menggoda,  telah berhasil menghancurkan tembok yang selama ini ia bangun dengan susah payah.

Hyunjin melanjutkan, suaranya lebih lembut kali ini: "Jangan salah paham, ya. Aku bukan stalker.  Aku hanya... mengagumi."  Ia menekankan kata 'mengagumi' dengan sedikit penekanan,  memberikan nuansa ambigu yang membuat pipi Minho memerah.

"Mau lihat koleksiku?"  Ia ulangi pertanyaannya,  kali ini dengan nada lebih lembut,  sekaligus lebih menantang.



Hyunjin menarik kembali jarinya, senyumnya masih terukir di bibirnya, namun kini ada sedikit sentuhan nakal di dalamnya. Ia bisa merasakan perubahan suasana hati Minho, perubahan yang membuatnya semakin penasaran. Ia menunggu, memperhatikan reaksi Minho selanjutnya. Apakah Minho akan menolaknya? Atau... akan menerima?

hyunjin haremTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang