Jeno

274 7 0
                                        

Angin malam berputar di halaman istana itu—bangunan megah yang tidak pernah tercatat di peta mana pun. Dinding-dindingnya hitam berkilau seperti obsidian, menjulang tinggi seakan memeluk langit.
Istana itu dibangun Jeno dengan satu tujuan: mengurung, memiliki, dan menghancurkan Hyunjin perlahan, setelah ia berhasil menikahinya dengan cara yang tidak pernah disebutkan dalam doa siapa pun.

Di dalam kamar singgasana pribadi, hanya lilin-lilin tinggi yang menyala, menciptakan bayangan seperti cakar yang memanjang di dinding.

Hyunjin berdiri di depan jendela besar, rambut panjangnya jatuh berantakan, napasnya naik—turun, wajahnya pucat karena lelah dan takut… atau karena ia sudah berhenti membedakan keduanya.

Pintu besar berderit.

Langkah Jeno bergema, tenang, terlalu tenang.

“Hyunjin,” panggilnya pelan, namun gelap.
Suara yang membuat udara bergetar seperti kulit dipaksa merinding.

Hyunjin tak menoleh.
“Apa lagi yang kamu mau?”

Jeno tersenyum tipis. “Istriku tidak boleh bicara seperti itu.”

Jeno mendekat, satu tangan mencengkeram pinggang Hyunjin dari belakang. Hyunjin terperanjat, namun Jeno menariknya kembali, menempelkan tubuh mereka. Nafas Jeno panas di telinganya.

“Aku membangun seluruh istana ini untukmu,” bisiknya.
“Atau mungkin… untuk memastikan kamu tidak bisa kabur dariku lagi.”

Hyunjin menggertakkan gigi. “Aku tidak pernah mau menikah denganmu.”

“Tapi kau sudah.”

Dalam satu gerakan cepat, Jeno membalikkan tubuh Hyunjin dan mendorongnya ke dinding batu yang dingin. Benturan itu membuat Hyunjin mengerang pelan. Jeno menatapnya lama-lama, seperti mempelajari setiap detik rasa sakit di wajah itu.

Tatapan Hyunjin bergetar—marah, lelah, tak ingin kalah.
Tatapan yang justru membuat Jeno semakin gila.

“Tatap aku seperti itu lagi,” ucap Jeno pelan, “dan aku akan—”

Ucapan itu tidak selesai.

Ia meraih leher Hyunjin, menariknya ke depan, dan mencium bibirnya dengan brutal—bukan ciuman romantis, bukan ciuman manis.
Ini adalah ciuman kepemilikan: keras, memaksa, tajam.
Bibir mereka bertabrakan, Jeno menahan rahang Hyunjin agar tidak menghindar. Hyunjin mencoba mendorong, tetapi Jeno menekan tubuhnya lebih keras ke dinding sampai Hyunjin kehilangan kekuatan untuk melawan.

Jeno menggigit bibir bawah Hyunjin, membuat sebuah erangan sakit lolos dari tenggorokannya.
Hyunjin memukul dada Jeno, tapi Jeno menangkap kedua pergelangan tangannya dan mengangkatnya ke atas kepala, memaku mereka ke batu.

Ciuman itu semakin dalam—mengulur, menguasai, menghukum.

Saat akhirnya Jeno melepaskan bibirnya, Hyunjin terengah, bibirnya memerah dan sedikit berdarah.

Jeno menelusuri pipi Hyunjin dengan ibu jarinya, suaranya turun menjadi lebih rendah, lebih berbahaya.

“Lihat?” katanya sambil tersenyum samar.
“Kau selalu terlihat paling indah saat hancur di tanganku.”

Hyunjin menatapnya dengan mata basah namun penuh perlawanan.




















...






















..








































M








Bibir Hyunjin masih berdenyut sakit ketika Jeno menahan kedua tangannya di atas kepala. Tubuhnya terperangkap sempurna, napasnya masih tersisa dari ciuman brutal barusan. Jeno hendak mencium lagi—lebih dalam, lebih menghancurkan—namun sesuatu berubah.

Mata Hyunjin tidak lagi gemetar ketakutan.

Ada sesuatu yang baru di sana.
Gelap… tajam… berbahaya.

Senyum kecil terbentuk di sudut bibir Hyunjin. Senyum yang tidak pernah Jeno lihat darinya sebelumnya.

Jeno berhenti. “Apa itu?”
Nada suaranya berubah, sedikit waspada.

Hyunjin mencondongkan wajahnya ke depan pelan, seperti seorang binatang yang baru sadar taringnya masih lengkap. Jeno menahan dagunya agar tetap diam, tapi Hyunjin justru menyentuh bibir Jeno dengan bibirnya sendiri—pelan namun sangat menghina.

“Kau pikir aku cuma bisa pasrah?” bisik Hyunjin.

Jeno hendak menertawakan ucapan itu, tapi—

Dalam sekejap cepat dan tajam, Hyunjin membalikkan kepala sedikit dan menggigit bibir bawah Jeno kuat-kuat.

Jeno terkejut—sentakan rasa sakit membuatnya mengumpat rendah. Tetapi Hyunjin tidak melepaskan.
Gigitan itu dalam, panas, penuh dendam.
Darah manis pecah di antara bibir mereka.

Hyunjin akhirnya melepaskan, napasnya kasar, bibirnya bersimbah merah.

Ia menatap Jeno dengan mata tajam yang berkilat.

“Kalau kau suka main kasar…” Hyunjin mengusap bibirnya dengan punggung tangan.
“Aku juga bisa.”

Untuk pertama kalinya, Jeno benar-benar diam.

Lalu, sudut mulutnya terangkat pelan—bukan marah, bukan sakit.
Tapi… puas. Tersulut.

“Oh begitu?” suara Jeno dalam, bergetar.
“Bagus.”

Dalam satu gerakan cepat, Jeno menyeret pinggang Hyunjin mendekat, mendorongnya lagi ke dinding. Namun kali ini, Hyunjin tidak tampak takut sedikit pun. Kepalanya sedikit menengadah, dagu terangkat menantang.

“Coba gigit aku lagi,” bisik Jeno, suaranya rendah, bahaya mengalir di setiap kata.
“Dan lihat apa yang kulakukan padamu.”

Hyunjin menatapnya… lalu tersenyum kecil, gelap.
“Berani kok.”

Sebelum Jeno bisa merespons, Hyunjin menarik kerah Jeno dan menggigit lehernya—lebih keras, lebih liar, lebih dalam.

Jeno mengerang—bukan karena sakit, tapi karena Hyunjin akhirnya tidak tunduk lagi.
Karena Hyunjin akhirnya menggigit balik.

hyunjin haremTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang