Vote oi
Happy Reading
.
.
Beberapa hari telah berlalu sejak momen di mana Jisoo tiba-tiba menyatakan perasaannya dengan cara yang sangat tidak romantis. Jennie masih kesal, dan dia benar-benar menahan diri untuk tidak membalas pesan atau menelepon Jisoo lebih dulu. Kalau Jisoo memang serius, seharusnya dia melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar menatap Jennie dengan wajah polos dan berkata, "Aku suka kamu."
Namun, seperti yang sudah Jennie duga, Jisoo tetap jadi Jisoo—tidak ada kelanjutan, tidak ada usaha untuk memperbaiki cara menyatakan perasaannya. Seolah semua itu hanya ucapan sambil lalu.
Di sisi lain, Jisoo mulai merasa ada yang aneh. Biasanya, Jennie selalu mengirim pesan duluan, entah sekadar menanyakan kabar atau menggodanya tanpa alasan. Tapi sejak "pengakuan" itu, Jennie berubah. Dia tetap berbicara seperti biasa kalau mereka bertemu, tapi... ada sesuatu yang berbeda.
Suatu malam, saat Jisoo pulang ke apartemen, Jennie sedang duduk di sofa sambil menonton drama. Begitu melihat Jisoo datang, dia hanya melirik sekilas sebelum kembali fokus ke layar.
Jisoo mengernyit. Biasanya, Jennie akan langsung menyambutnya dengan godaan atau senyum manis, tapi kali ini tidak.
"Kau kenapa?" tanya Jisoo akhirnya.
Jennie tidak menoleh. "Kenapa memangnya?"
"Kau... agak aneh," gumam Jisoo sambil meletakkan tasnya di meja.
Jennie menghela napas, lalu menekan tombol pause di remote. Dia menoleh ke arah Jisoo dengan ekspresi datar. "Aku? Aneh? Padahal aku hanya melakukan apa yang kau lakukan."
"Apa maksudmu?"
Jennie menatapnya lekat-lekat sebelum mendengus pelan. "Lupakan."
Jisoo semakin bingung. Dia duduk di sofa, menatap Jennie yang kembali fokus ke drama.
"Aku tahu aku bilang suka padamu," ujar Jisoo akhirnya.
Jennie tidak langsung merespons. "Iya, kau bilang begitu."
Jisoo mengangguk. "Jadi...?"
Jennie menoleh lagi, kali ini ekspresinya penuh dengan ketidakpercayaan. "Jadi apa? Kau bahkan tidak melakukan apa-apa setelah itu!"
Jisoo berkedip. "Apa aku harus melakukan sesuatu?"
Jennie hampir melempar bantal ke wajahnya.
"Astaga, Kim Jisoo! Aku tidak percaya aku harus menjelaskan ini padamu!" Jennie mengacak rambutnya frustrasi. "Orang normal itu kalau menyatakan perasaan, setidaknya ada usaha! Bunga, kencan, atau sesuatu yang lebih romantis! Bukannya cuma bilang suka lalu diam seperti batu!"
Jisoo terdiam, mencerna ucapan Jennie.
"Apa kau benar-benar menyukaiku, atau kau hanya asal bicara?" tantang Jennie.
Jisoo menatapnya, kali ini lebih serius. "Aku tidak asal bicara."
Jennie mendengus. "Kalau begitu, buktikan."
Jisoo diam sejenak, lalu mengangguk kecil. "Baik. Aku akan membuktikannya."
Jennie menatapnya skeptis. "Aku tidak percaya sebelum melihatnya."
Jisoo tersenyum tipis, penuh percaya diri. "Tunggu saja."
.
.
Beberapa hari setelah percakapan malam itu, Jennie masih belum melihat tanda-tanda perubahan dari Jisoo. Kalau membuktikan yang dimaksud Jisoo itu berarti tetap bekerja seperti biasa dan tidak menunjukkan usaha lebih, maka Jennie benar-benar tidak habis pikir.
KAMU SEDANG MEMBACA
[Must Choose] || [Jensoo]
Fiksi Penggemar⚠️ G×G Area 🚫 _____ "Sampai kapan kau akan tetap merahasiakan ini semua?" "Entahlah, aku tidak tahu" "Tapi kau harus memilih salah satu diantara mereka berdua!" "Apa salah jika aku ingin memiliki keduanya?" "Ck, kau sungguh gila Kim!" _____ 𝐖𝐚𝐫�...
![[Must Choose] || [Jensoo]](https://img.wattpad.com/cover/261126348-64-k409990.jpg)