Last ya, yang minta lanjut lgi ku tampol🗿
Dah pegel bgtt nih jari
.
.
Happy Reading
.
.
Setelah pertemuan dengan teman-temannya, Jisoo dan Jennie berjalan beriringan menuju mobil yang diparkir tidak jauh dari restoran. Udara malam cukup dingin, dan Jennie secara refleks merapatkan mantelnya.
Tanpa banyak bicara, Jisoo melepas jasnya dan menyampirkannya ke pundak Jennie.
Jennie menoleh, sedikit terkejut. "Aku tidak terlalu kedinginan, kamu tidak perlu—"
"Aku tahu kamu tidak kedinginan," potong Jisoo dengan nada datar. "Tapi aku ingin melakukannya."
Jennie terdiam.
Dulu, Jisoo bukan tipe orang yang suka menunjukkan perhatian secara terbuka seperti ini. Tetapi sekarang, setiap tindakan kecilnya selalu mengandung makna yang lebih dalam.
Jisoo membuka pintu mobil untuknya. "Masuklah."
Jennie masuk tanpa protes, dan Jisoo segera menyusulnya, duduk di kursi pengemudi.
Selama perjalanan, tidak banyak percakapan yang terjadi. Musik lembut mengalun dari radio, tetapi keheningan di antara mereka terasa lebih berbobot daripada kata-kata.
Jennie melirik Jisoo. Dari samping, wajahnya terlihat tenang, tetapi ada ketegangan halus di rahangnya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Jennie akhirnya.
Jisoo tidak langsung menjawab. Setelah beberapa saat, ia hanya berkata, "Banyak hal."
Jennie menunggu, tetapi Jisoo tampak ragu-ragu.
Akhirnya, sesampainya di apartemen mereka, Jennie yang lebih dulu turun dan berjalan masuk. Namun, sebelum ia bisa melangkah lebih jauh, Jisoo menarik pergelangan tangannya.
Jennie berbalik, dan saat itu juga, Jisoo mendorongnya perlahan ke dinding dekat pintu.
Mata mereka bertemu.
"Ji?" Jennie bertanya pelan.
Jisoo tidak menjawab. Ia hanya menatapnya dengan intens, seolah sedang menimbang sesuatu dalam pikirannya.
Kemudian, dengan suara rendah, ia berkata, "Aku mencintaimu."
Jennie menelan ludah. "Aku tahu."
"Tidak." Jisoo menggeleng. "Maksudku... Aku benar-benar mencintaimu, Jennie. Aku ingin kita tidak hanya sekadar bersama. Aku ingin kamu menjadi milikku sepenuhnya."
Jennie mengerjapkan mata.
"Kamu sudah milikku, Jisoo," bisiknya.
Jisoo mendekat, membuat jarak di antara mereka hampir tidak ada. "Maka buktikan."
Jennie tidak sempat bertanya apa maksudnya karena detik berikutnya, Jisoo sudah menundukkan kepala dan mencium bibirnya.
Ciuman itu panas, lebih dalam daripada biasanya.
Jennie mengerang pelan ketika Jisoo menekan tubuhnya lebih erat ke dinding, sementara jemarinya merayap ke pinggangnya, menariknya lebih dekat.
Jennie tidak mau kalah. Ia membalas ciuman itu dengan penuh gairah, tangannya mencengkeram kerah kemeja Jisoo, menariknya lebih dalam.
Jisoo menggeram pelan di sela-sela ciuman mereka sebelum tiba-tiba—
Ting!
Suara lift berbunyi, menandakan seseorang akan keluar dari dalamnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
[Must Choose] || [Jensoo]
Fanfiction⚠️ G×G Area 🚫 _____ "Sampai kapan kau akan tetap merahasiakan ini semua?" "Entahlah, aku tidak tahu" "Tapi kau harus memilih salah satu diantara mereka berdua!" "Apa salah jika aku ingin memiliki keduanya?" "Ck, kau sungguh gila Kim!" _____ 𝐖𝐚𝐫�...
![[Must Choose] || [Jensoo]](https://img.wattpad.com/cover/261126348-64-k409990.jpg)