39

328 60 16
                                        

Happy Reading
.
.

Hari itu langit Seoul sedikit mendung, angin berhembus lembut membawa aroma musim semi yang belum sepenuhnya pergi. Rosé duduk di meja dekat jendela apartemennya, menatap jalanan di bawah sambil mengaduk kopi yang bahkan belum ia seruput sejak satu jam lalu. Hatinya terasa ganjil. Sudah beberapa minggu ia kembali dari Australia dan menetap kembali di Korea, namun ada kekosongan yang tidak bisa dijelaskan. Hidupnya memang mulai terisi kembali—kuliah selesai, rencana ke sekolah musik sudah mulai ia persiapkan, dan Jisoo… ya, Jisoo kini sering datang menemuinya.

Namun sore itu, Rosé merasa hampa. Ia butuh udara segar, interaksi ringan dengan dunia luar. Akhirnya, setelah memberi kabar pada Jisoo melalui pesan singkat, Rosé memutuskan pergi ke salon langganannya yang dulu sering ia kunjungi sebelum pindah ke Australia. Ia sempat mampir ke kafe kecil di dekat salon dan membeli iced vanilla latte, minuman favoritnya sejak SMA.

Langkah kakinya ringan, dan meski sendirian, Rosé merasa cukup tenang. Namun begitu ia membuka pintu salon dan baru satu langkah masuk, seorang wanita tiba-tiba melangkah terburu-buru dari arah dalam, menyenggol lengannya cukup keras hingga kopi yang dibawanya tumpah. Tumpahan itu mengenai baju wanita tersebut—blus putih yang sepertinya mahal.

Rosé terkejut dan refleks mundur, menatap noda cokelat di bagian depan baju wanita itu.

"Astaga, maafkan aku… aku tidak sengaja," ucap Rosé cepat, nada suaranya pelan dan lembut seperti biasa.

Wanita itu langsung menatapnya tajam. "Kau ini tidak punya mata, ya? Dasar ceroboh!"

Rosé menunduk sedikit. "Aku benar-benar minta maaf. Aku bisa mengganti bajumu kalau kamu mau."

"Ganti? Kamu pikir ini baju biasa? Ini koleksi terbatas Chanel musim lalu, tahu!" teriak wanita itu, membuat beberapa staf salon dan pelanggan lain mulai menoleh.

"Aku tidak tahu, tapi aku tetap bertanggung jawab. Tolong jangan marah..."

Alih-alih mereda, kemarahan wanita itu justru makin menjadi. Ia mulai melontarkan kata-kata kasar, bahkan menyinggung penampilan Rosé. Beberapa orang mulai memperhatikan, tapi tak ada yang berani menegur wanita itu—sampai suara baru terdengar dari dalam.

"Saya rasa cukup."

Seseorang melangkah keluar dari dalam salon. Seorang perempuan berambut cokelat gelap dengan postur tubuh mungil namun sikapnya tegas dan tajam. Ia menatap wanita yang marah itu tanpa gentar.

"Saya lihat tadi jelas sekali siapa yang menyenggol duluan. Kalau pun bajumu rusak, itu salahmu sendiri. Jadi berhenti membentak orang seenaknya."

Wanita itu melipat tangannya. "Dan kamu siapa?"

"Bukan siapa-siapa. Tapi kalau kamu mau ganti baju, saya bisa beri kamu uang untuk beli satu toko sekalian. Sekarang pergi sebelum saya panggil manajer salon ini dan melaporkan sikap tidak sopanmu."

Sorot mata perempuan itu tajam dan tenang, namun mengintimidasi. Wanita yang sebelumnya marah itu tampak terkejut dan salah tingkah. Setelah mengumpat pelan, ia memilih pergi tanpa berkata apa pun lagi.

Rosé yang sejak tadi berdiri kaku, akhirnya bisa bernapas lega.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya perempuan itu, kini nadanya jauh lebih lembut.

Rosé mengangguk pelan. "Terima kasih… kamu menyelamatkanku barusan."

Perempuan itu tersenyum, memperlihatkan lesung pipi kecil yang nyaris tak terlihat. "Sama-sama. Aku Jennie."

Rosé tersenyum kembali. "Aku Rosé."

Mereka akhirnya duduk bersebelahan di kursi tunggu salon, menunggu giliran. Percakapan yang awalnya canggung berkembang menjadi lebih hangat. Jennie yang awalnya tampak tegas ternyata punya sisi ceria dan perhatian. Ia menanggapi setiap ucapan Rosé dengan saksama, tertawa pelan saat Rosé bercerita tentang insiden-insiden lucu selama kuliah di Australia.

[Must Choose] || [Jensoo]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang