Happy Reading
.
.
Langit sore Seoul tampak berwarna keemasan ketika pesawat dari Melbourne mendarat dengan mulus di Bandara Incheon. Suasana di dalam kabin kelas bisnis itu tenang, hanya terdengar suara roda koper ditarik dan suara pengumuman dari awak kabin.
Jisoo melirik ke arah wanita di sebelahnya. Rosé tertidur dengan posisi kepala sedikit menyandar ke jendela, rambut pirangnya tergerai lepas, dan selimut masih membalut tubuhnya. Wajahnya terlihat damai, tidak seperti beberapa bulan lalu saat semua terasa kacau. Kini, segalanya tampak lebih ringan—setidaknya untuk Rosé.
Dengan hati-hati, Jisoo menyentuh lengan Rosé. "Chaengie… kita sudah sampai."
Rosé membuka matanya perlahan. Sekilas ia tampak bingung, lalu senyumnya merekah. "Kita… sudah di Korea?" tanyanya pelan.
Jisoo mengangguk sambil tersenyum kecil. "Ya. Selamat datang kembali."
Rosé menghela napas, matanya berkaca-kaca. "Akhirnya… aku pulang."
.
.
.
Perjalanan dari bandara menuju apartemen yang telah Jisoo siapkan cukup lancar. Mobil pribadi milik Jisoo melaju menyusuri jalanan kota Seoul yang sudah mulai dipenuhi lampu-lampu jalan menyala. Rosé terus menatap jendela, memperhatikan setiap sudut kota yang dirindukannya.
"Aku masih tidak percaya akhirnya aku di sini lagi," ucapnya pelan.
"Kamu akan tinggal di sini mulai sekarang. Semuanya sudah aku siapkan," kata Jisoo sambil tetap fokus menyetir.
"Termasuk apartemen itu?"
"Ya. Aku sudah membelinya untukmu"
Rosé tersenyum, matanya hangat. "Terima kasih, Chichu."
Mobil mereka berhenti di sebuah gedung apartemen baru di distrik Gangnam. Jisoo turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Rosé. Ia mengambil koper dari bagasi dan menuntun Rosé masuk ke dalam lobi.
Unit yang disiapkan Jisoo berada di lantai enam. Begitu pintu terbuka, aroma ruangan baru dan segar menyambut mereka. Interior apartemen itu minimalis namun hangat—dengan sentuhan kayu alami, dinding putih bersih, dan lampu gantung yang temaram.
Rosé berjalan perlahan ke dalam, mengamati setiap sudut dengan mata berbinar. Ia menyentuh meja makan kecil, membuka lemari dapur, lalu berdiri di depan jendela besar yang memperlihatkan panorama kota.
"Ini… lebih dari cukup. Bahkan terlalu bagus."
"Aku ingin kamu merasa nyaman," sahut Jisoo.
Rosé berbalik, menatap Jisoo dengan pandangan lembut.
"Ah iya,"
Rosé menatapnya serius. "Apa?"
"Kalau kamu ingin pergi keluar, ke mana pun… beri tahu aku dulu. Aku ingin tahu kamu aman. Dan… aku ingin tahu kamu tidak kemana-mana tanpa sepengetahuanku."
Rosé tersenyum tipis. "Tentu. Aku akan patuh. Tidak akan sembarangan pergi. Aku sudah cukup kehilanganmu satu kali, Jisoo… aku tidak mau itu terulang."
.
.
.
Malam itu, keduanya menikmati makan malam sederhana di ruang tengah apartemen. Rosé membuka beberapa kotak bekal yang dibelinya dari minimarket terdekat, sementara Jisoo duduk di sofa dengan laptop terbuka, tampak menyelesaikan sesuatu. Percakapan mereka ringan—tentang rencana Rosé untuk kembali mendaftar ke sekolah musik di Seoul, tentang anjing rescue yang sudah lama ingin ia adopsi, hingga ide-ide lagu baru yang sempat ia tulis saat masih di Australia.
"Kalau semuanya lancar, aku ingin mulai manggung lagi," ucap Rosé sambil mengaduk es tehnya.
"Dengan band-mu yang dulu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
[Must Choose] || [Jensoo]
Fanfiction⚠️ G×G Area 🚫 _____ "Sampai kapan kau akan tetap merahasiakan ini semua?" "Entahlah, aku tidak tahu" "Tapi kau harus memilih salah satu diantara mereka berdua!" "Apa salah jika aku ingin memiliki keduanya?" "Ck, kau sungguh gila Kim!" _____ 𝐖𝐚𝐫�...
![[Must Choose] || [Jensoo]](https://img.wattpad.com/cover/261126348-64-k409990.jpg)