26

439 79 12
                                        

Happy Reading
.
.
.

Setelah Jisoo pulang dari kantor, ia menemukan apartemennya dalam keadaan lebih rapi dari biasanya. Aroma masakan menggoda hidungnya, dan suara musik lembut mengisi udara. Saat ia melangkah masuk ke dapur, pemandangan yang ia lihat hampir membuatnya kehilangan keseimbangan.

Jennie, masih dengan pakaian rumah yang terlalu santai—oversized shirt dan celana pendek—sedang sibuk di dapur. Ia berbalik dengan senyum jahil saat melihat Jisoo berdiri di ambang pintu, matanya menatapnya lekat-lekat.

"Kau pulang lebih awal hari ini," ujar Jennie, nadanya menggoda.

Jisoo menghela napas, berusaha untuk tidak terpengaruh. "Kau sedang apa?"

"Makan malam spesial," Jennie mengangkat bahu sebelum berjalan mendekat. Tangannya masih sedikit berlumur saus, dan tanpa aba-aba, ia menyentuh pipi Jisoo dengan ujung jarinya.

"Yah! Apa yang kau lakukan?" Jisoo mengernyit.

Jennie terkikik, lalu mendekatkan wajahnya. "Maaf, aku tidak sengaja… Mau kau balaskan?"

Tatapan mereka bertemu, dan kali ini, Jisoo tidak bisa mengalihkan pandangannya. Ada sesuatu dalam sorot mata Jennie yang menantangnya, menguji batas kesabaran Jisoo.

"Jangan main-main denganku," bisik Jisoo pelan, suaranya sedikit serak.

Jennie tersenyum kecil sebelum berjinjit, wajahnya hanya beberapa inci dari Jisoo. "Atau apa?"

Jisoo menelan ludah. Ia bisa merasakan kehangatan napas Jennie di kulitnya. Tubuhnya terasa tegang, tapi sebelum ia bisa menjauh, Jennie lebih dulu menarik kerah bajunya dan mengecup bibirnya—cepat, lembut, tapi cukup untuk membuat dunia Jisoo berhenti berputar sejenak.

"Jennie—"

Namun, Jennie tidak memberi Jisoo kesempatan untuk protes. Dengan gerakan yang lebih berani, ia menangkup wajah Jisoo dan mencium lebih dalam.

Jisoo terdiam sesaat sebelum akhirnya merespons. Tangan Jennie merayap naik ke tengkuknya, sementara Jisoo tanpa sadar menarik pinggang Jennie lebih dekat. Ciuman mereka panas, dalam, dan penuh ketegangan yang sudah terlalu lama dibiarkan menggantung di antara mereka.

Ketika mereka akhirnya terpisah, napas keduanya memburu.

Jennie menyeringai. "Kau tidak menolakku kali ini."

Jisoo menatapnya tajam, masih mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. "Kau benar-benar menyebalkan."

"Tapi kau menyukaiku seperti ini, kan?" Jennie berbisik, jemarinya bermain di bahu Jisoo.

Jisoo menutup matanya sejenak, lalu mendengus kecil. "Aku tidak akan menjawab itu."

Jennie hanya tertawa, puas dengan reaksinya. "Ayo makan malam dulu, setelah itu... kita lihat saja apa yang terjadi."

Jisoo hanya bisa menggeleng pelan, tapi senyum kecil mulai muncul di sudut bibirnya.

Malam ini akan panjang.

Malam itu, suasana apartemen terasa lebih hangat dari biasanya. Setelah insiden di dapur, Jisoo dan Jennie akhirnya duduk berhadapan di meja makan. Namun, tidak seperti biasanya, suasana di antara mereka terasa berbeda—lebih intens, lebih menggoda.

Jisoo mencoba fokus pada makanannya, tetapi tatapan Jennie yang terus-terusan mengarah padanya membuatnya sulit untuk berpura-pura tidak terganggu.

"Kau terus menatapku," gumam Jisoo tanpa mengangkat wajahnya.

Jennie tersenyum kecil, menyandarkan dagunya di tangannya. "Tidak bisa disalahkan. Kau terlihat menarik malam ini."

Jisoo melirik ke arahnya dengan tatapan tajam. "Hentikan."

[Must Choose] || [Jensoo]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang