36.

333 58 43
                                        

Jensoo ntar dlu ya, kita ke Chaesoo dulu bentar wkwkwk
--

Happy Reading
.
.

Jisoo menoleh sedikit ke arah Jennie yang masih fokus dengan ponselnya, lalu perlahan menarik tangannya.

"Aku ke minimarket sebentar, ya. Kayaknya kita kehabisan susu," ucap Jisoo cepat sambil berdiri.

Jennie mengangguk tanpa curiga. "Oke. Jangan lupa beli roti juga, ya."

Jisoo tersenyum tipis. "Iya."
.
.
.

Suasana minimarket cukup lengang. Lampu-lampu putih terang menyinari rak-rak yang berjejer rapi, tapi bagi Jisoo, dunia seolah berputar lebih lambat saat nama "Rosé" muncul di layar ponselnya.

Tangannya bergetar sedikit saat ia menekan tombol hijau. Ia melangkah ke lorong paling ujung, di antara rak camilan dan minuman, memastikan tak ada siapa pun di sekitar.

"Hallo?"

Suaranya keluar nyaris seperti bisikan.

"Jisoo..." suara Rosé di ujung sana pelan, seperti napas yang tertahan lama akhirnya dilepaskan. "Aku sangat merindukanmu..."

"Aku juga." Jisoo menunduk, membenamkan wajahnya sebentar di antara bahunya. "Bagaimana kabarmu?"

"Lebih baik setelah dengar suaramu." Rosé tertawa kecil, suara itu lirih tapi hangat. "Maaf aku baru bisa hubungi kamu sekarang... setelah seminggu."

"Aku mengerti." Jisoo mengangguk walau Rosé tak bisa melihat. "Aku sudah perkirakan kamu akan kehilangan akses ke ponsel. Aku senang kamu bisa selamatkan ponsel itu."

"Hyeri membantuku menyembunyikannya," jawab Rosé cepat. "Aku titip ke dia tepat sebelum pulang. Dan eomma juga... akhirnya bantu meyakinkan Appa untuk tidak mengurungku lagi terlalu ketat."

"Dia masih mengawasimu sekarang?"

"Masih. Bodyguard suruhan Appa selalu ada di sekitar kampus. Tapi... minggu depan Appa ada urusan bisnis ke London. Dia akan pergi setidaknya empat hari."

Jisoo menahan napas. "Jadi kamu..."

Rosé tertawa pelan. "Aku ingin kita bertemu lagi. Aku akan bicara dengan eomma supaya bisa pergi ke tempat Hyeri atau mungkin ke vila eomma di pinggiran kota. Kalau kamu bisa datang lagi ke Australia minggu depan... kita bisa bertemu di sana."

Hening sejenak.

"Jisoo?"

Tanpa berpikir panjang, Jisoo menjawab pelan namun tegas, "Aku akan datang."

Rosé tercekat. "Kamu yakin?"

"Ya. Apa pun yang terjadi, aku akan ada di sana."

Ada keheningan di ujung sana, tapi kali ini bukan karena ragu—melainkan karena terlalu banyak emosi yang ingin keluar sekaligus. Rindu. Syukur. Kegembiraan. Harapan.

"Aku menunggumu, Jisoo." Suara Rosé terdengar begitu lembut, hampir seperti doa.

"Dan aku akan datang, Chaengie."
.
.
.

Jennie menyambut Jisoo dengan senyum cerah saat ia kembali dari minimarket, seakan tidak ada yang berubah.

"Kenapa lama sekali Ji?" Ucap Jennie sambil membuka botol yang Jisoo sodorkan.

Jisoo tersenyum, menyembunyikan kegelisahan yang mulai tumbuh di balik matanya. "Maaf. Aku beli ini juga." Ia menyerahkan jus mangga ke Jennie.

Jennie tersenyum cerah. "Terima kasih, pacarku yang perhatian."

Jennie tidak menaruh curiga. Ia hanya menggeser sedikit, memberi ruang untuk Jisoo duduk lebih dekat.

Jennie menyandarkan kepalanya ke pundak Jisoo, nyaman sekali. "Ayo kita habiskan hari ini dengan tenang. Nonton, makan, tidur. Tidak perlu keluar rumah."

[Must Choose] || [Jensoo]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang