34

550 72 47
                                        

Happy Reading
.
.

Jisoo berdiri di depan pintu kamar hotelnya, jantungnya masih berdetak cepat setelah pertemuan yang tidak terduga itu. Ia menatap Rosé yang berdiri di hadapannya, matanya yang sendu menyiratkan perasaan yang sulit dijelaskan.

"Apa kamu yakin ingin masuk?" tanya Jisoo dengan suara yang sedikit bergetar.

Rosé tidak menjawab. Sebagai gantinya, ia melangkah maju, mendekat hingga jarak di antara mereka nyaris tidak ada. Tatapannya tajam, namun lembut. Ada kerinduan yang begitu mendalam di sana.

"Aku sudah kehilanganmu sekali, Jisoo," bisiknya pelan, tangannya terangkat, menyentuh pipi Jisoo dengan sentuhan yang begitu familiar. "Aku tidak ingin kehilanganmu lagi."

Jisoo menutup matanya sejenak, menikmati sentuhan itu. Ada banyak perasaan yang berkecamuk dalam dirinya—kerinduan, kebingungan, dan perasaan bersalah yang samar. Namun, saat Rosé semakin mendekat, semua logika seolah memudar.

Dengan perlahan, Rosé menyentuh dagu Jisoo, mengangkatnya sedikit agar mata mereka bertemu. "Jisoo-ya…"

Dan saat itulah, pertahanan Jisoo runtuh.

Tanpa sadar, tangannya bergerak menarik Rosé lebih dekat, dan dalam hitungan detik, bibir mereka bertemu dalam ciuman yang begitu dalam dan mendalam. Tidak ada yang lembut dari pertemuan mereka—semuanya terbakar oleh kerinduan yang telah lama terpendam.

Jisoo bisa merasakan bagaimana Rosé benar-benar mencarinya, menyentuhnya dengan cara yang dulu selalu membuatnya gila. Tangannya mengalir ke punggung Rosé, menariknya lebih erat, seolah takut jika Rosé akan menghilang lagi.

Rosé membalas dengan sama rakusnya, tubuhnya melekat erat pada Jisoo, seakan ingin mengingat setiap inci dari wanita yang masih menguasai hatinya itu. Tangannya meremas kemeja Jisoo, sebelum dengan perlahan menariknya keluar dari jas yang dikenakannya.

Napas mereka tersengal saat mereka menarik diri sejenak, hanya untuk saling menatap dengan pandangan yang penuh gairah dan emosi.

"Jisoo…" suara Rosé terdengar serak. "Aku merindukanmu…"

Jisoo tidak menjawab dengan kata-kata. Sebagai gantinya, ia kembali mencium Rosé dengan lebih dalam, lebih lama.

Mereka berdua terseret dalam emosi yang sama, hingga tanpa sadar langkah mereka bergerak ke arah ranjang, jatuh bersama dalam kehangatan yang dulu begitu mereka rindukan.
.
.

Jisoo terbangun dengan tubuhnya masih dilingkupi oleh kehangatan Rosé. Di balik selimut putih yang menyelimuti mereka, Rosé berbaring di dadanya, jari-jarinya menggambar pola tidak jelas di kulit Jisoo.

"Bagaimana hidupmu saat di sini?" tanya Jisoo tiba-tiba, suaranya lebih lembut dari biasanya.

Rosé menarik napas panjang sebelum menjawab, "Seperti berada di dalam penjara. Aku tidak punya kendali atas hidupku. Semua yang aku inginkan—termasuk kamu—diambil dariku." Ia menggigit bibirnya, menahan emosi yang kembali naik ke permukaan.

Jisoo merasakan dadanya menghangat. Ada perasaan sakit yang menusuknya, tetapi ia tetap diam, mendengarkan.

"Aku mencoba melanjutkan hidupku," lanjut Rosé. "Tapi tidak ada satu pun yang bisa menggantikanmu, Jisoo."

Jisoo menelan ludahnya dengan sulit. Ia tahu apa yang baru saja mereka lakukan adalah sebuah kesalahan. Tapi di saat yang sama, hatinya tidak bisa berbohong—ia masih mencintai Rosé.

Dengan lembut, ia mengusap rambut Rosé, mengecup pucuk kepalanya dengan penuh kasih sayang. "Maaf…" bisiknya pelan.

Rosé mengangkat kepalanya, menatap mata Jisoo dengan intens. "Jangan bilang maaf. Aku tidak menyesal."

[Must Choose] || [Jensoo]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang