Happy Reading
.
.
.
"Jen, jangan begitu di depan Lisa," bisik Jisoo saat mereka sedang berkumpul.
"Kenapa? Memangnya kamu tidak suka?" Jennie mendekat, mengancam akan menciumnya lagi.
Jisoo tersipu. "Bukan tidak suka, tapi... ya malu lah!"
Lisa hanya tertawa dari kejauhan. "Woi! Kalau mau bermesraan, jangan di tempat umum! Aku yang jomblo ini bisa luka batin!"
Jennie melambai ke Lisa tanpa merasa bersalah. "Biar saja! Ini balas dendam karena kemarin kamu menggodaku terus!"
Jisoo menutupi wajahnya dengan kedua tangan, malu sendiri.
.
.
.
Satu sore yang tenang di apartemen, Jennie duduk di karpet ruang tengah, dikelilingi beberapa album foto dan bingkai yang baru saja ia keluarkan dari laci. Senyumnya melengkung tipis saat matanya menyapu satu per satu gambar itu. Suara langkah kaki pelan terdengar dari belakang. Jisoo baru keluar dari kamar setelah mengganti pakaian, rambutnya sedikit acak-acakan.
"Kamu lihat apa, Jendeuk?" tanyanya, ikut duduk di samping Jennie.
Jennie tidak langsung menjawab. Ia meraih satu foto dan menyerahkannya pada Jisoo. "Lihat ini."
Jisoo menerima foto itu. Matanya sedikit membesar saat menyadari itu adalah foto mereka beberapa bulan lalu, saat ia pertama kali mulai tinggal bersama Jennie di apartemen ini. Ia duduk di sofa dengan wajah datar, mengenakan hoodie hitam, sementara Jennie, yang saat itu masih memakai gips di pergelangan kakinya, tersenyum cerah ke arah kamera.
"Waktu itu… kamu baru tinggal di sini, kan?" gumam Jennie sambil menyender pelan ke bahu Jisoo.
"Iya," jawab Jisoo singkat. Matanya masih tertuju pada foto itu. "Aku bahkan tidak tahu kalau kamu mengambil foto ini."
Jennie tertawa kecil. "Kamu mana pernah sadar. Dulu kamu sangat dingin, tahu tidak? Hampir setiap hari wajahmu datar seperti ini." Ia menunjuk wajah Jisoo di foto yang tampak kosong tanpa ekspresi.
Jisoo menahan tawa, lalu menyandarkan punggungnya ke sofa. "Aku memang seperti itu, dari dulu."
"Tapi sekarang beda," balas Jennie cepat. Ia duduk bersila, lalu menatap Jisoo lurus-lurus. "Sekarang kamu bahkan lebih banyak peluk aku daripada aku peluk kamu duluan."
Jisoo mencubit pipi Jennie pelan. "Itu karena aku sudah jatuh terlalu dalam."
Mereka terdiam sejenak, menikmati ketenangan yang hanya dimiliki oleh dua orang yang benar-benar nyaman satu sama lain.
Jennie membuka suara lagi. "Aku mau tanya sesuatu."
"Apa?"
"Kalau kita bisa liburan ke mana pun, kamu ingin ke mana?"
Jisoo tampak berpikir sejenak. "Tempat yang sepi. Pegunungan, atau desa kecil dekat danau."
Jennie mengangkat alis. "Bukan kota besar? Tokyo? Paris?"
Jisoo tersenyum samar. "Kalau aku bersamamu, aku tidak butuh pemandangan yang ramai. Kamu sudah cukup jadi pusat perhatian."
Jennie memukul lengan Jisoo pelan. "Gombal!"
"Tapi kamu suka, kan?"
Jennie tersenyum, pipinya memerah. "Sedikit."
Keesokan harinya, mereka bangun lebih lambat dari biasanya. Hari Minggu memberi mereka izin untuk bermalas-malasan. Jisoo menggeliat pelan, lalu meraih tangan Jennie yang masih memejamkan mata di sebelahnya.
"Kamu tahu nggak?" bisik Jisoo.
"Hm?" gumam Jennie, setengah sadar.
"Kalau kamu tidur, kamu mendengkur pelan. Lucu."
KAMU SEDANG MEMBACA
[Must Choose] || [Jensoo]
Fanfiction⚠️ G×G Area 🚫 _____ "Sampai kapan kau akan tetap merahasiakan ini semua?" "Entahlah, aku tidak tahu" "Tapi kau harus memilih salah satu diantara mereka berdua!" "Apa salah jika aku ingin memiliki keduanya?" "Ck, kau sungguh gila Kim!" _____ 𝐖𝐚𝐫�...
![[Must Choose] || [Jensoo]](https://img.wattpad.com/cover/261126348-64-k409990.jpg)