33

362 70 14
                                        

Happy Reading
.
.

Sejak hari itu, Jennie sudah merasa sedikit cemas. Jisoo akan pergi ke Australia untuk urusan pekerjaan, seminar, dan beberapa jadwal penting. Awalnya, Jisoo mengajak Jennie untuk ikut serta, tetapi Jennie dengan hati-hati menolaknya, takut kehadirannya justru akan mengganggu pekerjaan Jisoo.

"Aku akan baik-baik saja, tenanglah," kata Jisoo dengan senyum tipisnya, meyakinkan. "Ini bukan perjalanan yang panjang. Paling hanya seminggu."

Namun, meskipun Jisoo berusaha meyakinkannya, Jennie tetap merasa ragu. Akhirnya, Jisoo berangkat sendiri. Ia tahu Jennie memiliki alasan sendiri, dan ia juga tak ingin memaksa.

Jisoo menghabiskan beberapa hari di Australia untuk pekerjaan dan menghadiri acara seminar di sebuah universitas terkemuka. Di sana, ia diundang sebagai pembicara utama, berbicara tentang kesuksesannya sebagai CEO muda yang berperan penting dalam industri teknologi.

•••

Rosé duduk di sudut ruang seminar, matanya terfokus pada layar besar yang menampilkan wajah pembicara saat ini. Tidak ada yang spesial, tidak ada yang menarik. Semua orang tampak terpesona dengan kisah sukses seorang CEO muda yang berhasil meraih puncak dalam dunia bisnis.

Hyeri, sahabat sekaligus teman sekelasnya, duduk di sebelahnya, terus berusaha meyakinkan Rosé untuk memperhatikan seminar ini. "Ayo, Rosie! Kamu tidak akan menyesal. Bisa belajar banyak dari orang ini," kata Hyeri dengan semangat.

Tapi Rosé, sejujurnya, lebih tertarik untuk pergi dan melupakan semua yang ada di sini. Ia bahkan tidak benar-benar ingin datang ke acara ini. Semua itu terasa seperti rutinitas yang hanya menambah kepenatan pikirannya.

"Biar saja, Hyeri-ya. Aku tidak suka dengan hal ini,” jawab Rosé pelan, setengah tidak tertarik.

Hyeri mendengus. "Ya sudah, kalau kamu tidak tertarik, ya udah. Tapi aku penasaran dengan orang ini, Rosé. Orang yang sukses banget, bahkan jadi inspirasi buat banyak orang."

Rosé hanya mengangguk, mencoba untuk tidak terlalu mempedulikan.

Tiba-tiba, suara pembicara di atas panggung mengalihkan perhatian Rosé. Nama yang disebutkan membuat hatinya berhenti sejenak.

"Selanjutnya, mari kita sambut Kim Jisoo, CEO muda dari X-Tech," suara itu mengumumkan dengan percaya diri.

Rosé terpaku. Nama itu. Nama yang sudah begitu familiar, yang dulu menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidupnya. Jisoo. Hati Rosé berdebar kencang. Sontak ia mendongak, mencoba mencari wajah yang mungkin hanya ada dalam kenangannya.

Dan saat Jisoo muncul di atas panggung, di bawah cahaya sorotan lampu, Rosé merasa dunia seolah berhenti berputar. Tidak, ini bukan mimpi. Ini nyata. Jisoo, di sana, berdiri dengan karisma yang sama seperti dulu. Satu-satunya orang yang pernah ia cintai dengan sepenuh hati, satu-satunya orang yang pernah memberinya rasa bahagia yang begitu mendalam. Namun, saat ini—Rosé merasa seolah dia bukan bagian dari dunia itu lagi.

Jisoo tampil begitu percaya diri, berbicara dengan lancar tentang pencapaiannya. Namun, ada yang berbeda pada dirinya. Ada sesuatu yang hilang dari Jisoo, sesuatu yang dulu membuatnya begitu hidup—atau mungkin itu adalah cara Rosé memandangnya setelah berpisah.

Saat Jisoo berbicara, Rosé merasa seluruh perasaannya tercabik-cabik. Ia ingin berlari ke panggung dan memeluk Jisoo seperti dulu, tetapi ia tahu itu tidak mungkin.

Setelah acara selesai, Rosé tidak bisa duduk diam. Ia merasa cemas, campur aduk—senang, tapi juga terluka.

Rosé melangkah cepat menuju lorong, matanya menelusuri setiap sudut ruang, mencari sosok Jisoo.

Tak lama, Rosé melihat Jisoo berdiri di kejauhan, berbicara dengan beberapa orang. Hatinya berdegup kencang, napasnya terhenti sejenak. Tanpa berpikir panjang, ia berjalan mendekat, menyuarakan namanya dengan lembut namun penuh harapan.

"Jisoo…"

Dan ketika Jisoo membalikkan tubuhnya, dunia terasa seperti terhenti. Perasaan yang begitu lama terkubur, kini muncul kembali dengan segala kekuatan yang dimilikinya. Jisoo menatapnya dengan mata yang penuh kejutan. Ia terlihat terkejut, bahkan hampir tidak percaya. Ada perasaan tidak jelas di wajahnya. Seperti ada sesuatu yang hilang, dan sekarang kembali datang.

Jisoo terdiam beberapa detik, seperti mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Hanya tatapan kosong yang penuh kebingungan. Namun, Rosé bisa melihatnya. Di mata Jisoo, ia bisa melihat rasa bingung, mungkin juga perasaan terluka.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Rosé melangkah maju dan langsung memeluk Jisoo. Tangan Jisoo tampak kaku, seolah tidak tahu bagaimana harus membalas pelukannya. Rosé tidak peduli, ia hanya ingin merasakan kehadirannya sekali lagi. Ia ingin mengungkapkan semua rasa yang telah terpendam begitu lama.

"Aku sangat merindukanmu," bisiknya dengan suara yang tergetar. "Aku… aku tidak bisa melupakanmu."

Jisoo tetap diam, hanya bisa membiarkan Rosé memeluknya. Suasana hening, dan meskipun mereka berada di tengah keramaian, semuanya terasa begitu pribadi. Tidak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkan apa yang mereka rasakan saat itu. Hanya keheningan yang mengisi ruang antara mereka.

"Aku merasa terkurung, Ji," lanjut Rosé dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Appaku memisahkan kita tanpa aku bisa berbuat apa-apa. Aku… aku merasa seperti terjebak dalam hidup yang bukan aku pilih."

Jisoo menahan napas, namun ia tidak tahu harus berkata apa. Ia ingin menjawab, ingin meyakinkan Rosé, namun di sisi lain, pikirannya juga penuh dengan Jennie, perempuan yang kini ada di hidupnya. Bagaimana mungkin ia memilih di antara keduanya? Bagaimana mungkin ia meninggalkan Jennie yang telah memberi segalanya untuknya?

"Aku masih mencintaimu, Ji," kata Rosé, suaranya sedikit pecah. "Sama seperti dulu."

Jisoo menggigit bibirnya, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang. Ia merasa seperti ada dua dunia yang saling berbenturan di dalam dirinya—satu dengan Jennie yang ia cintai, dan satu lagi dengan Rosé, yang selalu menjadi bagian dari dirinya.

——

Jum'at, 04 April 2025

TBC🥀

[Must Choose] || [Jensoo]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang