31

278 63 9
                                        

Vote n follow me💥

Happy Reading
.
.

Jennie baru saja keluar dari kamar mandi, mengenakan piyama berbahan satin yang nyaman. Rambut panjangnya masih sedikit basah, dan ia sibuk mengeringkannya dengan handuk kecil sambil berjalan menuju tempat tidur.

Namun, sebelum ia sempat duduk, tiba-tiba sepasang tangan melingkar di pinggangnya dari belakang.

Jisoo.

"Jisoo?!" Jennie terkejut, nyaris menjatuhkan handuknya.

Jisoo hanya tersenyum kecil, dagunya bertumpu di bahu Jennie. "Kenapa? Kaget?"

Jennie mengerutkan kening. Biasanya, dialah yang suka melakukan hal-hal seperti ini—mengejutkan Jisoo dengan pelukan tiba-tiba atau godaan spontan. Tapi sekarang?

"Apa yang kamu lakukan?" Jennie mencoba melepaskan tangan Jisoo, tetapi cengkeramannya semakin erat.

"Memeluk kekasihku," jawab Jisoo dengan nada santai.

Jennie menghela napas, berusaha tetap tenang meskipun jantungnya mulai berdetak lebih cepat. "Bukankah biasanya aku yang melakukan ini?"

Jisoo tersenyum miring. "Sekarang giliranku."

Seketika, Jennie merasakan hawa panas di wajahnya. Bukan karena suhu ruangan, tapi karena kedekatan mereka yang begitu intim.

"Sayang, lepaskan."

"Tidak mau."

Jennie berusaha menarik napas dalam-dalam, tetapi sulit ketika Jisoo masih memeluknya erat. "Aku harus tidur."

"Kita bisa tidur seperti ini."

Jennie menoleh sedikit, menatap Jisoo dengan tatapan penuh peringatan. "Jisoo..."

Namun, sebelum ia sempat berkata lebih jauh, Jisoo memiringkan kepalanya dan berbisik pelan di telinga Jennie, "Kamu malu?"

Jennie langsung menegang.

Ia bisa merasakan semburat panas di wajahnya, sesuatu yang sangat jarang terjadi karena biasanya, dialah yang membuat Jisoo salah tingkah.

"Aku tidak malu!" bantah Jennie cepat.

Jisoo terkekeh. "Oh, benarkah?"

Jennie menggigit bibirnya. "Lepaskan aku."

"Tidak mau," ulang Jisoo, kali ini suaranya terdengar lebih lembut. "Aku ingin memelukmu lebih lama."

Jennie terdiam.

Perlahan, ia mulai menyerah, membiarkan dirinya tenggelam dalam dekapan hangat Jisoo.

Mungkin, hanya kali ini.

Mungkin, ia bisa membiarkan Jisoo menang kali ini.

Tapi besok?

Jennie akan memastikan untuk membalasnya berkali-kali lipat.

•••

Hari itu, Jennie memutuskan untuk mengunjungi kantor Jisoo. Sambil membawa makanan siang favorit Jisoo—bento dengan isian lengkap yang sudah ia siapkan dengan penuh cinta. Ia ingin memberi kejutan, sesuatu yang manis untuk menunjukkan perhatiannya.

Namun, saat memasuki kantor, suasana terasa sedikit berbeda dari biasanya.

Jisoo, yang baru saja selesai rapat, sedang duduk di meja kerjanya, sibuk dengan laptopnya. Wajahnya yang biasanya terlihat dingin kini tampak lebih santai, sedikit kelelahan namun tetap mempesona.

Jennie menyelinap mendekat, menyodorkan bento yang masih panas. "Makan siang untukmu, sayang," ujarnya sambil tersenyum, berharap dapat melihat senyum Jisoo yang selalu bisa membuat hatinya berdebar.

[Must Choose] || [Jensoo]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang