Marsha itu bukan tipe yang suka ramai, Dia bisa nyapa orang duluan, bisa ngobrol ringan sama siapa pun...
Tapi jauh di dalam, dia lebih nyaman diam.
Lebih sering jadi pendengar daripada pencerita, Lebih senang memperhatikan daripada diperhatikan.
Dia juga bukan siswi yang populer, tapi dia juga cukup dikenal.
Bukan si pendiam, tapi juga bukan yang selalu jadi pusat suara.
Seimbang... tapi cenderung menyendiri.
Sampai saat dia menginjak kelas dua Sma awal yang sedikit mengubah pribadinya, Marsha saat ini berada di kelas dua tepat di sebelah seorang cowok yang-dari tampang dan gayanya-jelas bukan tipe yang bakal ngajak ngobrol duluan.
Wajahnya selalu Datar, tingkahnya juga sangat kalem, selalu fokus pada pelajaran-meski dia juga sering nakal seperti siswa pada umumnya.
Gak banyak senyum Bahkan... terkesan anti-sosial.
Awalnya Marsha memang tidak terlalu tertarik tapi tetap memperhatikan, tapi itu karena dia teman satu kelasnya saja.
Sampai satu sesi latihan soal yang memaksa mereka diskusi kelompok.
Dan di tengah keheningan itu...
"Kalo planet Saturnus dicemplungin ke laut, itu bakal ngambang gak sih? Kan dia ringan." ucapnya cukup berpikir keras.
Marsha yang lagi fokus ke soal matematika... mendongak,
"Apa... barusan?" balasnya takut salah dengar.
"Ngambang gak, menurut lo?" ulang siswa itu, wajahnya semakin menunjukan keseriusan.
Lalu lelaki itu memperlihatkan catatannyan,
"Saturnus tuh katanya lebih ringan dari air, kan?" lanjutnya bertanya.
Marsha terdiam sambil terus menatap lelaki bernama Freyan itu, Lalu... ketawa kecil.
Pertama jelas karena Marsha merasa sangat heran.
Kedua karena... jujur aja, itu pertanyaan paling absurd yang pernah dia denger di ruangan sepenuh itu.
Dari situlah semuanya berubah.
Diam diam Marsha mulai memperhatikan dan setiap berpapasan, Freyan selalu punya komentar yang gak penting, gak masuk akal, tapi entah kenapa... lucu.
"Menurut lo, cicak itu pahlawan atau pengkhianat? Kan dia makan nyamuk, tapi bikin orang trauma."
"Lo percaya gak, kalo suara kentut bisa pecahin es hubungan orang?"
"Gue rasa, kalau semangka bisa bicara, dia pasti marah karena cuma dagingnya yang dimakan."
Asal bunyi.
Gak nyambung, Gak penting, tapi entah mengapa itu malah membuat Marsha si pemikir sunyi yang hidup dalam logika, merasa hidupnya diselipin semacam... glitch yang menyenangkan.
Dari setiap ekspresi datarnya itu ternyata Freyan menyimpan dunianya sendiri dan sangat absurd.
Dan sekarang, bisa dibilang Marsha merasa nyaman di sana.
---
Mereka jarang ngobrol berdua dan serius tapi Marsha selalu nunggu, apa lagi yang akan keluar dari mulut lelaki itu.
Karena bagi Marsha yang biasa hidup dalam tenang...
satu orang yang bisa bikin pikiran kacau dengan cara menyenangkan, adalah orang yang layak diperhatikan.
---
---
Dan kesempatan yang tak ditunggu tapi Marsha pun tak menolak, ketika mereka berdua mendapat tugas penelitian bersama.
Dan ini sudah hari ketiga penelitian.
Mereka duduk berdampingan di perpustakaan sekolah, laptop terbuka, catatan berserakan, dan bekal roti sobek sudah habis sejak 20 menit lalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ksatrya Girl 2 (END)
Action"lo gak bisa semudah itu ngalahin gue fre, sampai kapanpun gue yang akan nyatuin SMA Ksatrya ini gue yang pantas jadi pentolan SMA ini" Azizi Naura Mentari "haha gue saat ini cuma sedang main main zee kalo itu yang lo bilang ayo gue juga akan serius...
