Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Studio itu hangat oleh suara gesekan senar, denting reverb dari ampli tua, dan deru kipas langit-langit yang tak henti mengayun. Di pojok ruangan, Wira-gitaris dari band Venial Skies-duduk bersandar dengan Fender Stratocasternya, jari-jarinya masih mengalir pelan di atas fret. Wira tahu ia sendiri malam itu, sebelum mendengar suara langkah ringan dan denting kunci yang masuk ke ruangan latihan mereka yang seharusnya kosong.
"Aku tahu kamu di sini," Suara Rayya terdengar pelan, berdiri di ambang pintu dengan hoodieJatra-kekasihnya yang juga gitaris, tapi dari band berbeda-melorot dari bahunya, memperlihatkan bahu telanjang yang dingin dan kulit putih bersih.
Wira menoleh, diam menatap Rayya seolah mencoba mengingatkan dirinya bahwa ini seharusnya tak terjadi lagi. Tapi tetap saja, tubuhnya bergerak perlahan, menaruh gitarnya ke samping. Malam ini terlalu lengang dan Rayya berdiri di sana, seperti bait lagu yang belum selesai ia tulis sejak bulan lalu.
Napasnya terdengar berat, "Aku nggak bisa tidur," Ujar Rayya dengan suaranya rendah, ia mendekati Wira.
Wira tersenyum miring, "Gak bisa tidur terus datang padaku daripada mendatangi kekasihmu?" Ia berdiri seolah membiarkna Rayya memeluknya dari depan-kepala Rayya bersandar di dada Wira yang hangat, "Jatra ke mana?" Wira tahu, ini lebih dari sekadar salah. Ini candu yang tak bisa ia tinggalkan.
"Iya, harusnya aku nggak ke sini.. tapi sama Jatra," Rayya bergumam, namun tangannya mencengkeram kaus Wira lebih erat, seolah tubuhnya butuh perlindungan yang hanya Wira bisa beri, "Tapi, Jatra lagi sibuk tur luar kota."
"Kasihan," Bisik Wira, bibirnya sudah menyentuh pelipis Rayya yang lembut dan hangat.
Pelukan mereka berubah menjadi sentuhan. Rayya menarik tangan Wira, menuntunnya ke sofa kulit hitam di pojok ruangan-tempat mereka biasa mereka bermesra-mesraan ketika bandmates Wira sudah pulang.
Suara napas berpadu dengan derit kulit sintetis dan desahan yang ditahan. Sentuhan Wira penuh ketegangan, seperti petikan solo gitar minor yang tak selesai. Rayya membalasnya dengan gerakan yang pelan, lembut, matanya terpejam, wajahnya seperti lagu sendu yang nyaris tenggelam dalam sunyi. Setiap hela nafas menjadi ritme baru. Jemari Wira menyusuri lekuk tubuh Rayya sehalus saat ia memainkan lagu balada. Dan ketika mereka bersatu dalam diam, tak ada lagi yang terdengar kecuali jantung mereka yang saling berpacu.
Setelahnya, Rayya masih rebah dalam dekapan Wira dengan ambutnya yang basah oleh keringat yang menempel di dahinya, matanya menerawang ke langit-langit ruangan.
"Aku sayang kamu, Wira." Celetuk Rayya dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Wira menatap langit-langit yang sama, "Haha, Jatra gimana kalau kamu sayang aku?" Sahutnya dengan senyum miris.
Rayya menutup matanya, "Kenapa kamu mikirin Jatra sih?" Merasa jenggah mendengar nama kekasihnya.
"Karena kalau Jatra tahu, kita berdua bakal hancur."
Ucapan Wira menggantung di udara seperti gema akor yang tak diberi penutup, Rayya memilih diam dan menarik selimut tipis yang tergeletak di sisi sofa, menutupi tubuhnya yang mulai dingin oleh rasa bersalah yang menyusup perlahan. "Aku benci kalau kamu ngomong kayak gitu," Gumamnya akhirnya. "Kamu selalu bikin aku merasa ini salah, tapi kamu juga yang nggak pernah benar-benar nyuruh aku pergi."
Wira menarik napas dalam. Ia mengalihkan pandangan, menatap senarnya yang berpendar samar di bawah lampu studio. "Karena aku pengecut, Rayya, aku gak mau pergi.. aku mau kamu tetap bersamaku tapi aku juga takut Jatra tahu, takut kamu bertengkar dengannya."
Rayya tersenyum pahit. "Aku nggak bisa terus begini, Wira.. sebenarnya aku capek pura-pura nggak mikirin kamu waktu lagi sama Jatra, capek nyembunyiin bekas ciuman kamu pakai foundation."
Wira mencium jari-jari Rayya, "Aku tahu."
Rayya menatap Wira yang masih menggenggam tangannya. Pandangan mereka bertemu. Tak ada yang bicara, tapi mata mereka saling memuntahkan isi hati yang tak bisa diucapkan. Di luar, hujan mulai turun pelan-pelan. Irama rinainya membungkam ruang, seperti latar bagi dua manusia yang terlalu takut kehilangan, tapi terlalu takut memilih.
"Aku mau kamu, Wira..." Bisik Rayya akhirnya, "Tapi aku juga... gak bisa ninggalin Jatra gitu aja."
Wira mengangguk pelan, senyumannya pahit seperti nada mayor yang dimainkan di lagu berkabung. "Aku gak minta kamu ninggalin dia sekarang atau besok, aku cuma mau kamu tahu, tiap kamu datang ke sini, aku jadi yakin hidupku nggak kosong."
Rayya menghela nafas samar, "Kita egois, ya?"
"Ya, mungkin."
Rayya tertawa hambar, sebelum akhirnya membenamkan wajahnya ke dada Wira. "Kadang aku mikir.. mungkin semuanya bakal beda kalau dulu aku ketemu kamu duluan, Wira." Pelan, lelah dan hancur dalam pelukan yang seharusnya tidak ada.
"Tapi kita gak ketemu duluan, Rayya.. kita ketemu waktu kamu udah punya seseorang yang baik dan itu masalahnya."