Hujan turun tipis sejak siang, menempelkan bau tanah basah ke udara apartemen. Tirai jendela setengah terbuka, membiarkan cahaya abu-abu masuk dan mengaburkan warna-warna di dalam ruanganㅡSatrama Hilan diam duduk di sofa, setelah tanpa sengaja melihat tanggal hari ini pada layar handphonenya, tanggal yang seharusnya menjadi hari istimewa, ulang tahun. Tapi bagi Satra, tanggal itu selalu datang membawa rasa cemas yang samar tapi menggerogoti.
Satra selalu mengingat dan sadar jika hari ulang tahun tidak diwarnai pesta atau ucapan manis, tapi penuh target. Masa kecil hingga tahun lalu, ia selalu dituntut oleh Ayah dan ibunya yang selalu merasa tidak puas hanya dengan baik—mereka menginginkan sempurna. Setiap ulang tahun, hadiah yang Satra terima bukan barang yang menyenangkan, melainkan buku latihan soal atau sertifikat lomba terbaru yang harus ia raih tahun depan. Bahkan ucapan selamat ulang tahun yang diucapkan kedua orang tuanya pun selalu diikuti dengan daftar panjang target baru,
"Nilai rapormu harus di atas 95 untuk semua mata pelajaran."
"Kalau mau hadiah, juara umum lagi tahun depan."
"Kamu harus mempertahankan IP-mu, pertahankan tetap 4."
Tidak hanya akademik, tapi juga di bidang non-akademik, tuntutannya samaㅡLebih parahnya saat Satra masih SMA, ia harus menjadi kapten futsal, menjadi ketua OSIS, dan jangan lupa juga mengikuti olimpiade. Dan, sekarangㅡSatra yang sudah duduk di bangku perkuliahan semester 3 program studi manajemen, ia bergabung organisasi BEM dan HIMA.
Satra benar-benar tumbuh dengan prestasi yang mengkilap di mata orang luar, tapi tidak ada yang tahu jika ia rapuh di dalamㅡAh, hanya ada satu orang yang tahu jika setiap kesalahan kecil yang dilakukan Satra adalah bencana, setiap nilai sedikit turun adalah aib, dan tahu jika Satra terlalu takut untuk mencoba hal baru—karena gagal berarti hukuman, dan berhasil berarti target baru yang lebih berat.
Satra sadar jika ia sudah dewasa dan tinggal jauh dari rumah dikarenakan universitasnya yang jauh dari rumah sehingga mengharuskan ia untuk tinggal sendiri, tapi meski jauh dari orang tuanyaㅡtekanan itu tetap ada, seperti bekas luka yang tidak akan pernah hilang. Hari ulang tahun pun hanya menjadi pengingat bahwa usianya bertambahㅡ20 tahun, dan tuntutan masa lalu tetap menempel di pikirannya.
Klek
Suara pintu apartemen terbuka perlahan, Satra menolehㅡsedikit tegang, menduga jika orang tuanya yang datang tanpa memberi kabar, tapi, ketegangan yang dirasakan Satra langsung sirna saat mendapati sosok Arasha Hagiala memasuki apartemen dengan menenteng dua paperbag, salah satunya berlogo toko kue. Setelah menutup pintu, Rasha melepas sepatu, lalu menghampiri Satra dengan senyum tipis—senyum yang tidak pernah dibuat-buat.
"Hari ini dingin sekali, ya," Kata Rasha dengan nada suaranya ringan, matanya memerhatikan Satra dengan cermat. "Kamu belum makan siang?" Bertanya sebelum duduk di samping Satra yang tidak bergerak menyambutnya.
"Gak lapar." Satra memperhatikan lamat Rasha, "Kenapa kamu tiba-tiba datang ke sini? Gak kabarin aku dulu, kamu naik apa? Mobil? Nyetir sendiri? Diantar? Siapa yang antar?"
Rasha tidak membalas rentetan pertanyaan Satria. Ia meletakkan kantong kertas di meja, lalu mengeluarkan sebuah kotak kue bulat berukuran kecil. Di atasnya sudah ada lilin yang belum dinyalakan. Kue itu sederhana—hanya cokelat dengan taburan parutan keju—tapi wangi manisnya langsung memenuhi ruangan.
"Rasha..." Satra menghela napas panjang, nada suaranya setengah protes. "Kamu gak perlu—" Hendak menolak seperti tahun sebelumnya—tapi Rasha tetap menyalakan lilin kecil di atas kue itu.
"Tahu," Potong Rasha lembutㅡKali ini ia tidak akan mendengarkan Satra seperti tahun lalu, karena ia ingin Satra kembali merasa lebih bahagia di hari kelahirannya. "Tapi aku mau." Ia menatap Satra lama, lalu berkata dengan nada yang dalam dan penuh ketulusan,
"Selamat ulang tahun, Satra... terima kasih sudah lahir, terima kasih sudah bertahan sejauh ini.. kamu terbaik dari yang terbaik."
Satra terpaku. Kata-kata itu begitu asing baginya, tapi justru terasa seperti sesuatu yang selalu ia rindukan tanpa sadar. Tidak ada daftar target, tidak ada tuntutan, tidak ada syarat untuk dicintai—hanya ucapan tulus yang mengakui keberadaannya. Dada Satra terasa sesak, ia bahkan mencoba menertawakan ucapan itu untuk mengalihkan rasa haru, tapi suaranya bergetar. "Kamu... tahu gak, ini pertama kalinya aku dengar ucapan kayak gitu di hari ulang tahun."
Rasha tersenyum tipis, matanya hangat. "Kalau gitu, biar aku jadi orang pertama... dan semoga nggak jadi yang terakhir."
Satra menunduk, bahunya sedikit bergetarㅡmenahan tangis dan Rasha tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya diam seolah membiarkan Satra mengatur napas, membiarkan kesunyian terisi oleh suara hujan dan aroma kue cokelat.
"Kalau aku tiup lilinnya..." Satra mengangkat wajahnya perlahan, mata yang basah menatap Rasha. "...boleh aku berharap?"
Rasha mengangguk. "Boleh. Tapi kali ini... nggak ada target, nggak ada batas waktu. Harapannya cuma buat kamu.. kebahagiaan kamu."
Satra menghirup napas panjang, lalu menutup mata. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia meniup lilin ulang tahun tanpa merasa terancam oleh beban yang menunggu di tahun berikutnya.
Asap tipis dari lilin masih melayang, teraduk pelan oleh hembusan angin dari jendela. Satra menunduk sejenak, mencoba menghapus cepat sisa air mata dengan punggung tangannya.
Tanpa berkata apa-apa, Rasha bergerak mendekat, jaraknya kini hanya sejengkal. Tangan hangatnya menyentuh pipi Satra, jempolnya menyeka sisa air yang lolos dari sudut mata. Sentuhannya pelan, seolah takut merusak sesuatu yang rapuh. "Kamu nggak harus selalu kuat di depanku," Ucap Rasha pelan, hampir seperti bisikan. "Kalau capek, ya bilang. Kalau mau nangis, ya nangis. Aku di sini bukan buat nilai kamu."
Satra mengerjap, menatap mata Rasha yang tenang namun penuh keyakinan. Rasanya aneh—aneh karena ia tidak merasa perlu menyembunyikan apapun. Tidak ada wajah sempurna yang harus ia tunjukkan, tidak ada prestasi yang harus ia laporkan. "Rasha..." Suaranya parau, "...aku takut. Takut kalau aku berhenti berusaha, orang tuaku bakal kecewa dan ninggalin aku."
Rasha tersenyum tipis, lalu meraih jemari Satra dan menggenggamnya erat. "Kalau mereka pergi cuma karena kamu nggak sempurna, berarti mereka nggak pernah benar-benar ada buat kamu. Kalau mereka benar-benar meninggalkan kamu, aku masih di sini.. aku akan menemani kamu sampai mereka kembali lagi untuk menemui kamu."
Ucapan itu membuat Satra merasa dadanya hangat sekaligus perih—hangat karena dipahami, perih karena menyadari betapa ia selama ini kelaparan akan penerimaan seperti itu.
Rasha menarik Satra ke dalam pelukannyaㅡ Merasakan tubuh Satra yang sempat kaku, tapi perlahan membiarkan tubuhnya tenggelam di dekapan itu.
"Selamat ulang tahun, sayang.." Bisik Rasha di dekat telinga Satra. "Terima kasih... karena kamu sudah bertahan sampai hari ini."
Satra memejamkan mata, untuk pertama kalinya, ulang tahunnya bukan hanya tentang target karena bertambahnya umur. Tapi juga tentang menemukan seseorang yang membuatnya ingin tetap hidup.
KAMU SEDANG MEMBACA
7. Foxey
Short StoryRenjun with his dominants, beberapa alur yang gagal didebutkan menjadi buku.
