when eunseok loves renjun.

113 5 0
                                        

Ethan Allaric tak pernah percaya pada cinta

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ethan Allaric tak pernah percaya pada cinta.

Baginya, cinta adalah alat tawar-menawar—transaksi tak kasatmata yang dipenuhi tuntutan, janji kosong, dan kerapuhan. Selama ini ia tumbuh dikelilingi kekuasaan dan orang-orang yang menjual kepatuhan demi bertahan. Maka ketika ia pertama kali melihat Ralana Kaleis—si pelayan baru yang terlalu sunyi untuk menarik perhatian—Ethan nyaris melewatkannya.

Namun sesuatu tentang Ralana memaksa Ethan berhenti. Bukan wajahnya. Bukan tubuhnya. Tapi caranya berdiri... tenang, tunduk, namun tak hancur. Ada sesuatu dalam mata laki-laki itu—samudra tanpa riak, yang tak akan pernah menolak apa pun yang dilemparkan ke dalamnya.

Ethan mendekat, bukan karena cinta. Tapi karena nalurinya mengenali sesuatu yang bisa dimiliki sepenuhnya. Pengabdian. Dan Ethan tahu caranya menaklukkan.

Ralana tidak pernah berkata tidak. Ketika ia dibawa pindah ke kamar tuan muda, ia hanya mengangguk. Ketika pekerjaannya berubah dari menyajikan teh menjadi menyelimuti tubuh Ethan setiap malam, ia tak bertanya. Tak ada air mata. Tak ada tanya. Hanya kalimat sederhana yang membuat Ethan terdiam malam itu, "Kalau ini yang kau butuhkan untuk merasa hidup, maka ambillah." Dan Ethan pun percaya—bahwa inilah cinta. Versi cinta yang tak menuntut. Yang diam, patuh, dan hanya untuknya. Namun cinta seperti itu bukanlah cinta, itu adalah cermin bagi keserakahan yang dibungkus kelembutan.

Hari demi hari, Ethan semakin menuntut. Tak cukup kehadiran fisik; ia ingin pikiran Ralana, hatinya, dunianya. Ia ingin dipeluk, diikuti, dipandang, bahkan saat ia menghancurkan segalanya. Ia ingin jadi pusat semesta. Dan Ralana... tetap memberi, dengan senyum yang tak berubah, dengan suara yang tak pernah meninggi.

Hari-hari mereka dipenuhi sunyi. Bukan sunyi yang hampa, tapi sunyi yang pekat—seolah setiap kata yang tak terucap menjadi batu yang menumpuk di antara mereka.

Pagi datang dengan denting lembut piring porselen. Ralana selalu lebih dulu bangun, menyiapkan kopi Ethan tanpa diminta. Ia hafal kadar gula yang tak disukai, suhu ideal yang disukai, bahkan tahu bahwa Ethan hanya akan menyentuh cangkirnya jika diletakkan di sisi kanan meja kayu jati tua itu.

Ethan tak pernah bilang terima kasih, ia hanya menatap sebentar, mengangguk pelan atau  bahkan tak berkata apa pun. Namun pandangannya tak pernah lepas dari Ralana. Seolah mencari cela. Seolah memastikan bahwa laki-laki itu masih miliknya, masih tunduk, masih penuh.

Malam-malam mereka adalah rutinitas yang dingin namun intens. Ralana duduk di tepi tempat tidur, menunggu Ethan mengganti baju, lalu memandikan luka yang tak terlihat. Ethan bisa bicara panjang lebar tentang rapat dewan yang membosankan, tentang ayahnya yang memaksa, tentang dunia yang membebaninya. Ralana hanya mendengarkan—dengan wajah tenang, tangan lembut, dan dada terbuka untuk menjadi tempat bersandar.

Ada hari di mana Ethan pulang dalam keadaan marah karena seseorang di rapat mempertanyakan otoritasnya, dan amarah itu dibawa sampai rumah. Ia melempar jasnya ke lantai, menghantam pintu hingga bergetar, dan menemukan Ralana sedang menyalakan lilin di kamar.

7. FoxeyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang