Bond Of 1920.
"Dulu ada pribumi yang cantik sekali sampai membuat semua orang menyebutnya sebagai primadona, banyak kaum penjajah yang menyukainya." wanita berusia delapan puluh lima tahun itu menjeda kalimatnya sembari mengamati paras pemuda di hadapannya saat ini, "tapi.. sewaktu ada kabar jika dia akan menikah dengan sesama pribumi.. beberapa hari sebelum pernikahan, ia diculik dan memunculkan konspirasi jika kaum penjajahlah menculiknya."
"bagaimana bisa ada konspirasi seperti itu?"
wanita tua itu tersenyum senang karena pemuda di hadapannya bersuara, "karena sebelum berita dia menikah, ada banyak sekali kaum penjajah yang melamarnya.. namun, ditolak oleh sang Ayahnya."
"Ayahnya menolak? apa gelarnya.. maksudku, bagaimana bisa ada pribumi yang berani menolak penjajah?" pemuda itu mengrenyit.
"Ayahnya adalah seorang yang berpengaruh saat itu, sehingga berani menolak para kaum penjajah. Namun, pada dasarnya pribumi yang memiliki pengaruh tetap saja akan tertindas oleh kaum penjajah dan terlebih beberapa yang menyukai putranya adalah kaum penjajah yang memiliki gelar cukup tinggi."
pemuda di hadapan wanita tua itu terdiam sesaat, "lantas kenapa beliau tidak menerima lamaran dari salah satu kaum penjajah yang memiliki gelar tinggi saja?"
"sebab Ayahnya tau jika para kaum penjajah menyukai putranya hanya karena parasnya.. bahkan beberapa dari mereka yang melamar adalah seseorang yang sudah menikah dan ingin menjadi dia madu."
pemuda itu tertegun, "lalu.. apa yang mereka lakukan saat menculiknya?"
"mereka menculiknya, menyiksanya, memperkosanya dan membunuhnya."
tangan pemuda itu menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut atas ungkapan wanita tua itu, "sungguh atau hanya konspirasi?"
"jasadnya ditemukan di sebuah bangunan tua setelah beberapa Minggu hilang, terdapat banyak memar akibat pukulan dan luka tembak pada bagian punggung telapak tangan." kedua mata wanita itu melirik punggung telapak tangan pemuda dihadapannya, "tepat seperti itu." tunjuknya membuat pemuda itu menatap punggung telapak tangannya sendiri.
"ini tanda lahirku.."
"percaya atau tidak, tanda lahir adalah bagaimana cara seseorang mati."
"maksudnya?"
"apa kamu penasaran tentang paras seseorang yang disukai oleh kaum penjajah yang juga mati di tangan kaum penjajah itu?"
pemuda itu terdiam.
"namanya Rana Arthamatha, lukisannya diabadikan di museum 1920.. "
"um.. kalau aku boleh tau, berapa kaum penjajah yang terlibat?"
"ada.. banyak yang terlibatㅡtapi, beberapa orang dengan gelar tinggi yang paling dikenal adalah Mikael Leescava dan Johan Isaac dari Belanda dan Nakamoto Jaemin dari Jepang."
"apa mereka dihukum?"
wanita itu tersenyum miris, "kaum penjajah adalah kasta tertinggi dan dengan uang maka mereka bisa mengendalikan segalanya."
"lalu.. bagaimana dengan nasib calon pengantinnya?"
"miris sekali, dia Satya Damaraka.. calon pengantinnya membuat laporan pembunuhan.. sayangnya pihak pemerintah tidak merespon dan berakhir ia bunuh diri."
pemuda itu tertegun.
"padahal, konon katanya mereka sangat saling mencintai.." lirih wanita tua itu, hatinya terasa sakit menceritakan ulang kisah tragis yang puluhan tahun disembunyikan pemerintah, "ya.. saya hidup di tahun mereka, segala berita tentang mereka tersebar luas dan dalam sekejap hilang begitu saja karena pengaruh kaum penjajah."
wanita itu menepuk bahu pemuda yang masih terdiam, "saya selalu berharap jika mereka bisa dipertemukan kembali, bisa bersatu selayaknya dan seharusnya." harapannya sangat besar mengingat seberapa tragis kisah yang ia saksikan sendiri pada tahun itu, "kamu.. kunjungilah museum 1920, lihatlah, di sana banyak sekali kenangan tentang kisah Rana dan Satya serta ketiga penjajah.. ada surat yang ditinggalkan Satya sebelum ia bunuh diri, juga ada pengakuan ketiga penjajah yang ditulis oleh Ajudan mereka sebelum ketiga penjajah itu tewas di medan perang."
ini cuma tulisan random.
KAMU SEDANG MEMBACA
7. Foxey
Short StoryRenjun with his dominants, beberapa alur yang gagal didebutkan menjadi buku.
