when renjun loves guanlin.

130 9 0
                                        

Breaking Boundaries

Langit di perbatasan itu tidak pernah mengenal fajar. Warnanya kelam, seperti tinta yang dituangkan di atas hamparan kosong. Di satu sisi, cahaya keemasan surga masih berusaha menembus kabut gelap. Di sisi lain, api neraka berkobar, menggerogoti tanah yang retak dan hitam. Di sinilah batas dunia berada—garis tipis yang memisahkan suci dan terkutuk, tempat di mana malaikat dan iblis saling memandang tanpa pernah benar-benar menyentuh.

Di atas batu hitam yang menjulang, Gamaiel Lith berdiri dengan kedua sayap hitamnya terentang lebar. Sayap itu besar, bagaikan bayangan burung pemangsa, dengan ujung bulu merah menyala seolah berlumur api. Matanya, berkilat seperti bara yang tak pernah padam, menatap ke seberang kabut.

Sejak ratusan tahun lalu, Gama menjaga perbatasan ini. Bukan karena ia diperintah, melainkan karena tidak ada tempat lain untuknya. Neraka membencinya karena pikirannya yang berbeda, dan surga mengutuknya karena pengkhianatan di masa lalu. Gama ibarat sisa arang dari nyala api, tidak berguna namun tak bisa dipadamkan.

"Kesepian ini..." Gama bergumam pelan, suara seraknya teredam angin panas. "Mungkin satu-satunya hal yang abadi."

Namun kesepian itu tidak berlangsung lama. Dari balik cahaya kabut, muncul sosok dengan sayap putih menjuntai indah, seperti lembaran salju di bawah sinar matahari. Aura terang memancar, menembus kegelapan dengan keanggunan yang menusuk mata.

Runa Irish.

Angel muda itu turun dengan pedang bercahaya di tangan. Tatapannya tajam, biru seperti langit musim semi, namun sarat dengan kewaspadaan. Setiap langkahnya seperti denting lonceng suci, menentang kepekatan neraka yang mengelilingi.

"Kau lagi," suara Runa terdengar dingin, meski samar ada nada kelelahan. "Berapa kali aku harus mengingatkanmu untuk tidak melangkah lebih jauh dari batas ini, demon?"

Gama terkekeh, suara tawanya berat dan menggema. "Lucu. Aku bahkan belum menyeberang, tapi kau datang seakan aku sudah menodai tanah surgamu."

"Karena aku tahu kau akan mencoba," balas Runa cepat, pedangnya terangkat setengah. "Dan tugasku adalah menghentikanmu."

Gama menatapnya, lama. Ada sesuatu yang tak bisa ia pahami di sana—di balik ketegasan Runa, ada keraguan kecil. Bukan pada pedangnya, melainkan pada dirinya sendiri. Gama bisa merasakannya, karena ia pernah melihat mata yang sama... dulu, sebelum ia jatuh.

"Kau terlalu muda untuk berjaga di sini," ujar Gama, suaranya merendah, seperti lirih yang menyelinap. "Apa para malaikat sudah kehabisan prajurit hingga mengirim anak sepertimu?"

Runa terdiam sepersekian detik, wajahnya menegang. "Diam, demon. Kau tak punya hak menyebutku anak."

Gama tersenyum samar, namun kali ini tanpa ejekan. Ia menurunkan sayapnya, lalu melangkah pelan ke arah batas tipis yang memisahkan mereka. Api neraka menjilat tanah di bawah kakinya, sedangkan cahaya surga bergetar lembut di seberang. Dua kekuatan itu bertubrukan, menciptakan gemuruh halus di udara.

"Katakan, angel..." Gama menunduk sedikit, menatap lurus ke mata biru itu. "Jika suatu hari aku benar-benar melangkah melewati batas ini, apakah kau akan membunuhku... atau melindungiku?"

...

Pertemuan itu tidak berakhir dengan damai. Bahkan setiap kali Gama dan Runa berjumpa di batas dunia, selalu ada percikan api dan cahaya yang saling berbenturan.

Malam berikutnya, langit kembali kelam tanpa bulan. Api neraka menjilat ke udara, sementara kilau lembut surga tetap bertahan, seakan tak ingin kalah. Di tanah retak itu, Gama dan Runa berhadapan sekali lagi.

7. FoxeyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang