Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Malam ketika bulan tak menampakkan wajahnya, Gastara Fathㅡiblis kelas tinggi dari lapisan ketujuh Neraka, duduk di singgasana dari tanduk binatang purba, tubuhnya menjulang dengan sayap arang terlipat di punggung, tanduknya berdenyut seperti detak jantung dan mata merah menyala seperti bara api yang saat ini menatap seorang pria bertudung gelap—manusia fana yang datang menghadapnya dengan membawa darah dan kebencian.
“Aku ingin Runaka Lein mati, segera bunuh dia.”
Mendengar perintah manusia yang dipenuhi dendam, Gastara mengangkat sebelah alis. “Banyak manusia yang ingin mati, dan lebih banyak lagi yang pantas dibunuh. Tapi kenapa dia?”
“Bukan urusanmu. Kau demon. Kau terikat perjanjian. Aku membawa tumbal dan darah pengikat. Lakukan.”
Darah perjanjian mengikat Gastara, membuatnya harus melaksanakan permintaan itu. Namun, ia bukan makhluk yang gemar membabi butaㅡIa memilih untuk menyamar sebagai manusia dan mendekati targetnya. Sering kali, ketakutan menjadi senjata paling manjur sebelum kematian datang. Maka ia menyembunyikan tanduk dan sayapnya sebelum masuk ke dunia manusia dengan nama, "Astara Fael" Untuk sekedar mendekati targetnya, Runaka Lein.
“Ah... kamu pengunjung baru ya?” Tanya Runaka saat pertama kali melihat Gastara—yang saat itu berdiri canggung di antara rak buku tua, "Ingin mencari buku apa? Akan aku bantu, tenang saja, aku penjaga perpustakaan ini."
Gastara hanya mengangguk. Tapi yang membuatnya tercengang adalah Runaka tersenyum. Murni. Tanpa curiga, tanpa takut.
“Ngomong-ngomong aku Runaka. Kalau kamu butuh bantuan, panggil saja aku.”
Pertemuan di hari itu, membuat Gastara sadar jika Runaka Lein bukan seperti yang ia bayangkan. Runaka bukan pahlawan, bukan penyihir kuat, bukan pula pendeta pemurni dosa. Runaka hanyalah seorang pemuda pendiam yang bekerja di sebuah perpustakaan kecil di pinggir kotaㅡGastara memperhatikan gerak-gerik Runaka yang terlampau tenang, suaranya lembut, dan tubuhnya selalu tampak membawa luka entah dari mana.
Sejak saat itu pula, Gastara kembali—lagi dan lagi. Awalnya untuk mengamati. Lalu untuk memahami. Lalu, tanpa sadar, untuk merasaㅡMereka mulai dekat, Runaka selalu membantu Gastara ketika iblis itu mencari sebuah buku, yang mana sebenarnya Gastara hanya berpura-pura.
Tak hanya interaksi di perpustakaan, melainkan di luar perpustakaanㅡSaat jam makan siang, Gastara mengajak Runaka berjalan-jalan ke luar, membuat Gastara melihat sisi kemanusiaan Runaka yang memberi makan kucing-kucing liar yang Gastara kira akan diabaikan. Gastara juga memperhatikan Runaka yang bersedia ketika membaca puisi-puisi kesedihanㅡ Membuktikan bahwa hati Runaka benar-benar lembut. Gastara tak melihat ada kebencian dalam diri Runaka. Bahkan ketika seseorang mencaci di jalan, Runaka hanya menunduk, menahan, memaafkan.
“Mengapa kau begitu?” Tanya Gastara
“Begitu bagaimana?”
“Begitu... tidak marah. Tidak membalas. Tidak membenci saat ada pelanggan atau orang lain mencacimu?"