Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Langit di atas Virelen pekat, menggantungkan awan berat seolah dunia enggan bermimpi malam itu. Di tengah siraman cahaya bulan setengah mati, seorang lelaki berkulit pucat dan beraroma kematian melangkahkan kakinya—Heaven Seth, pewaris tunggal klan vampir Velareth yang telah ada sejak darah pertama ditumpahkan di bumi.
Heaven tidak mencari mangsa seperti biasanya. Malam ini ia berjalan pelan, langkahnya bagaikan bayangan, karena ada satu manusia yang terus menghantuinya bahkan saat ia memejamkan mata tak hidupnya—Raesa Damais, seorang lelaki yang seharusnya tak berarti apa-apa. Lemah. Submisif. Mudah dilukai. Tapi justru karena itu... Heaven tidak bisa menyingkirkan bayangan tubuh mungil Raesa, yang saat ini berstatus sebagai pekerja di toko buku kecil yang sering Heaven kunjungi.
Raesa benar-benar menarik perhatian Heaven yang setiap berkunjung daim-diam memperhatikan bahkan sebenarnya Heaven berkunjung bukan untuk membaca melainkan melihat Raesa, hari demi hari. Senyum kecil Raesa saat mengatur rak, cara ia menunduk saat dipuji, dan bagaimana suaranya bergetar saat mengucap, "Terima kasih sudah mampir." Ah, membuat detak jantung Heaven yang mati selama ratusan tahun tiba-tiba berdebar, ada rasa tertarik yang tumbuh menjadi obsesi yang selama ini tak pernah Heaven rasakan, benar-benar ingin ingin memiliki, melindungi, dan menyatukan. Bukan sebagai manusia fana. Tapi sebagai miliknya—makhluk abadi yang tunduk padanya sepenuhnya.
Malam ini toko buku kecil itu sudah gelap menandakan bahwa sudah tutup. Tapi, Heaven tetap berdiri di balik pintu kaca, mengamati Raesa yang masih berada di dalam toko karena masih mengemasi buku-buku, hanya mengenakan hoodie tipis dan celana jogger—Lelaki itu sendirian, kesempatan.
Pintu tak mengeluarkan bunyi saat Heaven masuk. Raesa yang sedang menunduk baru sadar saat aroma bunga gelap dan logam memenuhi hidungnya.
"Heaven... kau mengejutkanku," Gumam Raesa, langkahnya mundur sedikit. Namun tidak menjauh, karena ia tidak ingin dianggap tidak sopan oleh pelanggan setianya—Ya, ia anggap Heaven pelanggan setia karena hampir setiap hari berkunjung, sampai-sampai ia pikir jika Heaven pengangguran. Tapi, dugaannya itu langsung ia tepis karena menyadari lelaki itu selalu mengenakan pakaian rapi dan bermerek.
Senyuman tipis menghiasi wajah Heaven. "Kau selalu membereskan buku-buku ini sendirian, Raesa? Apa kau tak takut jika ada seseorang yang memperhatikanmu bahkan mengikutimu ketika kau keluar dari toko buku ini?" Itu kau, Heaven. "Dan, bagaimana jika seandainya aku datang bukan sebagai pelanggan? Tapi, monster?"
Tatapan Raesa tidak memiliki artian. "Kalau memang kau datang untuk melukaiku... mengapa kau selalu menunggu malam demi malam hanya untuk berdiri di sana sembari menatapku?" Ia tersenyum sembari dengan dagu menunjuk gang kecil yang berada di sebrang toko.
Heaven sempat terkejut, "Kau tahu?" Tanyanya.
"Tentu.." Dengan santai Raesan kembali menyusun buku, "Botol yang sering kau bawa itu.. bukan berisi air atau kopi kan? Tapi darah, aku benar?" Ia tahu setelah beberapa kali tanpa sengaja menemukan cairan merah pekat berbau anyir yang menetes di lantai tempat biasanya Heaven duduk, "Kau bukan.. sepertikuㅡmanusia."