Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di puncak bukit Ardelan yang diselimuti kabut sepanjang tahun, berdiri mansion keluarga Elzevir—sebuah keluarga bangsawan yang tak hanya kaya dan berkuasa, tetapi juga ditakuti. Dalam setiap pesta politik, pengesahan hukum, hingga hilangnya saingan bisnis secara misterius, nama Elzevir selalu tercium samar seperti aroma darah dalam angin.
Dari luar, mereka tampak seperti keluarga terhormat. Pemimpin keluarga, Lord Aldric Elzevir, adalah tokoh karismatik yang dielu-elukan dalam dunia ekonomi dan politik. Istrinya, Lady Seraphina, tampak seperti simbol ketenangan dan kekuasaan. Anak-anak mereka berdarah dingin, elegan, dan sangat selektif dalam pergaulan. Di balik wajah-wajah rupawan dan pendidikan tinggi mereka, tersembunyi satu rahasia yang tak pernah bocor selama dua abad lamanya yaitu setiap tahun, di malam tergelap ketika bulan merah menggantung di langit, keluarga Elzevir melakukan ritual darah—mengorbankan seorang pemuda cantik berjiwa murni demi memperpanjang kejayaan dan kekuasaan mereka. Tubuh pemuda itu akan dicelupkan ke dalam altar kuno yang berada di ruang bawah tanah mansion, tempat roh leluhur Elzevir haus kekuasaan terus memantau. Dan tahun ini, korban telah dipilih.
Namanya Ranu Mireille—pemuda yatim piatu dari selatan, dengan wajah halus bak porselen, mata hijau zamrud yang tampak selalu berkaca-kaca, dan tubuh yang ramping namun anggun. Ia ditemukan oleh agen Elzevir ketika sedang mengamen di pinggir kota, dan tanpa pikir panjang, dibawa ke mansion dengan tawaran pekerjaan sebagai pelayan pribadi di rumah utama. Ranu menerima tawaran itu dengan hati penuh harap, ia ingin hidup yang lebih baik, dan rumah Elzevir—yang megah dan penuh keajaiban—terlihat seperti mimpi meski hanya sebagai pelayan pribadi.
Tak ada yang memberitahunya bahwa pelayan pribadi berarti tumbal ritual.
Ranu menurunkan langkahnya dari kereta dengan hati yang belum bisa tenang, ia memandangi mansion besar di kejauhan—rumah keluarga Elzevir, tempat yang akan menjadi tempat kerjanya mulai hari ini.
Ranu datang dengan hanya membawa satu koper usang. Di dalamnya: tiga pasang pakaian, sebuah buku tua peninggalan ibunya, dan harapan.
"Masuklah, Tuan." Ujar pelayan yang menjemputnya. Suaranya nyaris tanpa gema, seakan terserap kabut tebal. Pria itu tinggi, berseragam hitam dengan bordir merah di dada berbentuk bunga mawar terbalik—lambang keluarga Elzevir.
Ranu melangkah pelan melewati gerbang yang berderit, disambut lorong panjang berbatu dengan barisan patung-patung aneh di kedua sisinya, beberapa tampak seperti manusia biasa. Beberapa... tidak.
Setiap langkah terasa seperti memasuki tempat yang tidak boleh dijamah waktu.
Mansion Elzevir berdiri seperti istana yang dilukis dengan warna-warna mati. Dindingnya kelabu keperakan, atapnya menusuk langit, dan jendela-jendelanya tinggi dan sempit, membuat rumah itu tampak seperti mata-mata yang selalu waspada. Saat pintu utama dibuka, angin dingin menerpa wajah Ranu—membawa aroma kayu tua, rempah-rempah, dan... darah kering.