when renjun loves jay.

171 18 2
                                        

Namanya Rama SoerㅡLahir dari keluarga petani di pinggiran kota Batavia, ia tumbuh dalam keheningan sawah, bau tanah basah, dan bayang-bayang penjajahan yang tak pernah usai

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Namanya Rama SoerㅡLahir dari keluarga petani di pinggiran kota Batavia, ia tumbuh dalam keheningan sawah, bau tanah basah, dan bayang-bayang penjajahan yang tak pernah usai. Wajahnya halus, tubuhnya ramping dan lentur, suaranya tenang tapi tajam seperti bilah bambu. Di desa, ia dikenal sebagai pemuda berbudi, tapi juga... berbeda.

Tak ada yang tahu sejak kapan Rama memperhatikan Tuan Janesh Van Bronswijk, pria Belanda yang tinggal di rumah besar milik pemerintah Hindia Belanda di tengah kota. Rama memang sering melihat Janesh lewat saat menaiki kuda putihnya, atau dari kejauhan saat pria itu memeriksa pekerja di perkebunan. Janesh—bermata coklat, berhidung tinggi, tapi selalu terlihat letih, seolah terlalu banyak dunia dalam pundaknya.

Rama tahu bahwa Janesh sudah menikah dengan perempuan Belanda yang dingin, angkuh, dan nyaris tak pernah tersenyum. Tapi bagi Rama, itu tak menghentikan perasaannya yang tumbuh diam-diam.

Hari pertama mereka berbicara, dunia seakan runtuh dalam satu detik keabadian. Rama tertangkap mencuri pandang terlalu lama, membuat Janesh menghampiri dan alih-alih marah justru ia bertanya dengan tenang, "Kenapa kau memperhatikan saya? Apakah ada yang salah dari saya?"

Rama menjawab pelan, "Tidak, Tuan. Saya hanya ingin tahu... seperti apa rasanya jadi Anda."

Sejak hari itu, Janesh memanggil Rama ke rumah besar lebih sering. Awalnya untuk pekerjaan kecil—mengangkat air, merapikan taman. Tapi pelan-pelan, panggilan itu menjadi semakin larut. Semakin sunyi. Dan semakin pribadi.

Mereka mencumbu dalam diam. Tak ada kata cinta, hanya napas yang terpecah, dan sentuhan yang disembunyikan di balik dinding bata dan jendela tertutup. Janesh membayar Rama lebih dari cukup, bahkan memberinya kamar kecil di paviliun belakang.

Orang-orang mulai berbisik. Ibunya Rama hanya bisa menangis. Tapi Rama tidak pergi. Karena untuk pertama kalinya, ia merasa dilihat. Disentuh. Diinginkan.

"Aku tahu aku bukan siapa-siapa," Ujar Raka suatu malam ketika Janesh menatapnya setelah bercinta. "Tapi kalau menjadi milikmu berarti aku harus jadi gundik, aku rela. Meskipun namaku takkan pernah kau sebut di hadapan istrimu. Aku tetap tinggal."

Janesh tidak menjawab. Ia hanya menatap langit-langit, entah berdoa, entah mengutuk.

Malam demi malam berlalu. Janesh semakin terguncang—oleh politik, oleh rumah tangganya yang hampa, oleh cinta terlarang yang ia jaga dengan takut dan nafsu. Istrinya mulai curiga. Rama pun tahu jika waktunya takkan lama.

Pada suatu malam terakhir, Janesh datang tanpa suara. Matanya merah. Tangan gemetar saat menyentuh pipi Rama.

"Kita harus berhenti."

Rama menatap Janesh dengan tatapan sayu, "Mengapa?" Hatinya sakit meski tahu jika ini  memang akan terjadi padanya.

"Karena dunia ini tidak dibuat untuk kita."

Rama tertawa pahit, "Memang kapan dunia ini pernah menjadi milikku, Tuan?"

Tanpa menjawab, pria Belanda itu beranjak pergi meninggalkan Rama. Dan keesokan paginya, Rama mendapati kabar jika Janesh dan istrinya sudah pergi menaiki kapal—kembali ke tanah Eropa, benar-benar meninggalkan Rama.

Rama hancur. Tapi ia tetap harus hidup, kembali menanam padi, menulis puisi diam-diam di balik daun lontar, dan menatap matahari yang masih saja terbit dengan wajah yang sama—seakan tak pernah tahu betapa pahit cinta yang hanya dihidupi dalam bayangan kekuasaan.

"Aku mencintainya bukan karena ia Belanda. Tapi karena ia manusia pertama yang melihatku tanpa rasa jijik." — catatan terakhir Rama Soer di buku hariannya, ditemukan bertahun-tahun setelah kemerdekaan.

7. FoxeyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang