Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tak ada yang menyangkal bahwa Raneshka Arshieka adalah pemuda tercantik yang pernah dilahirkan dari rahim manusiaㅡWajahnya tampak seperti pahatan cahaya pagi dengan kulit seputih kelopak melati, mata berkilau bening seperti permukaan danau yang tenang, dan bibirnya merah ranum, memancing pujian bahkan dari kaum wanita bangsawan.
Raneshka bukan sekadar rupawan, ia simbol keindahan yang hidup, berjalan di jalanan kota dengan balutan sederhana, tapi setiap langkahnya membuat bunga-bunga seolah menoleh, anak-anak mengikutinya sambil tertawa, para perajurit menundukkan kepala, dan para gadis menulis namanya diam-diam dalam doa-doa mereka.
Namun, kecantikan yang tak memiliki pelindung ilahi adalah bahaya terselubung.
Di langit ketujuh, keturunan Dewi Kecantikan, Lephira, menyaksikan semua pujian dan pemujaan itu. Ia yang selama ini menjadi tolok ukur keindahan, kini merasa tahtanya diguncang. Bukan oleh seorang dewi muda atau manusia cantik biasa—melainkan oleh seorang pemuda fana bernama Raneshka yang memiliki ketampanan yang terlalu sempurna untuk ukuran manusia, menyaingi kilau bintang pelindung Lephira.
Kecemburuan adalah awal kehancuran.
Dewi Lephira berdiri dari singgasananya yang terbuat dari cermin dan kelopak bunga mekar abadi. Wajahnya tetap cantik, namun sorot matanya tak lagi lembut—ia menyipitkan mata menatap ke arah bumi, di mana Raneshka tengah duduk bersandar di bawah pohon willow, tertawa kecil bersama anak-anak kota.
Denting emas gelang di pergelangan tangan Dewi Lephira terdengar dingin, menggema saat ia mengangkat tangan memanggil para prajurit langit—makhluk bersayap dengan wajah kaku dan tubuh berbalut zirah kabut.
"Aku ingin keindahan yang menjatuhkanku... dijatuhkan kembali oleh dunia," Bisik Lephira, lirih tapi mematikan.
Salah satu prajurit bersayap, Alvaren, melangkah maju. "Dewi Kecantikan, Raneshka tak bersalah. Ia hanya... hidup dan menjadi dirinya. Apakah ini pantas?"
Lephira memutar tubuh, gaunnya menjuntai seperti kabut fajar yang robek. Ia menatap Alvaren dengan kilat di matanya, "Apakah aku harus menunggu dunia menyembahnya lalu melupakanku? Apakah kecantikanku harus bersanding dengan pemuda fana itu di altar pujian?" Ia menurunkan tangannya, dan dari udara terbit sebuah gulungan naskah langit, berisi kalimat-kalimat busuk yang telah ia siapkan sendiri. Fitnah, tapi dirangkai dengan kata-kata indah, agar terasa seperti kebenaran. "Sebarkan ini ke telinga manusia. Katakan bahwa Raneshka telah menggoda bahkan menjadi pelacur para bangsawan. Katakan bahwa tubuh indahnya telah dijamah oleh tangan-tangan tamak laki-laki. Katakan bahwa senyumnya menipu dan tubuhnya telah ternoda oleh dosa," Titah Lephira, suara dingin membungkus ruang angkasa.
Para prajurit terdiam. Tapi hukum langit tak memberi mereka ruang menolak perintah Dewi Tertinggi dari Kecantikan.
Satu per-satu, mereka terbang turun dari langit, menyamar sebagai pendongeng, penjaja kabar, penulis puisi malam, dan penabuh genderang kota. Mereka menyusup ke kedai-kedai dan lorong sunyi, ke rumah-rumah bangsawan dan telinga rakyat kecil, menyebarkan cerita itu seperti kabut busukㅡbahwa Raneshka bukan hanya cantik, tapi juga terkutuk karena tubuhnya telah dipakai berkali-kali oleh laki-laki tamak.