40. Secercah Harapan

515 30 11
                                        


Sinar matahari yang menembus dari jendela membangunkan Raya dengan lembut, seolah tidak ingin mengacaukan suasana hatinya untuk memulai hari. Cahaya hangat itu perlahan mengenai wajahnya, memaksanya untuk mengerjapkan mata beberapa kali sebelum akhirnya benar-benar sadar.

Dengan perlahan, Raya membuka matanya. Ia masih ingat jelas terakhir sebelum ia tertidur, dirinya masih berada di ruang tengah. Namun kini ia terbangun di atas ranjang yang cukup besar di dalam kamar.

Raya berdecak pelan. Kenapa juga Regan membawanya ke kamar laki-laki itu alih-alih ke kamar dirinya.

Pandangan gadis itu berkeliling, memperhatikan suasana kamar yang sudah cukup familiar baginya. Tidak ada suara apa pun selain pendingin ruangan yang berdengung pelan.

Sekilas ia melihat pakaiannya yang masih sama seperti kemarin, ia bahkan tidak sempat berganti baju dan membersihkan dirinya.

Setelah membenarkan kuciran rambutnya yang sedikit berantakan, gadis itu beranjak meninggalkan kamar.

Tidak ada tanda-tanda orang selain dirinya di apartemen ini. Raya sempat menoleh ke arah ruang tengah, kemudian ke dapur.

Ia mengangkat bahunya acuh sebelum akhirnya masuk ke dalam kamarnya sendiri. Entah Regan sudah pergi sejak kapan, atau mungkin laki-laki itu memang sengaja membiarkannya tidur lebih lama.

*****

Suasana kampus hari itu tidak seramai biasanya. Beberapa mahasiswa masih berlalu-lalang di sekitar gedung fakultas, tetapi sekretariat himpunan justru terasa cukup lengang ketika Raya tiba.

Ia mendorong pintu sekretariat sambil membawa tasnya. Belum juga melangkah masuk, Raya langsung menemukan seorang gadis yang duduk sendirian di lantai dengan leptop di panguannya.

"Haloo, Kak Ray."

Raya tersenyum kecil sebelum memasuki sekretariat. Ia mengenali Kania, salah satu anggota Departemen Humas yang memang terlihat aktif dalam berbagai kegiatan himpunan.

"Ehh Kania, sendirian?" Ia duduk di atas sofa belakang Kania.

"Iya, Kak. Hari ini gak ada kelas."

Raya mengangguk pelan sambil meletakkan tasnya di sampingnya. Namun, setelah menyadari fakta bahwa Kania tetap datang ke kampus meski tidak memiliki jadwal kuliah, ia kembali menatap gadis itu dengan penuh tanda tanya.

"Loh, terus kok lo ke kampus?"

"Disuruh Kak Farhan, ngerjain LPJ sama Kakak."

Keningnya berkerut.

"Hah? LPJ apa? Humas?"

"Iyalah, Kak. Kania kan anggota humas."

"Kok lo yang ngerjain? Dewan pengurus lo pada kemana?"

Kania mengangkat bahunya, seolah dirinya juga tidak memiliki jawaban pasti mengenai keberadaan para pengurus departemennya.

"Bang Ehsan ada kerkom katanya, yang lain gak tau."

"Enggak, gak usah, Kan. Biarin pengurusnya aja yang ngerjain. Ini tanggung jawab mereka."

Nada suara Raya terdengar cukup tegas. Baginya, tidak seharusnya anggota biasa yang tidak memegang posisi kepengurusan harus datang untuk menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang lain.

Namun, Kania justru tersenyum santai.

"Gapapa, Kak Ray, lagian aku emang pengen belajar nyusun LPJ Departemen."

Raya menatapnya beberapa detik. Ada rasa penasaran dalam dirinya melihat antusiasme Kania yang tidak terlihat dibuat-buat.

"Lo berencana jadi sekdep kah kepengurusan selnjutnya?"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 26 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Married With KahimCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang