Fabiola melangkah ke kelas dengan wajah lelah. Matanya masih sembab setelah semalaman nangis karena konfrontasi dengan Khalifah. Eunike menepuk pundaknya pelan.
“Lo kuat kok, Fab. Jangan biarin semua omongan mereka bikin lo jatuh lagi.”
Fabiola mencoba tersenyum, meski hatinya masih terasa retak.
Siang – Perpustakaan
Fabiola duduk sendiri di meja pojok, mencoba menyelesaikan tugas. Hening. Sampai tiba-tiba seseorang duduk di hadapannya.
“Gue nggak bakal pergi sampe lo dengerin gue.” Suara itu—Khalifah.
Fabiola mengangkat wajahnya, mata mereka bertemu. Hatinya bergetar, tapi ia langsung membuang pandangan.
“Gue capek, Khal. Jangan bikin semuanya lebih susah.”
Khalifah menelan ludah. “Gue tau gue udah bikin lo hancur. Gue salah, gue bego. Tapi tolong kasih gue satu kesempatan buat benerin semuanya.”
Fabiola menutup laptopnya, suaranya serak tapi tegas.
“Kesempatan? Lo sadar nggak, Khal, gue udah kasih lo seribu kesempatan? Tapi lo buang semua. Gue nggak bisa terus-terusan jadi orang yang berdoa supaya lo percaya gue. Gue nggak bisa lagi.”
Air mata hampir jatuh, tapi ia tahan. Fabiola bangkit, meninggalkan Khalifah yang membeku di kursinya, wajahnya dipenuhi rasa bersalah.
Detik-Detik Tegang
Sore hari, listrik di kampus tiba-tiba padam. Semua orang panik. Fabiola yang berada di koridor sendirian mendengar langkah tergesa mendekat.
“Fab…” suara serak itu membuatnya kaku. Audrey berdiri di depannya, wajahnya kusut, matanya merah.
“Kenapa lo harus ngerebut semuanya dari gue?!” Audrey berteriak, nadanya pecah.
“Gue nggak pernah rebut apa pun dari lo, Audrey!” balas Fabiola dengan suara bergetar.
Audrey mengeluarkan botol kecil berisi cairan bening. “Kalau gue hancur, lo juga harus hancur!”
Fabiola terbelalak, tubuhnya gemetar hebat.
“Lo gila?! Jangan bikin diri lo makin rusak, Audrey!”
Saat Kritis
Tiba-tiba sebuah tangan kuat menarik Fabiola ke belakang. Botol itu jatuh, pecah di lantai.
“Audrey, sadar!” suara Khalifah lantang, matanya tajam menatap Audrey.
Audrey menjerit, mencoba melepaskan diri. “Jangan halangi gue! Lo milik gue, Khal! Dia yang bikin semuanya berantakan!”
Sementara itu, langkah cepat terdengar. Ariq datang, langsung berdiri di depan Fabiola, melindunginya.
“Fab nggak salah apa-apa. Kalau lo berani nyakitin dia lagi, lo harus lewatin gue dulu!”
Fabiola berdiri di antara mereka—Audrey yang hancur, Khalifah yang penuh penyesalan, Ariq yang melindungi tanpa ragu.
Setelah Kejadian
Petugas kampus datang dan mengamankan Audrey. Suasana ricuh. Fabiola terduduk di lantai, wajahnya pucat, tangannya bergetar hebat.
Ariq jongkok di sampingnya, menggenggam tangannya lembut.
“Udah… lo aman. Ada gue di sini.”
Fabiola terisak, tapi matanya justru menatap Khalifah. Wajah lelaki itu penuh luka, suaranya nyaris berbisik.
“Gue… nggak bakal biarin lo sendirian lagi.”
Malam – Balkon Rumah
Fabiola berdiri menatap langit. Pikirannya kacau. Air mata mengalir tanpa henti.
“Kenapa semua harus serumit ini, Yun…” bisiknya pada Eunike yang duduk di sampingnya.
Eunike memeluk bahu sahabatnya. “Karena hati lo terlalu tulus, Fab. Dan orang-orang kayak Khal sama Ariq nggak mau kehilangan lo. Tapi pada akhirnya, lo yang harus mutusin.”
Fabiola terdiam. Ponselnya bergetar—dua pesan masuk.
Dari Khalifah: “Besok, tolong temuin gue. Gue janji ini terakhir kalinya gue maksa. Gue cuma mau buktiin kalau rasa ini masih tulus.”
Dari Ariq: “Jangan takut. Lo nggak sendirian. Gue bakal tetep ada, nggak peduli lo milih apa.”
Air matanya jatuh lagi. Untuk pertama kalinya, Fabiola sadar—hatinya berdiri di persimpangan. Satu langkah salah, dan semuanya bisa runtuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
RENJANA
Teen FictionBagaimana kalau ternyata orang yang tidak kamu kenal sama sekali justru akan menjadi bagian paling penting dalam hidupmu?? FABIOLA UMAIDA, begitu orang orang memanggilnya. gadis berusia 19 tahun ini berambut panjang dengan kulit bersih. Namun, b...
