Tangis Fabiola malam itu tidak berhenti. Matanya bengkak, kepalanya sakit, tapi hatinya jauh lebih perih daripada apapun. Eunike duduk di sisi ranjang, sesekali usap punggungnya, sementara Kevin berdiri di depan jendela dengan wajah muram.
“Fab, please… jangan kayak gini terus. Lu nggak salah.” suara Eunike pelan, hampir putus asa.
Fabiola menggeleng lemah. “Kenapa sih Yun, gue yang selalu keliatan salah? Padahal… gue cuma pengen dipercaya.” Suaranya serak, nyaris patah.
Kevin menoleh, nada suaranya tegas. “Lo nggak sendirian, Fab. Ada kita. Kalo dia masih bikin lu nangis… sumpah, gue sendiri yang bakal bikin perhitungan sama dia.”
Fabiola cuma diam, lalu memejamkan mata. Malam itu ia memilih tidur, meski tidurnya penuh mimpi buruk.
Keesokan Hari di Kampus
Fabiola masuk kelas dengan wajah lelah. Seisi kelas menatapnya, beberapa bisik-bisik. Eunike langsung menggenggam tangannya, memberi kekuatan.
Tiba-tiba, pintu terbuka. Audrey masuk dengan wajah pucat, ditemani seorang teman dari luar. Semua langsung heboh.
“Eh itu kan Audrey lagi? Dia ngapain di sini?” bisik beberapa mahasiswa.
Audrey berjalan ke depan kelas, lalu tiba-tiba terjatuh pingsan. Kelas mendadak panik. Khalifah yang duduk di pojok langsung sigap menggendongnya ke UKS.
Tak lama kemudian, Audrey ‘sadar’. Tangisnya pecah.
“Itu… itu semua gara-gara Fabiola! Dia benci aku… dia bilang aku beban!”
Kelas langsung riuh.
“Fab, serius lo ngomong gitu?”
“Kejam banget sih lo, Fab!”
Fabiola membeku. Matanya melebar, ia menggeleng cepat. Air matanya jatuh deras.
“Gue nggak pernah ngomong gitu! Gue nggak pernah!” suaranya pecah, putus asa.
Tapi Audrey makin keras menangis, seolah-olah benar-benar korban. Semua orang tambah bingung, dan posisi Fabiola makin tersudut.
Tiba-tiba suara tegas terdengar dari pintu.
“Cukup, Audrey.”
Semua menoleh. Ibu Khalifah berdiri di sana, ditemani seorang pria paruh baya yang membawa berkas.
“Saya sudah punya semua bukti kebohongan kamu.” Ucap Ibu Khalifah sembari menunjukan berkas yang ia bawa
Ruangan mendadak hening. Audrey pucat, Khalifah bengong, sementara Fabiola cuma bisa menatap tak percaya.
_________________________
Malam – Rumah Fabiola
Hari itu terasa seperti mimpi buruk bagi Fabiola. Meski kebohongan Audrey mulai terbongkar, hatinya tetap remuk. Ia pulang dengan langkah berat, mengurung diri di kamar.
Menjelang malam, sebuah suara terdengar dari depan pintu.
“Fab? Gue boleh masuk?”
Fabiola terdiam. Suara itu… suara yang udah lama nggak ia dengar. Ia cepat membuka pintu, dan benar saja, Ariq berdiri di sana, membawa tumpukan buku dan sekotak kue.
“Ariq?” suaranya tercekat.
“Bunda lo yang nelpon gue. Katanya lo lagi nggak mau keluar rumah, tapi tetep harus belajar. Jadi ya… gue dateng.” Ariq tersenyum kecil. “Lagipula… gue udah kangen nongkrong sama lo.”
Entah kenapa, dada Fabiola terasa lebih ringan. Ia mengizinkan Ariq masuk. Mereka ngobrol, belajar sedikit, lalu ketawa kecil. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Fabiola bisa tersenyum lagi.
Saat Ariq hendak pulang, ia menatap Fabiola dalam-dalam. Suaranya pelan, tapi mantap.
“Fab… sekarang udah ada gue yang bakal jagain lo. Lo nggak perlu nangis lagi gara-gara orang yang nggak tau hargain lo.”
Fabiola tercekat. Air matanya jatuh lagi bukan karena sakit, tapi karena hatinya mulai goyah.
KAMU SEDANG MEMBACA
RENJANA
Roman pour AdolescentsBagaimana kalau ternyata orang yang tidak kamu kenal sama sekali justru akan menjadi bagian paling penting dalam hidupmu?? FABIOLA UMAIDA, begitu orang orang memanggilnya. gadis berusia 19 tahun ini berambut panjang dengan kulit bersih. Namun, b...
