part 46

151 15 8
                                        

Kampus – Hari Berikutnya

Suasana kampus masih panas setelah insiden Audrey. Meski sebagian mulai ragu terhadap cerita Audrey, tetap banyak yang memandang sinis ke arah Fabiola.

Fabiola duduk di bangku taman, menunduk sambil memainkan botol minumnya. Eunike duduk di sampingnya, sementara Kevin berdiri dengan tangan terlipat.

“Biarin aja orang ngomong apa, Fab. Yang penting kita tau kebenarannya,” kata Kevin, nadanya penuh proteksi.

Fabiola mengangguk pelan. Namun jauh di dalam hati, luka itu belum hilang.

Tiba-tiba, suara berat terdengar.
“Fab, gue boleh ngomong sebentar?”

Mereka menoleh. Khalifah berdiri di sana, wajahnya penuh rasa bersalah.

“Apalagi yang mau lo omongin, Khal?” Kevin langsung maju setengah langkah, nada suaranya dingin.

“gue cuma mau minta maaf…” Khalifah menatap Fabiola. “Gue tau gue salah udah nurunin lo, gue salah udah nggak percaya. Gue nyesel banget.”

Fabiola terdiam. Matanya mulai basah, lalu ia tertawa kecil, tawa yang getir, lebih mirip tangisan.

“Nyeseeel? Lo pikir gampang ya, Khal? Cuma dengan bilang nyesel, semua yang gue rasain ilang gitu aja?”

Air matanya jatuh deras. Suaranya pecah, tapi setiap kata keluar penuh luka.

“Tau nggak rasanya jadi gue? Rasanya dihina, dijelekin, dituduh,tapi orang yang paling gue percaya malah diem aja. Gue nunggu lo, Khal. Gue nunggu lo ngomong ‘gue percaya sama lo, Fab’. Tapi apa? Lo malah berdiri di samping dia… dan lo biarin gue sendirian.”

Khalifah tercekat, tak mampu bicara.

“Lo nggak tau, setiap malem gue nangis sampe sesek napas. Gue mikir, salah gue apa sih sampe lo gampang banget percaya orang lain ketimbang gue? Gue yang selalu ada buat lo, gue yang selalu dukung lo, gue yang nggak pernah ninggalin lo. Tapi lo? Lo lebih milih percaya sama kebohongan orang lain daripada hati gue yang udah hancur.”

Fabiola menutup wajahnya sebentar, tubuhnya bergetar. Ia menatap Khalifah lagi dengan mata bengkak.

“Dan sekarang lo datang bawa kata ‘nyesel’? Gue udah keburu muak, Khal. Gue udah keburu capek. Luka yang lo bikin itu dalam banget. Jadi jangan harap gue bisa langsung nerima lo kayak nggak ada apa-apa.”

Keheningan menyelimuti. Eunike ikut menangis melihat sahabatnya, Kevin mengepalkan tangan menahan emosi. Sementara Khalifah berdiri kaku, wajahnya penuh penyesalan—tapi lidahnya kelu, tak ada satu pun kata yang bisa ia keluarkan untuk membantah.
__________________________
Malam – Rumah Fabiola

Ariq kembali datang, kali ini dengan gitar di tangan. Mereka duduk di teras, obrolan ringan mengalir.

“Lo harus inget, Fab. Bukan semua orang bisa liat kebaikan lo. Tapi orang yang bener-bener sayang sama lo, nggak bakal ninggalin lo.” Ariq menatapnya dengan tulus.

Fabiola menatap Ariq, hatinya hangat. Ia merasa aman.

_______________________
Hari-Hari Berikutnya

Khalifah berulang kali mencoba mendekati Fabiola. Kadang ia datang ke rumah membawa makanan untuk bundanya. Kadang ia hanya berdiri di luar kelas menunggu kesempatan bicara. Tapi setiap kali Fabiola melihatnya, ia selalu memilih pergi.
Sebaliknya, Ariq makin sering ada. Ia mengantar Fabiola pulang, menemani fabiola belajar, bahkan membuat Fabiola bisa tertawa lagi.

Eunike dan Kevin pun saling pandang.
“Kayaknya… Ariq lebih tulus, deh,” bisik Eunike.
___________________________
Kampus – Insiden Baru

Audrey nggak tinggal diam. Ia kembali bikin drama, kali ini dengan cara yang lebih ekstrem, yaitu menyebarkan screenshot chat palsu seolah-olah Fabiola ngaku iri sama Audrey.

Kelas heboh lagi. Fabiola hancur, merasa nggak akan pernah bisa menang.

Namun kali ini berbeda. Khalifah berdiri di depan kelas, menatap semua orang.

“Stop! Jangan percaya sama fitnah Audrey lagi. Gue yang salah dari awal karena gak pernah percaya sama Fabiola. Tapi mulai sekarang, Gue gak akan diem lagi.”

Semua hening. Fabiola terkejut, air matanya jatuh tanpa ia sadari.

Setelah kejadian siang itu dikampus. Malam itu, Fabiola berdiri di balkon rumahnya. Hatinya campur aduk. Khalifah mulai berubah, tapi luka lama masih membekas. Di sisi lain, Ariq selalu ada, tanpa syarat, tanpa drama.

Eunike mendekat, menggenggam bahunya.

“Fab, pada akhirnya… lo yang harus milih. Mau buka hati lo lagi buat Khal, atau mau kasih kesempatan ke orang yang gak pernah ninggalin lo.”

Fabiola terisak. “Gue takut, Yun… gue takut hancur lagi kalau salah milih.”

Lalu ponselnya bergetar, menandakan dua pesan masuk.

Dari Khalifah: “Besok gue tunggu lo di tempat biasa. Please dateng.”

Dari Ariq: “Gue jemput lo besok pagi ya. Kita sarapan bareng.”

Fabiola menatap layar ponselnya lama. Dua nama, dua hati, dua arah. Dan ia tahu, pilihannya akan menentukan segalanya.

_____________________

Haik hai aku upload dua part dulu yaaa besok aku lanjut lagii okeey

RENJANATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang