part 48

176 16 9
                                        

Pagi – Chat yang Terabaikan

Semalaman Fabiola tidak membalas pesan Khalifah. Tangannya sempet getar tiap lihat notifikasi, tapi hatinya tidak kuat. Sebaliknya, pesan Ariq yang sederhana bikin dadanya lebih tenang.

Akhirnya Fabiola ngetik:
“Oke, gue ketemu lo siang ini.”

Balasan Ariq cepet banget:
“Sip. Gue jemput lo jam 1, ya.”

Siang – Café Pojok Kota

Fabiola duduk berhadapan sama Ariq. Ada keheningan canggung sebentar, tapi pecah waktu Ariq nyodorin secangkir minuman.
“Ini. Lo kan suka caramel latte. Gue inget.”

Fabiola kaget, tapi senyumnya akhirnya muncul juga. “Lo masih inget aja.”
Ariq ngangguk, matanya lembut. “Gue inget semua hal tentang lo, Fab. Bahkan yang kecil-kecil.”

Obrolan mereka ngalir. Fabiola ketawa, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, hatinya kerasa lebih ringan.

Dari Kejauhan

Seseorang berdiri di luar café, matanya merah, tangannya mengepal. Khalifah.

Dadanya panas ngeliat Fabiola ketawa sama Ariq—ketawa yang udah lama hilang kalo bareng dia. Perutnya mual campur sakit. Kenapa harus Ariq? Kenapa bukan gue?

Sore – Di Depan Rumah Fabiola

Ariq nganterin Fabiola pulang. Mereka berhenti di depan pagar rumah. Ariq senyum kecil.
“Fab… gue nggak akan maksa lo milih sekarang. Tapi selama lo butuh tempat buat pulang, gue bakal jadi itu buat lo.”

Fabiola terdiam. Kata-kata itu bikin matanya panas.
“Thanks, Riq…” suaranya nyaris berbisik.

Tiba-tiba sebuah suara memotong.
“Cukup manis ya, kedengerannya.”

Fabiola langsung menoleh. Khalifah berdiri beberapa meter dari mereka, wajahnya dingin tapi matanya penuh gejolak.

Khalifah melangkah mendekat, tatapannya menusuk ke arah Ariq.
“Lo pikir lo bisa gantiin posisi gue?”

Ariq nggak mundur. Nada suaranya tenang, tapi setiap kata terasa tajam.
“Gue nggak pernah maksain posisi gue ke dia. Gue cuma ada waktu lo ninggalin dia.”

Urat di rahang Khalifah menegang. Dia berbalik ke Fabiola.
“Lo beneran nyaman sama dia, Fab? Setelah semua yang udah kita lalui?”

Fabiola nggak tahan lagi. Suaranya pecah, matanya berkaca-kaca.
“Nyaman? Gue udah lama nggak nyaman sama lo, Khal. Waktu gue butuh lo, lo malah nyakitin gue, nggak percaya sama gue. Sekarang giliran gue bisa ketawa lagi, lo marah? Gue manusia juga, gue capek kalo harus terus-terusan nangis cuma gara-gara lo.”

Khalifah terdiam, matanya gemetar. Luka di wajahnya jelas banget. Ariq otomatis maju setengah langkah, seolah siap melindungi Fabiola kapan aja.

Khalifah akhirnya buka suara, nadanya lirih tapi penuh api.
“Gue nggak bakal biarin lo pergi dari gue, Fab. Sekalipun lo deket sama Ariq, hati lo tetep punya gue.”

Air mata Fabiola langsung jatuh. Dia membalikkan badan, masuk ke rumah tanpa sepatah kata pun lagi.

Ariq menatap Khalifah tajam. “Lo nggak pernah ngerti, Khal. Kadang cara lo ‘milik’ justru bikin dia hancur.”

Khalifah berdiri kaku, rasa cemburu menggerogoti dadanya. Untuk pertama kalinya, dia sadar—bisa jadi dia bukan lagi pusat dunia Fabiola.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 06, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

RENJANATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang