Part. 71

2.1K 126 3
                                        

Anyingaseo barudak!!
Gua saranin part kali ini bacanya sambil denger musik mellow, biar feelnya lebih dapet.

Enjoy Reading...

••••

"Dimana papa Revan? Dia tidak ada dimanapun. Lo jangan nipu gua?!" Hardiknya setelah ia berlarian kesana kemari mengelilingi Mansion hanya untuk mencari papanya itu, namun yang di cari tak menunjukan pangkal hidungnya sama sekali.

Menghela nafas sesaat "bersihin dulu diri lo Leo, apa lo buta dengan baju lo yang kotor itu?"

"Tck. Alasan"

"Lakuin gak usah ngebantah" tegasnya.

"Iya-iya gua bersihin diri sekarang" balasnya dan berlalu pergi menuju kamarnya.

Revan hanya menggelengkan kepalanya, tidak sadarkah anak itu jika semua bajunya masih terdapat noda darah? Bahkan para maid menatap bingung, karena tidak biasanya tuan muda manisnya itu kotor akan noda merah.

Meski asumsi mereka mengetakan jika mungkin itu hanya noda cat karena tugas sekolahnya.

Sampai atensi Revan melihat Yuan yang kini berjalan ke arahnya "papa sudah kembali?"

"Baru saja" Revan menatap penuh tanya "bagaimana dengan Al pa?"

"Sejauh ini masih stabil" Revan menghela nafas sesaat, kembali rasa khawatir menyeruak hati nya "apa Al akan kembali sama kita pah?" tanyanya penuh sendu.

Menepuk pundak Revan sekilas, meski dengan wajah datar Yuan turut merasakan apa yang anak bungsunya rasakan sekarang "yakinlah dengan itu Revan, percaya bahwa Alvan mampu menghadapinya" ucap Yuan sebagai penenang.

"Aku harap juga begitu pah" Yuan mengulas senyumnya sekilas "sudahlah Revan, lebih baik kamu banyak berdoa papa rasa doamu kurang kuat"

Revan menatap Yuan penuh selidik "papa yakin dengan itu?" yuan mengangguk "papa yakin, bahkan papa sendiri bingung kamu cenderung memilih ajaran agama mana?" hardiknya.

Memicingkan matanya "aku juga tidak tahu agama mana yang di anut oleh papa!!"

"Apa kamu buta Revan? Setiap minggu papa pergi ke gereja sedangkan kamu?" ucapnya dengan jeda, menilisik Revan dari atas sampai bawah "terakhir papa ajak kamu saat kamu baru saja membentuk organisasi kamu sendiri, sampai setelahnya kamu selalu menolak ajakan papa, sampai papa sendiri muak"

"Pa aku kan hanya sedikit sibuk waktu itu-"

"Sampai kamu melupakannya sampai saat ini?" potong Yuan, lalu mendesis ke arah Revan "manusia macam apa kamu? Melupakan tuhan mu sendiri, jangan bawa papa yang suci ini kedalam ajaran sesat mu, dan jangan seret papa jika kamu nanti mendapat penghakiman tuhan"

Revan mendelik tak suka "orang suci konon" balasnya "mana ada orang suci bermain dengan barang-barang yang di haramkan olehnya?"

"Papa tidak melakukan hal itu" belanya.

"Lalu orang suruhan papa?"

"Tapi bukan papa yang melakukannya kan?"

"Mereka di suruh oleh papa jika papa lupa"

"Papa hanya memberikannya pekerjaan untuk membantu financial mereka. Bukannya membantu sesama manusia itu di haruskan?"

Diam. Revan tidak tahu lagi harus menjawab apa? Rupanya papa nya itu masih saja sulit di takhlukan dalam berdebat, sejauh ini hanya Alvan yang mampu menandinginya.

Ahh, rasa-rasa nya dia merindukan moment itu, moment dimana mereka selalu berdebat, bertengkar, bercanda dan tertawa bersama.

Melihat anaknya murung Yuan mengusak rambutnya pelan "sudah gak usah sedih, bawa Leo ke ruang kerja papa nanti" ucapnya dan berlalu pergi, menyisakan Revan dalam kesunyian sesaat.

Alvan's Transmigrasi [End] ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang