Part. 76 [End]

3.4K 163 56
                                        

'apa seperti ini caramu berterimakasih Alvan?'

Alvan menghentikan gerakannya kala ujung kaca itu sudah menggores lehernya hingga mengeluar tetesan darah.

Membuka matanya menatap ke arah cermin "abang" panggilnya, lalu menulusuri area penglihatannya hingga memubuat tubuhnya berputar melihat ke sekeliling "abang disini?" Tanyanya lagi, namun hening yang dia dapatkan.

"Abang disini? Tolong bang, tolong. Jika abang disini katakan sesuatu, aku tak mau disini, aku tak ingin disini, aku lebih baik bersama abang, daripada harus tetap disini" racaunya kembali dengan mata yang terus bergulir kesetiap sudut seolah mencari keberadaan seseorang.

"Tolong bang~ aku tak sanggup disini, menerima semuanya? Yang nyatanya aku masih membenci mereka" lirihnya.

"Katakam sesuatu bang tolong, hiks"

Brugh!

Alvan ambrug bersimpuh di lantai, dengan banyaknya pecahan kaca yang berserakan, seolah tak memperdulikan rasa perih, kala pecahan kaca itu kembali menggores kulitnya.

"Abang.. Tolong katakan sesuatu jika abang masih disini" lirihnya. Namun seolah tak mendapati jawaban, Alvan menganggap itu hanya halusinasi atas kerinduannya, dia kembali mengambil pecahan kaca itu.

Menatap penuh tekad, Alvan menggenggam kuat pecahan kaca tersebut "maaf, jika memang abang tak mau dan memilih pergi, maka aku akan turut ikut" ucapnya dengan penuh keyakinan Lalu mengarahkan pecahan kaca itu pada pergelangan tangannya.

'Apa kamu selemah itu Alvan?'

Suara itu kembali terdengar begitu tegas, membuat Alvan termenung dan memberhentikan pergerakannya.

'Semua tak akan usai jika kamu menyelsaikannya dengan cara seperti itu'

Lontaran kalimat itu kembali terdengar, hingga membuatnya mendongak menatap ke atas langit-langit.

"Abang? Abang disini?"

'Abang selalu disini Alvan'

Alvan melepaskan pecahan kaca itu dari genggamannya, tanpa memperdulikan telapak tangannya yang sudah mengeluarkan darah akibat cekalannya.

Mengusap kasar air matanya "dimana bang? Abang dimana?" tanyanya yang kini kembali melihat ke area sekitar.

'Abang disini Alvan, bersamamu di dalam pikiranmu'

"jadi abang masih ada?"

'Kamu pikir abang pergi kemana?'

Alvan tersenyum senang "sejak kapan? Kenapa abang tidak menemui ku? Kenapa abang seolah pergi? Kenapa bang?"

'Abang tidak pergi Alvan, abang disini melihatmu, abang ada di pikiranmu'

"Lalu kenapa abang tidak pernah menjawab setiap panggilanku?"

'Untuk apa? Abang ingin melihat sejauh mana kamu bertahan, namun yang abang dapat adalah adik abang yang begitu lemah?'

Alvan menundukan kepalanya "maaf" kata itu keluar dengan spontan "maafin Alvan abang, maaf" racaunya merasa bersalah.

'Kuatkan dirimu Alvan, apa kamu ingin menyia-nyiakan apa yang sudah abang perjuangkan untukmu?'

"Tapi aku tak menginginkannya bang" balasnya

'Meski nyatanya mereka memang sudah menyayangimu?'

Alvan menggelengkan kepalanya ribut "aku tidak menercayainya bang. Lebih baik aku mati, jika lagi dan lagi aku berharap pada mereka yang hanya akan menyayangiku untuk sesaat"

Alvan's Transmigrasi [End] ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang