"Sekarang udah berani ya bohongin mommy?"
Suara sambutan dingin itu menggelegar saat Jennie memasuki pintu utama. Bisa ia lihat bahwa kedua orang tuanya sedang menunggunya di ruang keluarga. Wajah Jennifer ketara sekali sedang menahan amarah sedangkan Minho berada di sampingnya, berusaha menenangkan amarah Jennifer yang kapan saja siap meledak. Kedua tangannya merangkul bahu Jennifer dan tatapannya terlihat memohon agar Jennie mau mengalah lagi.
"Tau nggak sayang, sejak kamu kenal dia, kamu tuh banyak berubah, kamu jadi sering bohongin mommy. Kamu pikir mommy nggak tau kemana kamu pergi selama kami nggak ada di rumah?"
Jennie tersenyum kecut. Jadi selama ini mommynya memata-matainya?
"Jennie nggak pernah berubah mom. Jennie tetep Jennie yang dulu."
"Jennie yang dulu itu nggak pernah bohongin mommynya."
"Jennie terpaksa mom."
"Dia yang paksa kamu?"
Jennie menggeleng pelan, "Keadaan yang paksa Jennie mom."
Jennie mengambil jeda sebentar. Ia menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan guna meredakan sisi emosionalnya. Ia perlahan menggenggam tangan mommynya, berusaha membuat sebuah permohonan.
"Mom, waktu itu Jennie sudah seberusaha itu buat ngejauhin Lisa dan mommy tau kan gimana frustasinya Jennie waktu itu? Jennie udah berusaha mom, tapi Jennie nggak bisa."
Mata Jennie memanas mengingat bagaimana tersiksanya dirinya dulu saat ia berusaha menjauhi Lisa. Ia seolah hidup dalam bayang-bayang harapan yang tak pernah mau menjadi nyata.
Jennifer melepas genggaman tangan Jennie. "Jadi kamu lebih pilih nentang mommy? Kasih sayang kamu udah beralih ke dia? Emang dia ngasih apasih ke kamu? Apa nggak cukup kasih sayang daddy sama mommy yang bikin kamu tumbuh sebesar ini dalam keadaan sehat, bahagia dan nggak pernah kekurangan? Kamu itu nggak butuh dia, sayang. Dia itu nggak penting di hidup kamu."
Jennie menggeleng pelan dan bersamaan dengan itu air matanya jatuh. "Lisa penting di hidup Jennie, mom. Kalo Lisa nggak penting, Jennie udah dari dulu berhasil ngejauhin Lisa sesuai dengan kemauan mommy. Tapi nyatanya sekarang apa? Semakin Jennie berusaha buat menjauh dari Lisa, semakin besar juga rasa sakit yang harus Jennie tanggung. Jennie rasanya hampir gila, mom."
"Dia itu cuma orang luar, sayang. Bahkan tanpa hadirnya diapun kamu juga bisa bahagia. Buktinya dulu kamu bahagia."
"Tapi sejak dulu juga mommy tau kalo Jennie sangat ingin memiliki seorang adik. Kita udah cari di beberapa panti tapi nggak ada yang berhasil bikin hati Jennie tersentuh, apalagi terikat."
"Masih ada Yeri sayang. Kamu cuma butuh mengenal Yeri lebih dalam," kali ini Jennifer yang meraih tangan Jennie, menggenggamnya lembut dan memberinya keyakinan bahwa Yeri kemungkinan besar bisa membuat hati Jennie tersentuh karena Yeri pernah mempertaruhkan nyawanya untuk Jennie.
Jennie semakin terisak. Bukan ia tak mencoba. Ia sudah berusaha membangun hubungan dekat dengan Yeri namun tetap saja rasanya seperti berinteraksi dengan seorang teman.
"Mom, Jennie sama Lisa itu punya ikatan yang murni sebagai saudara. Bahkan sebelum Jennie tau kalo Lisa adalah adiknya Jennie, Jennie udah ngerasa sayang sama dia. Jennie udah merasa terikat dan hal itu nggak pernah bisa Jennie rasain ke orang lain termasuk Rose, apalagi Yeri."
"Jennie!!!" Jennifer berdiri dan berteriak marah. Kesabarannya sudah hampir habis. Ia tak habis pikir mengapa sekarang Jennie menjadi seorang pembangkang. Padahal dulu Jennie adalah anak yang sopan, patuh dan penurut. Jennie tak pernah sekalipun melawannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Hate Hospitals
De TodoSistership Jennie x Lisa Jennie seringkali iri dengan kedekatan Jisoo dan Rose (adik kandung Jisoo). Jennie juga ingin memiliki adik. Ia berharap dengan hadirnya Lisa, ia bisa merasakan figur adik seperti yang Jisoo rasakan. Tapi nyatanya, Lisa tida...
