44. Birthday?

482 88 17
                                        

Lisa meletakkan dua paperbag di cantolan motornya dengan hati-hati. Yang berukuran sedang berisi kado untuk Jennie sementara yang lebih kecil berisi kue ulang tahun yang sudah ia pesan secara custom.

Ia melihat pantulan dirinya di jendela rumah tetangganya. Tidak terlalu buruk. Hari ini ia memakai celana jeans panjang berpadu dengan sweeter berwarna coklat muda yang membuatnya terlihat lebih kalem. Setidaknya pakaiannya sopan meskipun tidak mencerminkan seseorang yang hendak pergi ke pesta.

Lagipula, Jennie memintanya untuk memakai baju santai. Tidak perlu baju pesta atau apalah karena mereka hanya akan quality time berempat untuk merayakan ulang tahun Jennie.

Masih ada waktu satu jam sebelum waktu yang dijanjikan tapi Lisa memilih berangkat lebih awal. Suasana hatinya yang baik membuatnya spontan menyapa beberapa tetangga yang ia lewati padahal biasanya ia hanya tersenyum tipis atau hanya lewat begitu saja.

Cuaca sore ini cukup mendukung meskipun kemarin hujan turun seharian. Langit diselimuti banyak awan namun sinar matahari masih tampak menghangatkan.

Lisa mengendarai motornya dengan santai. Perjalanannya menuju rumah Rose hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit, jika ia mengendarai motor dengan kecepatan sedang.

Ngomong-ngomong soal rumah Rose, Jennie sebenarnya ingin merayakan quality time berempatnya di rumah Lisa namun Lisa dengan cepat menolak. Selain karena rumahnya sempit dan kurang nyaman, ia juga tak enak pada Jisoo jika harus bersenang-senang di rumah sempit Lisa. Ia takut Jisoo tak nyaman. Mereka juga belum cukup dekat meskipun Jisoo sudah mulai menganggapnya teman baik.

Sedang santai-santainya berkendara, Lisa mulai merasakan ada yang tidak beres dengan motornya. Alhasil ia memilih berhenti untuk sekedar mengecek.

Sial! Ban depannya mendadak kempes. Ini pasti terkena paku.

Lisa mengedarkan pandanganmya ke sekitar. Melihat-lihat siapa tahu ada tambal ban tapi sejauh matanya memandang Lisa tidak menemukan apa yang ia cari. Ia tak kehabisan akal, ia membuka ponselnya guna mencari tambal ban terdekat.

3km dari lokasi anda. 

Itu tandanya Lisa harus berjalan dulu sekitar 20 menit. Astaga ia bisa terlambat. Dan seolah semesta tak berpihak padanya, hujan deras mendadak turun membasahi sekitarnya. Lisa refleks berlari mencari tempat berteduh namun naasnya ia malah terpeleset karena menginjak kulit pisang.

"SIAPA YANG BUANG KULIT PISANG SEMBARANGAN?!" Teriaknya kesal. Ia tak peduli dengan tatapan orang-orang karena terhitung sudah dua kali dalam bulan ini ia harus jatuh hanya karena kulit pisang.

Lisa memaki saat posisi jatuhnya menindih paperbag. Ia berusaha segera bangun dan melihat ke dalam isi paperbag dan benar seperti dugaannya, kuenya sudah rusak, lebih tepatnya hancur. 

Menghela nafas panjang, Lisa mendirikan kembali motornya lalu berjalan pincang ke arah halte. Ia duduk sebentar untuk menenagkan diri. Dilihatnya telapak tangan dan lututnya yang berdarah. Bajunya lumayan basah. Celananya robek sedikit di bagian lututnya. Ia tak bisa ke rumah Rose dalam kondisi seperti ini. Mereka pasti khawatir.

Mata Lisa beralih pada dua anak pemulung yang berlari ke arahnya. Tubuh mereka lebih basah kuyup dibanding Lisa.

"Kak, setelah reda kita pulang aja yuk."

"Kamu aja ya yang pulang. Kakak lanjut bentar, nanggung ini hampir penuh," salah satu anak yang lebih tinggi membuka isi karung yang mereka bawa.

"Nggak papa kak lanjut besok aja ya. Ini lagi hujan nanti kakak sakit."

"Katanya kamu mau kue."

"Iya tapi nggak harus hari ini juga. Besok, minggu depan atau bulan depan juga nggak papa."

I Hate HospitalsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang