40. Janji?

613 90 5
                                        

Tumpukan snack di depannya tidak dapat membuatnya berhenti melamun begitu saja. Ia masih berusaha memproses apa yang terjadi beberapa hari belakang. Hidupnya mendadak berubah drastis dalam waktu seminggu dan ia membenci perubahan tersebut. Hari-harinya terasa berat namun ia bersyukur masih punya beberapa teman yang selalu saja berusaha menghiburnya seperti sekarang ini.

"Lisa." Lisa baru menoleh saat seseorang mengelus bahunya lembut mencoba menguatkannya lagi.

"Pilih. Lisa mau yang mana?" tanyanya dengan penuh perhatian.

"Yang ini aja kak," Lisa mengambil snack taro rasa rumput laut tapi dia malah mengembalikannya ke tempat semula.

"Pilih yang besar dong. Ada lagi?" tanyanya sambil menukar dengan snack yang lebih besar.

Lisa menggeleng pelan. Ia sungguh tidak berselera untuk berbelaja maupun memakan snack. Tadi saja ia memilih asal.

"Mau coklat atau eskrim?"

Lisa menggeleng lagi.

"Yaudah ayo."

Lisa pikir mereka akan menuju kasir tapi ternyata dia mengambil banyak eskrim dan meletakkannya ke dalam keranjang.

"Kok banyak banget kak?"

"Kamu kan lagi sedih. Katanya sih makanan manis bisa meningkatkan hormon bahagia," ujarnya sambil tersenyum tulus.

"Makasih ya kak. Kalian udah seberusaha itu buat ngehibur aku sementara aku---"

"Udah, gak usah dipikirin. Kakak sama yang lain itu gak suka kalo kamu sedih-sedih terus. Yaudah ayo kita bayar."

Setelah membayar belanjaan, hujan deras perlahan turun membuat mereka harus stay sebentar di depan minimarket.

"Yah kok hujan. Yang di rumah pasti ngomel nih kalo lama. Kacamataku burem ini kalo kena air hujan apalagi kita gak bawa helm."

"Yaudah aku aja kak yang nyetir."

"Emang kamu bisa?"

"Kan kakak udah ajarin aku."

"Iyasih. Yaudah ayo. Tapi pelan-pelan ya." Pasalnya Lisa masih belum legal untuk mengendarai sepeda motor. Lisa masih berusia 13 tahun tapi jalanan ini cukup sepi dan biasanya Lisa belajar motor di jalan ini jadi mereka tidak terlalu khawatir.

"Dilihat-lihat udah lancar nih." Pernyataan lega itu tak berlangsung lama karena tiba-tiba sebuah truk dari arah berlawanan melaju cepat ke arah mereka.

"Lisa awas!!!"

Lisa tersentak sambil membuka matanya. Ia menghela nafas panjang sambil mengusap air matanya yang jatuh. Lagi-lagi peristiwa itu membebaninya lewat mimpi yang akhir-akhir ini sering muncul sejak nama Yeri terdengar. Ia selalu diliputi rasa bersalah yang seringkali lebih besar dari traumanya terhadap rumah sakit.

Lisa bangun dari tidurnya sambil memegang dahinya yang ternyata tertempel cool fever. Mungkin Rose yang melakukannya karena tadi, di ujian terakhir badan Lisa mendadak demam dan Rose yang mengantarnya pulang. Akhir-akhir ini badannya memang kurang fit, bukan karena pusingnya menghadapi ujian sekolah tapi karena efek kurang tidur akibat mimpi-mimpi itu yang terus saja berulang dalam tidurnya.

Lisa menuju dapur berniat membasahi tenggorokannya dengan air tapi tak disangka di sana ada sosok yang dirindukannya sedang berkutat dengan bahan makanan.

"Heiiii. Udah bangun? Gimana perasaan kamu? Masih pusing?" Jennie melontarkan beberapa pertanyaan namun tangannya masih sibuk mengaduk sup.

Bukannya menjawab, Lisa malah memeluk Jennie erat, mencari sebuah kenyamanan hingga bebannya atas mimpi-mimpi tadi berangsur surut.

I Hate HospitalsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang