45. Sesak

556 115 9
                                        

Jennie ingin sekali marah namun sebisa mungkin ia tahan. Kedua orang tuanya itu sedang memberinya kejutan dan Jennie harusnya senang seperti tahun-tahun sebelumnya.

Ini memang rutinitas mereka setiap ada yang berulang tahun tapi mengapa Jennie malah lupa? Ia percaya saja jika orang tuanya tidak bisa pulang tepat di hari ulang tahunnya padahal sebenarnya mereka sedang menyiapkan kejutan untuknya. Ia hanya terlalu senang bisa merayakan ulang tahunnya bersama Lisa sampai-sampai ia lupa dengan kebiasaan orang tuanya.

"Selamat ulang tahun sayang." Jennifer memeluk anak semata wayangnya.

"Makasih mom."

"Sekarang make a wish," ujar Minho.

Jennie mengangguk, menautkan kedua tangannya dan memejamkan matanya.

"Semoga setelah ini. Hubungan aku dan Lisa semakin membaik dan mommy bisa nerima Lisa sebagai adik aku," doanya dalam hati. Setelahnya ia meniup lilinnya.

"Happy birthday ya sayang." Kali ini gantian Minho yang memeluk Jennie.

"HBD dokter. Aku bawa kado buat dokter tapi ketinggalan di mobil kayaknya," ujar Yeri setelah pelukan Minho terlepas.

"Makasih ya! Biar nanti aku suruh bodyguard yang ambil. Yaudah kita masuk yuk."

"Wowww ini kalian berdua yang nyiapain?"

Pikiran Jennie melayang pada kejadian beberapa jam yang lalu. Jujur ia bahagia namun sekaligus marah. Marah akan takdir yang lagi-lagi mempermainkannya.

Ia bingung bagaimana cara menjelaskannya pada Lisa nanti.

"Dokter."

"Ya?"

Jennie yang sejak tadi melamun, menoleh pada Yeri yang berdiri di ambang pintu kamar mandi. Mereka baru saja selesai makan malam dan Yeri hendak ke kamar mandi. Jennie tentu langsung mengantarnya.

"Aku panggilin dokter dari tadi loh."

"Maaf aku nggak denger."

Yeri mengangguk mengerti. "Maaf ya dok kalo aku ganggu quality time dokter."

"Nggak kok. Harusnya aku yang berterimakasih karena kamu cepet-cepet kabarin aku kalo mommy sama daddy mau ngasih kejutan. Aku nggak tau apa yang terjadi kalo Lisa nggak telat dateng. Pasti bakal ada pertengkaran besar di rumah ini dan Lisa bakal semakin ngejauhin aku."

Jennie mengusap air matanya yang tiba-tiba jatuh. "Sekarang juga kemungkinan besar Lisa lagi marah sama aku. Aku mau secepatnya ketemu Lisa tapi aku bingung harus jelasin gimana."

Yeri langsung memeluk Jennie untuk memberikan ketenangan. Ia juga mengusap lembut punggung Jennie.

"Sabar ya dok. Aku yakin masalah ini bakal selesai cepat atau lambat."

"Tapi sampe kapan Yer? Aku capek harus sembunyi terus tapi aku juga belum siap buat nentang mommy secara langsung. Aku takut mommy kenapa-napa."

"Sekarang yang terpenting adalah gimana cara dokter baikan sama Lisa dulu. Atau perlu aku bantu?"

Jennie melepas pelukan mereka. "Maksud kamu?"

"Apa tante sama om bakal nginep di sini?"

"Nggak mereka biasanya pulang."

"Yaudah dokter jangan nangis lagi ya," Yeri mengusap air mata Jennie. "Ketemu Lisanya pas mereka pulang aja."

"Caranya?"

"Nanti aku bakal beralasan nggak bisa tidur di rumah orang lain jadi aku minta dokter buat anter aku sekalian dokter nginep di rumah aku. Mereka pasti nggak bakal curiga. Eh bentar. Tapi dokter maunya ketemu Lisa malam ini atau besok pagi aja?"

I Hate HospitalsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang