"Li, kak Jen mana?" Rose menghampiri Lisa yang duduk sendirian di koridor kelas mereka."
Lisa mengendikkan bahunya, "Katanya tadi udah mau otw."
"Kapan kak Jen yang bilang?"
"Setengah jam yang lalu."
"Mungkin Jennie masih ngurusin Yeri. Soalnya tadi bilangnya mau mampir bentar ke rumah Yeri. Gak coba kamu telpon?" ujar Jisoo.
Lisa hanya menjawabnya dengan gelengan. Dia hanya takut menggangu Jennie namun Jisoo malah berpikir lain.
"Heran deh di situasi kayak gini masih aja gengsi buat telpon duluan," ujarnya sedikit kesal.
"Kak!" Rose menegur pelan Jisoo. Ia tak mau Jisoo dan Lisa malah bersitegang di sini. Hubungan mereka juga baru membaik sejalan dengan hubungan Jennie dan Lisa.
"Biar aku yang telpon," ujar Rose cepat.
"Handphonenya mati."
"Coba aku tanya Jay." Jisoo langsung mendial nomor Jay.
"Jay kamu lagi bareng Jennie kan? Jennie mana? Kok dia gak ke sini?"
"Iya nona. Di sini ada nyonya," ujar Jay pelan.
"Oh oke."
Jisoo tak perlu bertanya lebih jauh karena ia paham akan situasinya. Kekesalannya pada Lisa juga perlahan berubah menjadi rasa kasihan.
"Li, aku aja ya yang ngambilin raport kamu. Jennie gak mungkin bisa kesini."
"Kenapa?" Nada bicaranya biasa saja tapi Jisoo bisa menangkap raut kekecewaan di wajah Lisa.
"Ada panggilan mendesak dari dokter Sela. Mungkin Jennie diminta ngebantuin operasi," ujar Jisoo dengan lancarnya berbohong.
"Oh. Yaudah ayo." Lisa bangkit dari duduknya dan memasuki kelas bersama Jisoo.
Mereka di dalam hanya sekitar lima menit. Guru hanya memberikan beberapa pengarahan soal jalur masuk universitas.
"Peringkat satu paralel lagi, kan?" tanya Rose antusias saat Lisa dan Jisoo sudah keluar kelas.
Lisa hanya mengangguk sambil memasukkan raportnya ke dalam tas.
"Lo tuh ya gak ada antusias-antusiasnya dapet peringkat satu."
"B aja sih."
Selain karena sudah biasa mendapatkan nilai yang memuaskan, suasana hati Lisa juga tidak memungkinkan untuk berbahagia hanya karena mendapatkan peringkat satu. Ia terlanjur badmood akibat ketidakhadiran Jennie meskipun ia berusaha bersikap biasa saja. Ia ingin menyangkal jika ia kecewa tapi hatinya berkata lain.
"Yaudah ayo pulang." Rose merangkul bahu Lisa.
"Rose, gue masih ada urusan."
"Urusan apa? Lo gak bawa motor kan hari ini?"
"Ada urusan penting. Gue gak bisa cerita sekarang. Gue duluan ya. Kak duluan ya. Makasih udah mau ambilin raport aku."
"Iya sama-sama."
Setelah mendengar jawaban Jisoo, Lisa langsung melepas rangkulan Rose dan berlalu pergi.
"Eh Li. Lisa! Ih kebiasaan banget sih!"
"Udahlah nanti Lisa pasti cerita kok. Kita cari makan aja yuk."
"Okee aku pingin omakase."
....
"Loh, dokter gak jadi ambil raport?"
Yeri sedikit terkejut saat Jennie kembali masuk bersama Jennifer. Ia bisa melihat air muka Jennie yang berubah seratus delapan puluh derajat dari beberapa menit lalu, saat Jennie berpamitan untuk keluar. Senyumnya dipaksakan dan matanya sedikit sembab.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Hate Hospitals
RandomSistership Jennie x Lisa Jennie seringkali iri dengan kedekatan Jisoo dan Rose (adik kandung Jisoo). Jennie juga ingin memiliki adik. Ia berharap dengan hadirnya Lisa, ia bisa merasakan figur adik seperti yang Jisoo rasakan. Tapi nyatanya, Lisa tida...
