"Li." Rose terus mengekori langkah Lisa menuju parkiran. Ia khawatir dengan kondisi Lisa karena sejak tadi yang ia lihat Lisa hanya diam dan sering melamun.
"Lo yakin lo baik-baik aja? Pulang bareng gue aja yuk. Motor lo taruh sini aja."
"Gue gak papa."
"Li." Rose menahan motor Lisa yang hendak melaju.
Lisa menghela nafas. "Gue mau pulang Rose."
"Lo masih khawatir ya sama kak Jen? Gue telponin kak Jen ya. Biar lo lebih tenang."
"Gak perlu. Gue duluan." Lisa segera melajukan motornya meninggalkan parkiran. Ia tidak memperdulikan Rose yang memanggilnya berkali-kali.
Ya. Rose benar. Ia memang masih mengkhawatirkan Jennie. Telepon semalam sebenarnya tidak cukup. Ia butuh bertemu Jennie secara langsung. Ia butuh melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Jennie benar-benar baik-baik saja.
Tapi ia tak mau mengganggu Jennie. Jennie pasti lelah mengurus operasi pasien kemarin. Mungkin saja hari ini Jennie masih melanjutkan tugasnya. Atau mungkin juga Jennie sekarang sudah berada di rumah dan beristirahat hingga sampai siang ini Jennie tak sempat menghubungi Lisa. Apapun itu Lisa berharap semoga Jennie baik-baik saja. Lisa hanya perlu menunggu sampai nanti malam. Jika sampai nanti malam Jennie belum menghubunginya, ia akan menghubungi Jennie lebih dulu.
"Hai Li!" Suara riang itu membuat Lisa mau tak mau harus menghentikan motornya.
Jennie?
"Gak gak mungkin. Kayaknya gue terlalu mikirin Jennie deh sampe halu gini." Lisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa geleng-geleng gitu? Makan siang bareng yuk. Kakak laper."
Jennie langsung naik ke boncengan Lisa sementara Lisa masih memproses apa yang terjadi.
Tinnnn tinnn tinnnnn
Suara klakson yang bersahutan berhasil menyadarkan Lisa. Ia langsung melajukan motornya lagi agar tidak menghambat jalan siswa lain.
"Kamu kenapa bengong sih Li," Jennie kembali berbicara sambil memeluk adiknya. Padahal kemarin mereka bertemu. Tapi rasanya, jarak mereka kembali jauh karena pertengkaran kemarin. Itulah yang membuat Jennie buru-buru menghampiri Lisa saat shiftnya berakhir.
"Kamu kaget ya liat kakak tiba-tiba muncul?"
"Iya eh nggak."
Jennie tertawa kecil mendengar jawaban gugup Lisa. "Ya maaf kalo kakak bikin kamu kaget."
Lisa tak menjawab. Ia hanya melirik kaca spion sambil tersenyum senang. Orang yang dikhawatirkannya sekarang berada di dekatnya. Bohong jika ia tak merasa lega.
"Kamu senyum?"
"Ah nggak. Lo mau makan apa?" Lisa berusaha mendatarkan mimik wajahnya dan mengalihkan topik. Ia juga membenarkan posisi spionnya agar Jennie tak bisa melihat wajahnya lagi.
Jennie terkekeh pelan. Ia jadi gemas sendiri pada adiknya yang gengsian itu.
"Sesuai rekomendasi kamu aja."
.....
Lisa memarkirkan motornya di parkiran pasar. Tapi ini bukan pasar yang kemarin. Suasana di sini jauh lebih ramai karena merupakan pasar induk.
"Kamu mau beli sesuatu?"
Lisa menggeleng. "Lo mau bakso?"
"Mau," ujar Jennie mengangguk antusias.
"Yaudah ayo."
Bibir Lisa tersungging. Kali ini ia tidak bisa menyembunyikannya. Ia mengengam tangan Jennie dan menuntunnya memasuki pasar.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Hate Hospitals
De TodoSistership Jennie x Lisa Jennie seringkali iri dengan kedekatan Jisoo dan Rose (adik kandung Jisoo). Jennie juga ingin memiliki adik. Ia berharap dengan hadirnya Lisa, ia bisa merasakan figur adik seperti yang Jisoo rasakan. Tapi nyatanya, Lisa tida...
