46. Kecewa lagi

564 96 13
                                        

Semua orang berdiri dan beranjak keluar saat mobil Kookie memasuki pekarangan rumah. Jennie sendiri langsung berlari ke arah Kookie yang sedang membuka pintu samping mobil dan berusaha menggendong Lisa.

"Li-lisa," suara Jennie tercekat melihat kondisi Lisa yang tak sadarkan diri.

"Lisa kenapa, Kook?" 

"Lisa mabuk, bund."

"Kok bisa?"

Kookie membawa Lisa ke kamar dan meletakkannya perlahan di atas kasur.

"Lisa salah minum aja. Kata mbaknya, Lisa pesen cola tapi pas minum dia salah ambil."

"Kak, kak Jeennn. Kakak kok tega banget sih phpin aku terusss," racau Lisa.

Jennie menggeleng. Ia menjatuhkan dirinya di lantai, tepat di sebelah tempat tidur Lisa. Tangannya yang gemetar berusaha menggenggam tangan LIsa. Ia mengelusnya lembut lalu meletakkannya di pipinya. AIr matanya berjatuhan sejak tadi. Dadanya semakin sesak melihat kondisi Lisa yang seperti ini.

Ia tahu Lisa tidak sengaja mabuk. Tapi ia yakin, Lisa pasti sampai salah minum karena pikirannya kurang fokus dan penyebabnya jelas-jelas karena dirinya.

"Nggak sayang. Kakak nggak pernah bermaksud buat phpin kamu."

"Nak, ayo bangun. Jangan duduk di lantai gitu." Airin berusaha membawanya berdiri namun Jennie masih setia di tempatnya. Kini Airin berjongkok, mengelus pundak Jennie dan memeluknya sekilas. Jennie pasti merasa sangat bersalah melihat kondisi Lisa yang seperti ini.

Awalnya Airin bingung siapa tamu yang berani-beraninya bertamu ke rumahnya tengah malam seperti ini, tapi setelah ia membuka pintu dan melihat bagaimana Jennie berdiri di depan rumahnya, perasaannya mendadak berubah tak nyaman. Ia melihat Jennie yang menangis dan ia langsung tahu jika anaknya yang lain pasti sedang tidak baik-baik saja. Ya, anak itu adalah Lisa. Anak yang sejak dulu sudah ia anggap sebagai bungsu di rumah ini. 

"Besok, keadaan Lisa pasti membaik. Ini cuma efek alkohol aja, nak."

"Jennie ngecewain Lisa, tante," tangis Jennie semakin pecah dan Airin kembali memeluk Jennie. Kali ini lebih lama hingga tangis Jennie benar-benar reda.

"Ini bukan sepenuhnya salah kamu, nak. Udah ya. Sekarang kamu bangun dan tidur di samping Lisa. Kamu pasti capek daritadi nangis karena khawatirin Lisa. Tante mau gantiin baju Lisa dulu."

"Biar Jennie aja tan," ujarnya sambil berusaha bangkit dari duduknya.

"Yaudah tante ambilin lapnya dulu ya. Bajunya kamu ambil di lemari. Kamu juga kalau mau ganti baju gak papa pake baju Lisa aja. Di lemari ada beberapa baju baru yang belum sempet Lisa pake. Ayo sayang keluar," ajaknya pada Kookie.

"Iya makasih, tan."

"Kalau ada apa-apa gue sama Jay ada di kamar sebelah," ujar Kookie sebelum pintu tertutup.

Jennie mengangguk. Ia beranjak menuju lemari baju Lisa. Ia kira, ia akan menemukan baju-baju dominan hitam seperti yang ia temui di rumah Lisa namun perkiraannya ternyata salah. Baju-baju Lisa di sini dominan berwarna kuning cerah seolah menunjukkan bahwa di sini, di rumah ini, Lisa bisa menjadi apa adanya selayaknya manusia biasa tanpa harus bergelut di tengah gelapnya kesendirian dan penyiksaan. Lisa jelas bahagia di rumah ini.

Memikirkan hal itu lagi-lagi membuat Jennie meneteskan air matanya. Lisa sangat diterima di sini, berbeda dengan di rumah Jennie. Apa selama ini ia egois memaksa Lisa untuk masuk ke dalam kehidupannya hanya karena ia sangat mendambakan seorang adik? Ia selalu mengabaikan penolakan Lisa, mengabaikan perasaan Lisa yang terbebani oleh kehadirannya.

I Hate HospitalsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang