Rival

143 16 0
                                        

Farhanna terus menerus mendatangi rumah nenek mertuanya, namun nenek itu tidak lagi membuka pintunya.

Entahlah, mungkin dia sudah muak atau apa. Pokoknya meski dipanggil terus menerus pun dia tak pernah keluar.

Alhasil Farhanna mulai memikirkan sebuah ide yang bisa memancing wanita tua itu keluar dari rumah.

Ia membawa bibit tanaman buah naga dan jeruk purut, tak lupa ia membawa cangkul agar bisa menanamkan bibit itu di halaman rumah nenek mertuanya.

Tanpa perlu fikir panjang, Farhanna mulai mencangkul tanah dan menanamkan bibit itu.

Dia sengaja mencangkul tanah dengan cukup keras, yah supaya si nenek keluar tujuannya mah. Siapa tau dengan ngelakuin hal ini dia--

"Kamu sedang melakukan apa di halaman rumah saya!?"

Tuh kan, apa gue bilang. Tuh nenek-nenek pasti kepancing.

Bibir Farhanna sedikit tersenyum tipis penuh kepuasan, senyum orang yang akhirnya berhasil memancing targetnya keluar sarang.

"Saya lagi mancing nek." Jawab Farhanna sambil tersenyum tengil.

Mendengar hal itu, si nenek nampak makin kesal, "Gak lucu, saya nanya serius malah dijawab bercanda."

Farhanna buru-buru memasang ekspresi polos, seolah benar-benar tersinggung. "Loh, emang gak lucu, Farhanna kan lagi gak ngelawak.  Orang beneran kok Farhanna lagi mancing," katanya, lalu berhenti sejenak. cukup lama untuk sengaja mengukir senyum tengil yang lebih jelas.

"Mancing emosi nenek maksudnya."

Setelah itu dia terkekeh kecil, tawa pendek yang terdengar seperti ejekan sopan.

Mata si nenek langsung terbelalak. Kurang ajar sekali gadis di hadapannya itu. Berani-beraninya bicara seperti itu, padahal jelas-jelas yang sedang dia hadapi adalah nenek mertuanya sendiri.

Kalo gak bisa ngedekatin lewat cara baik-baik, yaudah tinggal pake cara yang buruk.

Supaya sosok Farhanna bisa membekas di benak fikiran nenek itu, mungkin Farhanna membekas di ingatan buruknya. Tapi gapapa, daripada gak di inget sama sekali.

"Kamu fikir ini tanah milik bapak kamu yang bisa kamu tanamin apapun sesuka hati?" Geram si nenek, kini dia sudah berdiri tepat di samping farhanna yang tengah jongkok.

"Bukan tanah milik bapak, tapi milik nenek mertua."

Si nenek menggertakkan giginya, keras kepala sekali anak ini. Sudah berapa kali bilang gak punya anak, tetep aja maksa.

Tapi, si nenek tak jadi berkomentar seperti itu, soalnya teringat jelas jawabannya pada tempo hari.

"Kalo kepala saya empuk, mungkin udah kebawa angin dari dulu."

Seperti itulah jawabannya ketika dikatain keras kepala. Jadi si nenek mengurungkan niatnya untuk berkomentar.

Menit pun terus berlalu, Hening, tanpa disadari si nenek terus memperhatikan pergerakan Farhanna ketika menanam tanaman.

"Nenek pasti mau nanya,". Ucapnya dengan santai sambil terus mencangkul, "Kenapa Farhanna pilih pohon buah naga sama jeruk purut buat ditanem di rumah nenek."

Seketika ekspresi si nenek langsung berubah sinis, tiba-tiba banget ngomong begitu, emang ada yang nanya? peduli juga enggak.

"Sa--"

"Iya, Nek,” Farhanna langsung motong, "alasannya karena buah naga itu—"

Ia berhenti sebentar, menepuk tanah di sekitar bibit seolah lagi presentasi serius.

Menikahi 5 pria?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang