Bab 35

1.7K 542 39
                                        

Guys... aku terkejut, ternyata banyak pembaca baru di sini. Byk yang DM bisa baca full cerita ini di mana? 

Yang paling lengkap + special part ada di Karyakarsa ya. 

Untuk full seperti isi buku ada ebook di google playbook.

Buat yang nanya, apakah bukunya masih dijual? Buku Jejak Dusta ini udah lama sold. Dan untuk cetak ulang harus memenuhi kuota tertentu. Jadi, aku biasanya cetak sesuai permintaan olshop aja. 

Dan, fyi, aku nggak pernah jualan pdf ya manteman... jika ada yang nawarin pdf udah pasti itu bajakan. 


.

.

Rani masih menangis, menelungkup menutupi wajahnya dengan bantal ketika mendengar pintu kamarnya terbuka.

Jantung Rani berdetak keras. Itu pasti Guntur, dan Rani tak akan membalik badannya sedikit pun!

"Ran..." tubuh Rani yang tegang langsung lemas kecewa, yang memanggil adalah Bi Sri. Rani berusaha mengusap-usap wajahnya ke bantal sebelum berbalik perlahan.

Bi Sri berdiri di pinggir ranjang tanpa Melani.

"Melani mana Bi?"

"Di rumah dijaga Tini. Guntur tadi telepon suruh Bibi masakin. Kamu sakit apa? Apa kata bidannya?" cecar Bi Sri dengan raut wajah khawatir.

"Bang Guntur... telepon Bibi?" Bi Sri mengangguk, dan sialnya Rani malah ingin memeriksa ponselnya apakah Guntur juga menghubunginya. "Terus Bang Guntur nggak ada bilang apa-apa lagi?"

"Bibi disuruh tanya kamu mau makan apa? Kamu mau dimasakin apa?"

Rani menatap lemah, sama sekali tak berselera makan. Perlahan tangannya terulur meraih pouchnya, dan mengambil ponsel dari dalamnya, ketika Rani menghidupkan layarnya, sama sekali tak ada panggilan dari Guntur di sana.

Hatinya kian teriris-iris pedih.

Dan bendungan air di sudut matanya nyaris kembali jebol.

"Bi... Aku bener-bener mau istirahat aja. Bibi pulang aja ya. Jaga Melani. Nanti aku masak sendiri."

"Kamu Yakin?"

Rani mengangguk yakin.

"Beneran kuat masak?"

"Iya Bi."

"Atau biar Bibi masakin dulu ya?"

Rani tetap menggeleng. "Nggak usah Bi. Aku mau tidur aja." Rani tak lagi ingin berdebat, entah apa yang akan dilakukan Bi Sri dia hanya langsung merebahkan dirinya lagi dan menangis dalam diam.

Berselang cukup lama ketika Rani mendengar pintu kamarnya tertutup.

***

Pickup Guntur diberhentikan begitu saja di tengah ladang sawit yang sepi, dan Guntur mengusap-usap wajahnya kasar.

Guntur tahu tindakannya sangat berengsek dan pengecut. Tapi dia betul-betul perlu ruang untuk menenangkan diri.

Rani hamil?

Ada ketakutan besar yang kian menggeroti, yang bahkan menghapus seluruh rasa bahagia pada sisi hati Guntur yang lain ketika mengetahui dia akan punya anak.

Jika Rani punya anak otomatis Rani akan meninggalkan jejak, dan seluruh keluarga besar Rani akan menghardik wanita itu, membentengi Rani agar tak berdekatan dengan Guntur seperti yang dahulu keluarga Rani lakukan. Dan hal itu sudah sangat terbaca oleh Guntur. Guntur sudah sangat pengalaman dengan hal itu. Keluarga Rani hanya akan menganggapnya lebih hina dari hama mematikan dan harus segera disingkirkan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 11 hours ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Jejak DustaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang